Tautan-tautan Akses

Menlu G7 Bahas China, Rusia, Myanmar dan Suriah


KTT G7 di London, dari kiri: Menlu Kanada Marc Garneau, Menlu Inggris Dominic Raab, Menlu Jepang Motegi Toshimitsu, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri Josep Borell dan Menlu Jerman untuk Urusan Luar Negeri Heiko Mass. (Stefan Rousseau/Pool via AP).
KTT G7 di London, dari kiri: Menlu Kanada Marc Garneau, Menlu Inggris Dominic Raab, Menlu Jepang Motegi Toshimitsu, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri Josep Borell dan Menlu Jerman untuk Urusan Luar Negeri Heiko Mass. (Stefan Rousseau/Pool via AP).

Menteri-menteri luar negeri yang mewakili negara-negara industri maju G7 hari Selasa sibuk mengikuti berbagai pertemuan di London untuk membahas serangkaian masalah dunia, termasuk di antaranya hubungan dengan China dan Rusia, kudeta di Myanmar, konflik Suriah, dan situasi di Afghanistan.

Kementerian Luar Negeri Inggris menyatakan, dalam pertemuan hari Selasa, Menteri Luar Negeri Dominic Raab “akan memimpin diskusi mengenai isu-isu geopolitik mendesak, yang mengancam akan melemahkan demokrasi, kebebasan dan hak asasi manusia.”

Raab mengatakan pembicaraan itu merupakan “kesempatan untuk menyatukan masyarakat yang demokratis dan terbuka serta untuk menunjukkan persatuan pada waktu yang sangat diperlukan dalam menangani tantangan bersama dan ancaman yang meningkat.”

Menlu AS Antony Blinken (kanan), duduk bersama Menlu Italia Luigi Di Maio, pada awal pertemuan para menteri luar negeri G7 di London, Selasa 4 Mei 2021.
Menlu AS Antony Blinken (kanan), duduk bersama Menlu Italia Luigi Di Maio, pada awal pertemuan para menteri luar negeri G7 di London, Selasa 4 Mei 2021.

Ia diperkirakan akan mendesak para anggota G7 untuk menetapkan sanksi terhadap individu dan entitas yang terkait dengan junta militer Myanmar, mendukung embargo senjata dan meningkatkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Myanmar.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken bertemu dengan Raab hari Senin (3/5) dan mengatakan terkait dengan China, sasarannya bukan hanya “berusaha membendung atau membatasi China.”

“Yang sedang kami coba lakukan adalah menegakkan tatanan berbasis peraturan internasional yang telah begitu banyak ditanamkan oleh negara-negara kami selama beberapa dekade, bukan hanya kepentingan rakyat kami sendiri, tetapi rakyat di seluruh dunia termasuk China,” kata Blinken kepada wartawan.

Raab mengatakan AS dan Inggris juga mencari cara-cara konstruktif untuk bekerja sama dengan China“dengan cara yang masuk akal dan positif” mengenai berbagai hal, termasuk perubahan iklim apabila memungkinkan.

Presiden AS Joe Biden telah mengidentifikasi kompetisi dengan China sebagai tantangan kebijakan luar negeri terbesar bagi pemerintahannya. Dalam pidato pertamanya di Kongres pekan lalu, ia berjanji akan mempertahankan keberadaan militer AS yang kuat di kawasan Indo-Pasifik dan meningkatkan perkembangan teknologi AS. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG