Tautan-tautan Akses

Chris Doten mengetahui betapa bahayanya bagi aktivis demokrasi dan jurnalis yang sedang bekerja di bawah rezim otoriter.

Sebagai manager teknologi digital di National Democratic Institute, LSM nonpartisan yang mendukung transparansi dan keterbukaan dalam pemerintahan, tugas Doten adalah untuk membantu jurnalis dan pendukung pro-demokrasi melindungi privasi mereka dari penyadapan pemerintah saat mereka online.

“Kami bergerak di tengah masyarakat yang relatif tertutup,” ujar Doten. "Banyak situasi bahaya dan kami selalu mencoba memperhatikan risiko yang ada bagi orang-orang yang bekerja dengan kami.”

Risiko-risikonya antara lain penggerebekan pemerintah, penyitaan komputer, pencurian data melalui malware dan paparan narasumber, penduking dan email pribadi. Pelanggaran-pelanggaran tersebut dapat menyebabkan penangkapan, pengusiran atau hal yang lebih buruk.

Namun menurut Doten, ada solusi digital yang dapat membantu semakin banyak jurnalis dan yang lainnya di seluruh dunia menjaga aktivitas daring mereka.

Solusi ini bernama “Tails,” dan “Tails” membuatnya mudah bahkan bagi individu yang paling gagap teknologi untuk melindungi komunikasi dan aktivitas internet mereka dari pemerintah manapun di dunia.

Keuntungan sistem 'live'

“Tails” adalah singkatan dari The Amnesic Incognito Live System.

Dalam istilah komputer, sebuah sistem "live” adalah sistem operasi yang berdiri sendiri dan berjalan sendiri menggunakan DVD atau USB.

Karena sistem "live" hanya bergantung kepada muatan memori komputer (RAM), berkas sistem operasi tidak tersimpan di mana-mana.

Setelah terunduh ke USB, pengguna cukup menancapkan ke komputer manapun dan menyalakannya.

Ketika dikeluarkan, sistem "live" Tails sama sekali tidak meninggalkan jejak keberadaannya karena komputer sama sekali tidak memiliki memori bahwa Tails pernah digunakan.

Tails juga menggunakan jaringan anonim Tor untuk semua koneksi internet – sehingga Tails tidak terhubung dengan identitas pengguna.

Salah seorang pengguna Tails yang meminta agar namanya tidak disebut atas alasan kemanan, mengatakan kepada VOA bahwa tujuan mereka adalah untuk menciptakan alat yang “mengkombinasikan keamanan yang tidak hanya kokoh tapi juga dapat tersedia bagi banyak orang.”

Awalnya, pengembang menyadari bahwa sistem "live" atau Tor dengan sendirinya tidak cukup untuk menyembunyikan identitas dan aktivitas online pengguna. Namun, ketika dua-duanya digunakan, developer tersebut mengatakan, mereka dapat menciptakan perisai yang tangguh.

Informasi identitas

“Semua jenis informasi indentitas dapat dibocorkan, bahkan melalui Tor, seperti jejak peramban Anda, nama mesin atau pengguna atau metadata dari dokumen Anda,” ujar pengambang tersebut. “Sistem-sistem 'live'… sama sekali tidak meninggalkan jejak di komputer.”

“Meskipun Tor dapat melindungi Anda dari seseorang yang menyerang jaringan Anda, Tor tidak bisa melindungi Anda dari penyerang yang bisa mengakses komputer anda, menganalisa isnya, seperti yang dapat dilakukan pemerintah yang menindas, atau atasan Anda,” ujar developer tersebut.

“Karena sistem-sistem 'live' bergantung kepada RAM, ketika Anda mematikannya, semua jejak aktivitas otomatis menghilang dari komputer,” tambah pengembang tersebut.

Baik Doten dan pengembang Tails mengatakan bahwa meskipun Tails menyediakan privasi yang cukup baik dengan sendirinya, Tails juga memiliki sejumlah aplikasi keamanan tambahan yang dapat diakses dengan mudah oleh pengguna.

“Tails juga memungkinkan banyak enkripsi – seperti enskripsi end-to-end melalui PGP langsung - namun ini tidak otomatis,” ujar Doten.

“Ada juga klien percakapan multi-protokol yang dapat berbicara dengan Facebook, Google Chat, dan Pidgin. Jadi, orang-orang dapat menggunakan Tails, lalu menambahkan PGP atau Pidgin sementara orang lain menggunakan alat tambahan di sisi sebaliknya.”

Ini dan alat-alat lainnya - seperti GnuPG untuk melakukan enkripsi email, dompet Electrum Bitcoin dan KeePassX untuk menyimpan kata kunci - memungkinkan pengguna untuk menyusuaikan level privasi dan tingkat anonimitas.

“Tails, pada akhirnya, akan menyediakan sistem operasi; apa yang terjadi setelah itu, terserah Anda,” ujar Doten.

Penggunaan beragam 'Tails'

Tails bukan teknologi baru; versi pertama diluncurkan sekitar lima tahun yang lalu.

Karena Tails gratis dan kebanyakan digunakan oleh individu yang ingin tetap anonim, pengembang Tails mengatakan kepada VOA bahwa sangat sulit untuk mengetahui dengan pasti siapa atau berapa banyak orang yang menggunakan sistem tersebut.

Apa yang diketahui adalah bahwa semakin banyak jurnalis dan organisasi advokasi seperti NDI tempat Doten bekerja yang secara terbuka memelopori penggunaan Tails.

“Saya cukup yakin dari 100 lebih orang yang saya beri pelatihan PGP, nol menggunakannya secara rutin,” Doten memberitahu VOA. “Tails jauh lebih mudah dan sederhana bagi banyak orang.”

“Mitra kami menganggap Tails seperti lingkungan kerjanya: Tails memungkinan Anda melakukan apa yang harus Anda lakukan untuk pekerjaan Anda,” tambahnya.

Wartawan Tanpa Tapal Batas, LSM nirlaba yang mendorong kebebasan pers, juga menyarankan Tails bagi jurnalis yang perlu melindungan identitas narasumber mereka.

Aktivis Tibet menggunakan Tails untuk mendokumentasi pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah China dengan aman. Kelompok-kelompok yang bekerja keras untuk melawan kekerasan dalam rumah tangga, seperti Transition House dan Emerge, sekarang menggunakan Tails untuk melaporkan kekerasan dan melindungi identitas korban.

“Saya terutama ingin memastikan saya membawanya ketika sedang berpergian,” ujar Farad Desmukh, seorang wartawan investigatif yang berbasis di Karachi. “Pakistan benar-benar bukan tempat yang paling aman untuk jurnalis.”

Pendukung 'Tails'

Mungkin dukungan terbesar bagi Tails datang di tahun 2013, ketika mantan kontraktor NSA, Edward Snowden bersikeras meminta jurnalis Glenn Greenwald dan Laura Poitras untuk menggunakannya sebelum ia menyetujui untuk memperlihatkan dokumen apapun mengenai program pengawasan NSA yang sudah ia kumpulkan.

Seperti aplikasi enkripsi atau anonimitas lainnya, Tails dapat digunakan untuk kejahatan maupun kebaikan.

Perlindungan yang solid dapat membantu melindungi aktivis hak asasi manusia bisa juga digunakan oleh peretas, gerombolan-gerombolan kriminal, bahkan teroris untuk menyembunyikan aktivitas online mereka.

Walaupun ia mengakui bahwa hal itu sangat mungkin, Doten mengatakan bahwa hal yang seharusnya dikhawatirkan adalah seberapa sering aktivis online, jurnalis dan orang lain yang bekerja keras untuk menyebarkan demokrasi ditarget di dunia maya dan kemudian dihukum atas aktivitas mereka.

Saya terus terang terkejut dengan kondisi keamanan digital di antara wartawan-wartawan di AS; orang-orang yang menghadapi bahaya nyata yang mereka dapat saksikan baik secara eksternal maupun internal,” ujarnya.

“Faktanya, kantor-kantor redaksi di negara ini - bahkan bagi media besar -kurang banyak berinvestasi dalam hal ini, dan menurut saya ini adalah kejahatan sebenarnya,” ujar Doten.

XS
SM
MD
LG