Tautan-tautan Akses

AS

Perkawinan Bahagia Pangkal Kesehatan Lebih Baik

  • Carolyn Weaver

Studi menunjukkan kesehatan pasangan meningkat dalam perkawinan yang bahagia. (Photo: AP)

Studi menunjukkan kesehatan pasangan meningkat dalam perkawinan yang bahagia. (Photo: AP)

Sebuah studi mencatat tingkat kematian di antara pasangan yang menikah adalah 10-15 persen lebih rendah daripada orang-orang yang tidak menikah.

Setiap tahun ketua komunitas Brooklyn Borough, Marty Markowitz, mengundang puluhan warga setempat yang berusia 70, 80 dan 90 tahun untuk menghadiri pesta di klub perkumpulan. Satu-satunya persyaratan adalah pasangan yang sudah menikah sedikitnya 50 tahun. Pasangan-pasangan ini, yang jumlahnya mencapai 400 pasangan tahun ini, memperbarui janji pernikahan mereka dan merayakannya dengan bersulang dan beberapa diantaranya berdansa.

Salah satu pasangan itu adalah Joe dan Georgia Mark yang bertemu lewat sebuah kencan-buta pada 1943 dalam sebuah pesta di restoran Cina.

“Kami berdansa sepanjang sore itu. Saya bahkan tidak makan makanan Cina. Ya Tuhan, kami telah membayar biaya untuk makanan Cina yang bahkan tidak kami makan,” ujar Joe. “Bulan Juli ini kami merayakan ulang tahun ke 67 perkawinan kami. Kami seperti pemerintah. Kami merencanakan ke depan.”

Sekarang dalam usia 88 dan 85 tahun, mereka telah membesarkan dua anak perempuan dan membantu membesarkan dua cucu laki-laki sambil menjalankan bisnis pencucian baju. Joe sendiri merupakan penyintas [survivor] penyakit kanker dan satu serangan jantung.

“Kamu adalah seorang pejuang dan selamat dari dua bencana. Saya bersyukur pada Tuhan dan saya tidak akan membiarkan kamu meninggal untuk alasan apapun juga,” ujar Georgia pada suaminya.

Georgia Mark bisa jadi benar tentang perannya dalam kesehatan suaminya.

Sebuah perkawinan bahagia, atau hubungan suami istri yang permanen, sejak lama dihubungkan dengan usia panjang dan kesehatan yang lebih baik. Para ilmuwan mengatakan hal ini disebabkan karena orang yang menikah dan terikat dalam perkawinan yang baik mendapat manfaat kesehatan, baik fisik dan mental, karena hubungan saling mencintai jangka panjang. Sebuah studi di Eropa yang dipublikasikan di Student British Medical Journal mencatat bahwa tingkat kematian diantara pasangan yang kawin adalah 10 hingga 15 persen lebih rendah daripada orang-orang yang tidak kawin.

Sejumlah studi menemukan bahwa secara umum pasangan yang menikah memiliki kesehatan fisik dan emosi yang lebih baik dibandingkan orang-orang yang tidak menikah. Deborah Carr, profesor sosiologi di Universitas Rutgers, New Jersey, mengatakan orang-orang yang menikah cenderung lebih sehat sebelum menikah dan menjadi lebih sehat karena ada pasangan yang merawat mereka.

“Apabila pasangan saling mencintai, mereka saling memperhatikan. Sang istri akan membuatkan makanan yang sehat dan memberi obat-obatan bagi suaminya. Sang suami akan memegang tangan istrinya ketika ia berjalan pada jalan yang licin karena es. Jadi memang ada hal-hal yang dilakukan para suami dan istri secara langsung untuk saling melindungi kesehatan masing-masing secara fisik. Dan mungkin yang terpenting adalah dukungan emosi. Memiliki seseorang yang bisa diajak bicara, seseorang yang bisa diajak berbagi perasaan memiliki dampak langsung bagi kesehatan emosi dan fisik,” ujar Carr.

Profesor Carr mengatakan laki-laki yang menikah cenderung hidup lebih lama. Baik laki-laki maupun perempuan juga tidak terlalu depresi. Dan tidak aneh jika pasangan yang sudah lama menikah, tidak terlalu sering berdebat dan lebih menikmati kebersamaan satu sama lain – seperti Joe dan Georgia Mark yang 68 tahun setelah menikah, masih mengatakan pasangannya adalah teman terbaiknya.

“Kamu membuat hidup lebih menarik Joe! Kamu bahkan mentertawakan leluconmu sendiri,” ujar Georgia.
XS
SM
MD
LG