Tautan-tautan Akses

Kementan Siapkan Benih, Jatim Siap Penuhi Kebutuhan Jagung Nasional


Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sumardjo Gatot Irianto membahas mengenai ketersediaan jagung, di Surabaya, Jawa Timur, Selasa, 12 Maret 2019.(Foto: Petrus Riski/VOA)

Pemerintah pusat berencana menjadikan Jawa Timur sebagai lumbung jagung nasional, dengan mendorong pengaturan masa tanam jagung. Pengaturan masa tanam memungkinkan penanaman jagung sepanjang tahun. Hal itu dilakukan untuk memenuhi ketersediaan jagung nasional, dan mengurangi impor.

Kementerian Pertanian mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali meningkatkan produksi tanaman pangannya, salah satunya jagung. Hal ini tidak lepas dari kontribusi Jawa Timur sebagai provinsi penghasil jagung nasional yang mampu memproduksi sekitar 20 persen kebutuhan nasional.

Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Sumardjo Gatot Irianto mengatakan, pihaknya berharap Jawa Timur mampu memproduksi jagung sepanjang tahun dengan manajemen tanam yang baik. Ketersediaan jagung ini juga diharapkan dapat menjadi solusi kebutuhan pakan ternak dari peternak ayam petelur, maupun ketersediaan produk turunan dari sektor pertanian dan peternakan.

“Jagung ini dibutuhkan ditanam dari 1 Januari sampai 31 Desember, artinya apa, sepanjang tahun kita harus menanam jagung karena kebutuhannya sangat besar, penggunaannya juga sangat diversified,” kata Sumardjo kepada VOA di Surabaya.

Menurut Sumardjo, Jawa Timur sebenarnya mengalami surplus produksi jagung, tapi provinsi itu harus menyangga daerah lain yang minus produknya.

“Kalau ini ketarik, harganya naik. Begitu harga naik, produk hasil ternak naik dan itu mendorong inflasi, maka kita menjaga betul Jawa Timur ini berlebih. Tumpah ruah, supaya produk turunannya berkembang terus,” kata Sumardjo Gatot Irianto kepada VOA di Surabaya.

Sumarjo menambahkan meski produksi jagung nasional masih surplus, pihaknya berharap ada cukup banyak stok jagung di Jawa Timur, untuk menjaga stabilitas harga-harga maupun untuk memenuhi daerah yang bukan sentra jagung.

“Nasional (produksi jagung) kita 31 juta ton. Sesungguhnya surplus. Surplus itu produksi nasional total dikurangi konsumsinya. Tapi kan ada kabupaten yang memang minus, karena memang dia tidak menanam jagung cukup,” tutur Sumardjo.

“Sama juga daerah sentra jagung pun kalau pas lagi nanam dia juga minus, karena dia tidak menghasilkan. Maka langkah selanjutnya manajamen stok, dari pasca panen, pengolahan, penyimpanan, sehingga ketika oversupply, disimpan dan harganya tidak anjlok,” lanjut Sumardjo.

Ladang Jagung di Gresik, Jawa Timur. Jagung menjadi salah satu komoditas pangan andalan Jawa Timur (Foto:Petrus Riski/VOA)
Ladang Jagung di Gresik, Jawa Timur. Jagung menjadi salah satu komoditas pangan andalan Jawa Timur (Foto:Petrus Riski/VOA)

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pihaknya mendukung rencana Kementerian Pertanian yang akan memberikan bantuan benih jagung kepada Jawa Timur, untuk memproduksi jagung secara berkelanjutan sepanjang tahun. Khofifah akan melibatkan lembaga masyarakat desa hutan, serta empat kabupaten di Pulau Madura, agar menjadi tempat produksi jagung skala nasional.

“Kalau sekarang ini segera tanam jagung, maka kemungkinan kelangkaan yang terjadi pada tahun lalu itu bisa diselesaikan,” kata Khofiffah.

Menurut Khofifah, Ditjen Tanaman Pangan akan menyiapkan bibitnya. Kemudian, para bupati di Madura, dan LMDH, lembaga masyarakat desa hutan, akan dikoordinasikan agar bersama-sama melakukan pemetaan area yang bisa disiapkan untuk tanam jagung, tambahnya.

“Jagung ini masa petiknya sampai 90 hari. Jadi kalau bisa ditanam Maret, mudah-mudahan Juli itu sudah bisa panen. Sehingga, saudara kita, para peternak ayam petelur tidak akan kesulitan mencari jagung, yang itu 50 persen bahan pakan ayam petelur,” ujar Khofifah Indar Parawansa.

Selain itu, Khofifah juga akan segera memasukkan program manajemen air dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) Jawa Timur, sebagai penunjang produksi jagung dan produk pertanian lainnya.

“Bahwa dulu dari timnya pak Dirjen (Tanaman Pangan), kita dapat pemetaan (membangun) embung, kita mau taruh dimana, kemudian irigasi tersier dimana, dengan titik-titik, sampai dengan contact perso, sampai dengan satu titik ini berapa area kemudian berapa dana dibutuhkan. Itu sudah detil sekali,” pungkas Khofifah.

Manajemen air di Jawa Timur akan menjadi salah satu fokus RPJMD (rencana pembangunan jangka menengah daerah), ujar Khofifah menegaskan. [pr/em]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG