Tautan-tautan Akses

Anjing Terlatih Khusus Bantu Selamatkan Nyawa Manusia di Lokasi Bencana


Saat gempa dahsyat melanda Haiti, Jepang dan Nepal, tim SAR Amerika berada di sana bersama anjing-anjing mereka yang terlatih khusus untuk menemukan korban. Mereka juga salah satu yang pertama tiba di lokasi saat Badai Katrina dan Sandy menghancurkan beberapa bagian AS.

Ron Sanders dan anjing Labrador-nya yang berusia enam tahun, Pryse, adalah bagian dari tim AS yang langsung dikirim ke Nepal untuk membantu menemukan korban yang selamat.

Sanders, seorang petugas pemadam kebakaran yang sudah pensiun, kini anggota Tim SAR Perkotaan Fairfax County di Virginia. Ia mengatakan Pryse dan anjing khusus lainnya adalah bagian penting dari tim SAR karena beberapa alasan.

Pryse, seekor anjing Labrador Retriever dengan tim SAR dari Virginia, mencari korban yang selamat setelah gempa di Nepal pada bulan April 2015. (Kredit: Fairfax Fire & Rescue)

Pryse, seekor anjing Labrador Retriever dengan tim SAR dari Virginia, mencari korban yang selamat setelah gempa di Nepal pada bulan April 2015. (Kredit: Fairfax Fire & Rescue)

“Anjing-anjing ini punya daya cium yang luar biasa," ujarnya, "jadi mereka bisa dengan cepat menentukan di mana bau berasal dan menunjukkan pada kami di mana kami harus menggali.”

Anjing-anjing tersebut juga bisa menelusuri gedung-gedung yang runtuh dengan cepat dan melewati tempat-tempat sempit untuk menemukan korban.

Bagi anjing-anjing ini, misi penyelamatan, yang sungguhan ataupun latihan, adalah petualangan yang menyenangkan. "Mereka ingin mencari seseorang, bermain dengannya," kata Sanders.

Tapi menjadi anjing penyelamat adalah urusan serius. Untuk mendapatkan sertifikat, anjing-anjing itu harus melalui latihan keras yang bisa berlangsung selama 12 bulan.

Yang membantu mereka melaksanakan tugas itu adalah latihan terus-menerus.

Mereka melakukan latihan itu sebagian besar di lapangan luas di Lorton, Virginia, kawasan bekas penjara yang dibuat seperti lokasi bencana. Di tempat itu, anjing-anjing ini belajar untuk mengikuti sinyal tangan dan perintah suara sementara berlari-lari di papan kayu yang sempit, naik turun tangga, dan menelusuri lahan yang sulit untuk mencari korban yang selamat.

Menemukan satu korban selamat adalah ganjaran utama.

"Jadi kita mencari kemampuan anjing-anjing untuk bermain, kepintarannya, dan kelincahannya," kata Sanders, "karena kita akan meminta mereka untuk memanjat benda-benda yang tidak biasa dipanjat oleh anjing."

Anjing-anjing itu juga dilatih di helikopter yang disediakan oleh Divisi Penerbangan Polisi Taman AS. Alasannya, kata Sanders, adalah saat melakukan misi, kadang-kadang jalan tidak bisa dilewati, "Helikopter mungkin satu-satunya cara untuk tiba di lokasi bencana."

Anjing SAR dan pelatihnya diangkat ke helikopter sebagai bagian latihan di Divisi Penerbangan Polisi Taman AS di Washington, 11 Juli 2015. (Kredit: Julie Taboh)

Anjing SAR dan pelatihnya diangkat ke helikopter sebagai bagian latihan di Divisi Penerbangan Polisi Taman AS di Washington, 11 Juli 2015. (Kredit: Julie Taboh)

Anjing-anjing itu diajarkan untuk masuk dan keluar helikopter ketika berada di daratan dan saat terbang, agar mereka terbiasa dengan suara ributnya, getaran dan tekanan udara.

Mereka kemudian diangkat dari daratan dengan harness atau tali khusus sambil digendong oleh pengurus mereka sementara keduanya diangkat dan diturunkan ke helikopter.

“Latihan ini mengajarkan mereka untuk mempercayai kami dan tahu bahwa semuanya baik-baik saja," kata Sanders.

Intinya adalah kepercayaan, kata Sanders, rasa percaya antara pelatih dan anjingnya, yang akan berada di lokasi bencana, sudah terlatih dan siap untuk menghadapi saat penting itu untuk membantu menyelamatkan nyawa.

XS
SM
MD
LG