Tautan-tautan Akses

Ancaman Penyalahgunaan Nuklir Semakin Besar


Khairul, Pakar Teknis bidang Proteksi Fisik Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)

Khairul, Pakar Teknis bidang Proteksi Fisik Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)

Para pemimpin dari lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, bertemu dalam KTT Keamanan Nuklir yang berlangsung mulai Kamis. Pertemuan itu diadakan di tengah meningkatnya kekhawatiran penyalahgunaan bahan-bahan nuklir oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

Awal bulan Maret, pihak berwenang Irak menuduh ISIS menembakkan roket yang dilapisi bahan kimia di dekat kota Kirkuk, melukai hampir 600 orang. Akibatnya akan lebih gawat lagi apabila teroris memiliki bahan-bahan nuklir.

Michaele Dodge dari Heritage Foundation mengatakan, “Bahan nuklir yang rentan bisa digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir yang terlarang, bisa digunakan untuk membuat bom rakitan, dan menimbulkan serangkaian isu apabila jatuh ke tangan non-negara. Maka, itu adalah ancaman serius.”

Ancaman yang tidak kalah seriusnya, adalah kemungkinan nuklir disalahgunakan oleh orang dalam. Seperti yang disampaikan Khairul, Pakar Teknis Bidang Proteksi Fisik dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Dia menyampaikan hal itu kepada VOA hari Kamis (31/3) di sela-sela KTT Industri Nuklir, yang diadakan bersamaan dengan KTT Keamanan Nuklir.

“Dalam keamanan nuklir yang dihadapi bukan hanya musuh dari luar atau external threat, yang dikhawatirkan saat ini adalah musuh dari dalam atau insider threat yang bisa berasal dari pegawai yang tidak puas, disgruntled employees, atau orang dalam yang dimanfaatkan oleh ancaman dari pihak luar,” kata Khairul.

Menurut Khairul, pencegahan ancaman dari dalam dapat dilakukan dengan menerapkan pedoman budaya keamanan nuklir dan program kehandalan manusia (trustworthiness).

Pengamanan bahan nuklir agar tidak disalahgunakan menjadi salah satu fokus utama pembicaraan para pemimpin dunia dalam KTT Keamanan Nuklir 2016 yang berlangsung dua hari.

Presiden AS Barack Obama membuka KTT Keamanan Nuklir yang keempat dan terakhir di Washington hari Kamis, mengakui bahwa dunia tetap menghadapi ancaman perkembangan senjata nuklir Korea Utara dan kemungkinan bahwa kelompok militan ISIS bisa meledakkan bom radiaktif.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Berbicara kepada wartawan di Washington Kamis siang, Wapres mengatakan para pemimpin dunia harus bekerja sama dalam mengamankan nuklir.

“Intinya adalah kita ingin menciptakan suatu sistem bagaimana pengamanan dari nuklir itu. Walaupun nuklir itu untuk tujuan damai, tapi bahan-bahannya bisa diselewengkan, dipakai tidak benar. Untuk menjaga keamanannya harus dibicarakan bersama,” katanya.

Kamis malam JK dijadwalkan menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden AS Barack Obama sambil membahas soal ancaman keamanan nuklir. [vm/al]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG