Tautan-tautan Akses

Perdagangan Jepang Defisit Bulan Lalu untuk Pertama Kalinya dalam 8 Bulan


Mata uang kertas won (Korea Selatan), yuan (China) dan yen (Jepang) di antara lembaran 100 dolar Amerika. (Foto: ilustrasi).

Sektor perdagangan Jepang memulai tahun ini dengan indikasi yang kuat walaupun mengalami defisit untuk pertama kalinya dalam delapan bulan karena kenaikan harga minyak dan faktor-faktor musiman.

Data bea cukai yang dikeluarkan hari Senin (19/2) menunjukkan impor meningkat delapan persen dari setahun sebelumnya menjadi 7,03 triliun yen atau $66 milyar. Ekspor melonjak 12 persen menjadi 6,09 triliun yen atau $57,1 milyar, yang menghasilkan defisit 943,4 milyar yen atau $8,8 milyar.

Ekspor ke China melonjak 30 persen dari setahun sebelumnya.

Harga-harga minyak telah meningkat dalam satu tahun ini, naik dari kira-kira $55 per barel bulan Januari tahun 2017 menjadi lebih dari $70 per barel bulan lalu. Sebagai negara yang langka sumber daya alam, Jepang mengimpor hampir semua kebutuhan energi yang tidak terbarukan. Impor migas dan batu bara melonjak hampir 10 persen bulan Januari dari setahun sebelumnya, menjadi 1,6 triliun yen atau $15 milyar.

Surplus perdagangan Jepang dengan Amerika Serikat jatuh 12 persen sementara ekspor naik sedikit menjadi 1,07 triliun yen atau $1 milyar. Peningkatan impor gas, bensin, kacang kedelai, dan mesin-mesin ikut mendorong impor naik sembilan persen dari setahun sebelumnya menjadi 717 milyar yen atau $ 6,7 milyar. [gp]

XS
SM
MD
LG