Tautan-tautan Akses

Diancam Teror, Kedubes AS di Republik Kongo Ditutup


ARSIP - Juru bicara pemerintah Republik Demokrasi Kongo, Lambert Mende, mengumumkan mantan Menteri Dalam Negeri, Emmanuel Ramazani Shadary, yang akan menjadi kandidat presiden dalam pemilihan presiden di bulan Desember, tanggal 8 Agustus 2018 di Kinshasa (foto: Junior D. Kannah/A

Amerika menutup kedutaannya di Republik Demokratik Kongo (DRC) karena apa yang dikatakannya sebagai informasi "yang bisa dipercaya dan spesifik" tentang ancaman teror.

Kedutaan besar di Kinshasa akan tetap tutup setidaknya hingga Selasa, dan semua warga Amerika di DRC "sangat dianjurkan" tetap bersikap hati-hati.

Pemerintah Kongo menuduh Amerika menciptakan "ketakutan dan ketidakpastian yang tidak perlu" dengan menutup kedutaan.

Juga dikatakan, Amerika dan negara-negara lain yang "tidak ada urusan dengan proses pemilu" hendak "mengalihkan perhatian" pemilih menjelang pemilihan presiden 23 Desember.

Pejabat-pejabat tidak mengatakan, menurut mereka apa yang orang luar harapkan akan didapat dengan mengalihkan perhatian orang. Tetapi mereka mengatakan para pemantau pemilu dari Uni Eropa dan Carter Center yang berbasis di Amerika tidak diundang - hanya mereka yang dari sesama negara Afrika yang diundang.

Selama dua tahun, DRC berusaha mengadakan pemilihan untuk mengganti Presiden Joseph Kabila yang sudah lama berkuasa. Tetapi kekerasan, milisi bersenjata, dan kesulitan mengadakan pemilu baru telah menyebabkan dua kali penundaan.

Kabila seharusnya mengundurkan diri tahun 2016 ketika masa jabatan keduanya berakhir. Tetapi ia menerapkan klausul dalam konstitusi yang memungkinkannya terus berkuasa sampai penggantinya terpilih. [ka]

XS
SM
MD
LG