Tautan-tautan Akses

Perekrutan Tenaga Kerja AS Terendah dalam 7 Tahun


Suasana bursa kerja di Hollywood, Florida, 4 Juni 2019. (Foto: dok).

Upaya perekrutan oleh perusahaan-perusahaan AS telah jatuh ke tingkat terendah dalam tujuh tahun dan lebih sedikit perusahaan yang menaikkan upah, demikian temuan sebuah survey bisnis.

Hanya seperlima dari para ekonom yang disurvey oleh Asosiasi Nasional bagi Ekonomi Bisnis (NABE) mengatakan perusahaan mereka telah menambah pekerja dalam tiga bulan belakangan, turun dari sepertiga pada Juli. Upaya luas untuk menambah lapangan pekerjaan jatuh ke tingkat terendah sejak Oktober 2012.

Perlambanan dalam perekrutan itu terjadi ketika lebih banyak bisnis melaporkan lambannya pertumbuhan penjualan dan profit. Para ekonom bisnis juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan lamban tahun depan, sebagian karena tarif-tarif telah menaikkan harga dan memotong penjualan banyak perusahaan.

"Ekonomi AS sepertinya bergerak lamban, dan para responden memperkirakan pertumbuhan masih akan pelan dalam 12 bulan ke depan," kata Constance Hunter, presiden NABE dan kepala ekonom pada perusahaan akuntansi KPMG.

Mungkin karena keprihatinan akan ekonomi yang melemah, bisnis-bisnis cenderung tidak menawarkan upah lebih tinggi, meskipun tingkat pengangguran berada pada tingkat terendah dalam 50 tahun. Hanya sepertiga ekonom yang mengatakan perusahaan mereka telah menaikkan upah dalam tiga bulan belakangan, berkurang dari lebih dari separuh setahun lalu.

Perusahaan-perusahaan juga memangkas investasi mereka pada mesin, komputer, dan perangkat lain. Proporsi perusahaan yang meningkatkan pembelanjaan pada barang-barang semacam itu berada pada tingkat terendah dalam lima tahun, kata survey itu.

Penjualan juga naik perlahan. Hanya 39 persen ekonom mengatakan penjualan naik dalam tiga bulan belakangan, turun dari 61 persen setahun sebelumnya. Dan hanya 38 persen mengatakan mereka memperkirakan penjualan akan naik dalam tiga bulan ke depan, juga turun dari 61 persen tahun lalu.

Banyak ekonom menyebut memburuknya kondisi bisnis itu disebabkan oleh tarif yang diterapkan Presiden Donald Trump pada baja, alumunium, dan pada sebagian besar produk impor dari China. 35 persen mengatakan tarif itu telah merugikan perusahaan mereka. Hanya tujuh persen yang mengatakan ada dampak positif.

Ini telah menyebabkan berkurangnya profit bagi banyak perusahaan. Hanya 19 persen ekonom yang mengatakan margin profit perusahaan mereka telah naik dalam tiga bulan belakangan, lebih kecil dibandingkan 37 persen tahun lalu.

Duapertiga ekonom yang disurvey kini memprediksi bahwa ekonomi akan tumbuh 1.1 persen sampai dua persen dari kuartal ketiga 2019 hingga kuartal ketiga 2020.

NABE mensurvey 101 ekonom pada perusahaan-perusahaan dan asosiasi-asosiasi dagang sejak 26 September hingga 14 Oktober. [vm/jm]

Recommended

XS
SM
MD
LG