Tautan-tautan Akses

AS

Church Brew Works, Pittsburgh: Dari Gereja Jadi Pabrik Bir


Church Brew Works, pabrik bir yang menempati bangunan bekas gereja yang direnovasi di Pittsburgh, 7 Agustus 2017. (Foto: AP)

Pasang surut keadaan ekonomi di Amerika Serikat berdampak pada operasi sebuah gereja di Pittsburgh. Gereja Katolik St. John yang sudah tak berfungsi diubah menjadi pabrik bir.

Di Amerika terdapat ratusan ribu gereja. Ada sekitar 4.000-5.000 gereja baru yang menerima Jemaah tiap tahun, sekitar jumlah sama pula yang tutup tiap tahun umumnya karena alasan ekonomi.

Karena sumber pemasukan berkurang, gereja kosong dan hanya menunggu sampai ada pihak yang berminat untuk membeli atau mengontraknya menjadi sesuatu yang lain bagi kepentingan masyarakat.

Tidak jarang gereja yang sudah tidak berfungsi dibeli oleh investor lalu disulap menjadi kompleks apartemen, toko buku, dan museum. Dan ada juga yang beralih dari gereja menjadi masjid. Contohnya, masjid IMAAM untuk komunitas muslim Indonesia di Ibu Kota Washington dan sekitarnya.

Yang jarang terdengar kalau bangunan gereja beralih fungsi menjadi tempat pembuatan minuman bir. Ini terjadi di Kota Pittsburgh, Pennsylvania.

Tampak dari luar tidak ada yang luar biasa dari sebuah bangunan yang tadinya adalah gereja Katolik Roma di Kota Pittsburgh. Di dalam segalanya masih tetap tradisional. Bangku-bangkunya diatur di sekeliling meja makan. Bekas tempat pengakuan dosa sekarang dijadikan bar dengan minuman alkohol. Sedang yang tadinya altar sekarang dijadikan tempat membuat minuman bir.

Gereja St John di Kota Pittsburg itu didekonsekrasi menjadi bar Church Brew Works, 23 tahun lalu. Dekonsekrasi adalah proses perubahan suatu tempat dari peruntukan relijius menjadi tempat umum.

Jesse Hulien (kanan) dan Molly Hartman (kiri) bersantai di Church Brew Works, pabrik bir yang menempati bangunan bekas gereja di Pittsburgh, 7 Agustus 2017.
Jesse Hulien (kanan) dan Molly Hartman (kiri) bersantai di Church Brew Works, pabrik bir yang menempati bangunan bekas gereja di Pittsburgh, 7 Agustus 2017.

Pertumbuhan ekonomi yang waktu itu sedang pesat berangsur-angsur mulai melambat. Seiring dengan itu makin banyak penduduk meninggalkan kota itu, jumlah penduduk yang menetap di sana untuk mempertahankan gereja itu tetap berfungsi, makin menyusut.

“Gereja ini dibangun pada 1902 kemudian dijual. Saya lihat ini bangunan yang tepat. Mari lakukan suatu yang baik. Saya kira cocok untuk dijadikan tempat pembuatan bir ala Eropa,” kata Sean Casey, pemilik Church Brew Works, pabrik pembuatan bir itu.

Tantangan terbesar baginya menempatkan enam tangki besar pembuatan bir di tempat yang tadinya altar. Sekarang Dan Yarnall mengepalai proses pembuatan bir di situ. Menurutnya, membuat bir itu mulia.

“Bagi saya membuat bir hampir sama dengan meditasi. Apa pun yang terjadi pada hidup saya, begitu tutup itu saya buka dan serelia mulai bercampur dalam air panas, dan prosesnya mulai, saya tidak dapat menghentikannya. Prosesnya harus terus hingga selesai. Saya tidak memikirkan yang lain kecuali membuat bir yang disenangi,” kata Yarnall.

Namun, memerlukan waktu beberapa lama barulah orang dapat menerima keunikan bagian dalam dari bangunan tempat pembuatan bir itu.

“Pertama kali saya datang ke sini saya merasa ‘minum bir di gereja.’ Saya merasa tidak nyaman. Tetapi kemudian ketika saya ketahui tempat itu bukan lagi sebagai gereja, saya ikut saja dengan orang lain yang datang ke situ,” kata seorang pengunjung Church Brew Works.

Sean Casey berharap anak-anaknya akan meneruskan bisnis keluarga itu dengan melayani masyarakat setempat betapapun tampak tidak tradisionalnya. Paling tidak, katanya, ia memberkahi mereka. [al/ka]

XS
SM
MD
LG