Tautan-tautan Akses

Setahun Perjanjian Nuklir Iran, Para Pihak Masih Patuh Namun Waspada


Gedung reaktor Pembangkit Listrik Nuklir Bushehr di Iran. (Foto: dok.)

Gedung reaktor Pembangkit Listrik Nuklir Bushehr di Iran. (Foto: dok.)

Setahun silam, para diplomat dari Iran dan sebuah kelompok terdiri dari enam negara berpengaruh dunia mengakhiri pertemuan di Wina, Austria, dengan hasil perjanjian komprehensif yang membatasi program nuklir Iran, sebagai imbalan atas pencabutan sanksi-sanksi ekonomi yang keras.

Perjanjian yang merupakan hasil perundingan dua tahun itu kini masih berlaku dan ada dampak nyata pada beberapa komponen utamanya. Akan tetapi, masih ada kecurigaan dari kedua pihak bahwa pihak lain mungkin sekadar memanfaatkan perjanjian itu dan tidak memenuhi tanggung jawab mereka.

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry Kamis (14/7) menyatakan perlunya melanjutkan penerapan perjanjian itu. Seorang utusan khusus telah ditunjuk dengan tugas memimpin satu tim yang akan memastikan perjanjian tersebut terus dipatuhi, jelas Kerry.

Perundingan itu terjadi karena kekhawatiran negara-negara Barat sejak tahun 2002 bahwa Iran sedang mengupayakan pembuatan senjata nuklir, yang berulangkali dibantah Iran.

PBB menerapkan sanksi-sanksi, sementara Amerika dan Uni Eropa memberlakukan langkah-langkah untuk menekan Iran agar meninggalkan ambisi senjata nuklirnya. Iran meneruskan aktivitas nuklirnya, terutama yang berfokus pada pengayaan uranium, sementara sanksi-sanksi tersebut sangat memukul perekonomiannya.

Setelah perjanjian diberlakukan, Iran menyingkirkan ribuan centrifuge yang digunakan untuk memperkaya uranium dan sisa cadangan uraniumnya yang sangat banyak. Negara-negara besar dunia mencabut sanksi-sanksi mereka, mengucurkan kembali miliaran dolar untuk Iran dan memuluskan jalan untuk membuka peluang bisnis baru di sana.

Tetapi selama 12 bulan ini, para pejabat dari kedua pihak, terutama dari Iran dan Amerika, telah membicarakan tentang perjanjian tersebut dengan pernyataan yang berkisar mulai dari kecurigaan hingga penolakan langsung.

Presiden Iran Hassan Rouhani Rabu menyatakan apabila negara-negara kuat dunia gagal memenuhi tanggungjawab mereka, Iran siap untuk memulihkan program nuklirnya.

Presiden Barack Obama menilai kesepakatan itu suatu keberhasilan, dan mengatakan “Seluruh jalan menuju pembuatan senjata nuklir masih tertutup bagi Iran.” Ia menambahkan, kesepakatan itu, yang diberlakukan mulai Januari, memberi kerangka waktu bagi Iran membuat senjata nuklir jika melanggar kesepakatan itu mulai dua atau tiga bulan sampai “kira-kira setahun.”

Tetapi pengecam kesepakatan itu di Amerika sejak tahun lalu tidak mengubah sikap. Mereka percaya Iran tidak akan mengakhiri kegiatan militernya di Timur Tengah atau pada akhirnya mencegahnya membuat senjata nuklir.

Senator Idaho dari fraksi Republik, James Risch, dalam sidang di Kongres, mengatakan "Kesepakatan itu kini jauh lebih buruk." Ia menambahkan, "Iran terus melakukan kesalahan," misalnya melakukan uji rudal balistik. Menurut Risch, Amerika harus menegakkan kesepakatannya sendiri, dengan menyatakan bahwa lima negara lain yang menyetujui kesepakatan itu: Inggris, China, Perancis, dan Rusia, "Tidak akan membantu kita." [uh+ka]

XS
SM
MD
LG