Tautan-tautan Akses

Pendeta Kulit Hitam AS Berusaha Atasi Ketidaksetaraan Vaksinasi COVID-19


Relawan membagikan masker sebagai bagian dari program peningkatan partisipasi uji coba vaksin di Rochester, New York, AS, 17 Oktober 2020. (Foto: Reuters)

Sejumlah pendeta kulit hitam di AS berusaha mengatasi ketidaksetaraan vaksinasi COVID-19, terutama di kalangan komunitas mereka. Mereka tidak hanya berusaha memperluas akses warga kulit hitam ke vaksin, tapi juga menyadarkan warga kulit hitam mengenai pentingnya mendapatkan vaksin itu.

Melvin Marriott sudah berupaya menghubungi dokter ibunya selama berminggu-minggu untuk mendapatkan jadwal vaksin bagi ibunya.

"Saya akhirnya dapat berbicara dengan staf klinik melalui telepon. Namun jadwalnya sudah terisi semua," katanya.

Marriott adalah satu-satunya anak yang merawat ibunya, Dorothy yang berusia 94 tahun. Kondisi kesehatan ibunya tidak memungkinkannya untuk duduk selama berjam-jam.

Marriot juga telah berupaya untuk membuat jadwal vaksin secara online, tetapi gagal. Setelah itu ia mencoba menelepon klinik pada pukul 08.50 waktu setempat, tetapi kemudian ia menyerah karena ada 300 penelepon sebelum dirinya, yang juga sedang menunggu untuk berbicara dengan staf klinik.

Marriot adalah salah satu dari sekian banyak warga kulit hitam Washington DC yang kesulitan mendapat akses ke vaksin. Namun, sesungguhnya bukan hanya akses yang menyebabkan warga kulit hitam tertinggal dalam program vaksinasi. Banyak warga kulit hitam, terutama yang berusia lanjut, enggan menjalani vaksinasi COVID-19 karena ketidakapahaman mereka akan manfaat vaksin itu, kesulitan akses dan – sebagian – karena masih terkenang pada eksperimen Tuskegee yang mengerikan.

Vaksin COVID-19. (Foto: AP)
Vaksin COVID-19. (Foto: AP)

Eksperimen Tuskegee adalah eksperiman kontroversial yang konon didalangi pemerintah AS pada pertengahan abad ke-20, terkait penelitian sifilis dengan menggunakan pria kulit hitam sebagai kelinci percobaan. Eksperimen itu mempelajari efek sifilis yang tidak diobati pada populasi pria kulit hitam di Tuskegee, Alabama, selama enam hingga sembilan bulan, tetapi pada kenyataannya berlangsung selama 40 tahun dari 1932 hingga 1972.

Pendeta Wallace Charles Smith menggunakan khotbahnya di Gereja BaptisShiloh, Washington DC,untuk berbicara tentang kasih dan vaksinasi, dengan harapan dapat memberi inspirasi bagi jemaat kulit hitam untuk menjalani vaksinasi.

"Saya ingin memastikan kepada kita semua bahwa vaksinasi adalah hal yang tepat untuk dilakukan," katanya.

Ia berbicara tentang vaksinasi COVID-19, yang juga baru didapatnya.

Pejabat kesehatan Washington DC berharap Smith dan para pemimpin agama kulit hitam lainnya dapat berperan sebagai pemberi pengaruh yang besar di komunitas untuk mengatasi apa yang mereka sebut sebagai keengganan untuk divaksinasi di kalangan warga kulit hitam.

Wallace dan beberapa pemimpin agama setempat lainnya mendapat suntikan vaksin pertama mereka bulan lalu.

Jumlah warga kulit hitam mencapai lebih dari setengah dari populasi di Washington DC, tetapi tiga perempat jumlah kematian di kota itu akibat COVID-19 adalah warga kulit hitam.

Kota Washington DC kini menawarkan program vaksinasi bagi warga berusia di atas 65 tahun, tetapi data menunjukkan bahwa para lansia yang tinggal di kawasan yang paling miskin dan paling banyak dihuni warga kulit hitam justru tertinggal .Sejumlah gereja kulit hitam di luar Washington DC juga berusaha menolong pemerintah dan rumah sakit untuk mendistribusikan vaksin COVID -19.

Pendeta Howards Earle Jr dari Gereja New Hope Baptist di Michigan menjadikan gereja lokasi vaksinasi COVID-19 .

Pendeta Earle bermitra dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kent dan layanan kesehatan Spectrum Health untuk menciptakan tempat yang aman bagi vaksinasi di ruang kebugaran di gereja.

“Kami ingin menjangkau populasi warga Amerika keturunan Afrika dalam jumlah persentase yang besar dengan melakukannya di lokasi ini,” kata Teresa Branson, petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan kabupaten Kent.

Barbara Felker, seorang eksekutif perusahaan layanan kesehatan sekaligus seorang pendeta di Gereja Highbridge Community di Bronx di Kota New York, membuka klinik sementara di sejumlah gereja. Perusahaan tempatnya bekerja, Northwell Health, menyesuaikan proses pendistribusian vaksin di antara komunitas minoritas, dengan beralih dari penggunaan situs masyarakat untuk memberitahukan jadwal vaksinasi, menjadi pengiriman email kepada pendeta-pendeta setempat tentang program vaksinasi COVID-19 yang dapat dibagikan di komunitas mereka.

Felker menambahkan,“Kemitraan berdasarkan agama sangat penting untuk mendapatkan akses ke perawatan dan distribusi. Pendeta-pendeta berada di dalam lingkungan komunitas dan mereka tahu bagaimana menjangkau jemaatnya.” [lj/ab]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG