Tautan-tautan Akses

Berkurangnya Pengungsi Tidak Mengurangi Kebutuhan Perumahan


Donna Herzog dan suaminya Richard Herzog yang mengungsi bersama lima anjingnya, menyantap makanan yang disajikan para relawan, setelah meredanya Topan Tropis Harvey, sambil menunggu bus yang akan membawa mereka ke penampungan pengungsi di Vidor, Texas (foto: AP Photo/Gerald Herbert)

Sepasang suami istri yang terpaksa mengungsi karena topan Harvey berhasil mendapatkan kamar hotel, namun dipaksa keluar karena tidak memiliki tanda pengenal yang dikeluarkan oleh negara bagian yang hilang ditelan banjir. Seorang pria yang telepon selularnya rusak karena banjir tinggal di pusat konvensi menunggu dibukanya kembali kantor pemerintah hari Selasa.

Meskipun jumlah pengungsi yang mencari perlindungan di tempat penampungan darurat di Houston telah berkurang, ribuan lainnya masih membutuhkan rumah tinggal. Beberapa di antaranya kembali ke kompleh perumahan yang terendam air limbah dan lumpur. Lainnya tinggal bersama keluarga dan teman-teman.

Lebih dari 50.000 orang mengungsi ke hotel-hotel dengan biaya yang ditanggung pemerintah, beberapa di antaranya jauh dari rumah dan sekolah mereka.

“Anda tidak bisa memilih hotelnya,” ujar D’One Spears, yang tidak akan mungkin mengantarkan anak-anaknya ke sekolah ketika sekolah mulai dibuka kembali pekan depan. “Anda harus pergi lebih jauh, lebih jauh, dan lebih jauh lagi.”

Tanpa kartu pengenal, pasangan suami istri dipaksa pindah

Spears dan Brandon Polson telah mendapatkan kamar hotel yang ditanggung pemerintah dekat pusat kota, namun tanpa kartu pengenal mereka harus pergi. Setelah mengungsi ke Toyota Center, arena bola basket yang juga menampung para pengungsi, mereka diangkut ke sebuah motel di Humble, sekitar 32,19 km jauhnya. Spears berkata ia berharap keluarganya bisa kembali ke pusat konvensi.

Di Pusat Konvensi George R. Borwn, sekitar 1.500 orang tetap tinggal dan beberapa diantaranya mengatakan mereka menjadi tunawsima, penderita disabilitas, dari perumahan rakyat. Sekitar 2.800 orang berada di NRG Center, sebuah pusat konvensi yang dibuka setelah George R. Brown menampung dua kali lipat dari kapasitas yang sesungguhnya.

Jamica Batts duduk di ranjang hotel bersama bayinya yang baru berusia dua bulan, Jarasiah Batts, sambil berkemas untuk pergi pada tanggal 4 September 2017, di Houston. Batts dan saudara lelakinya Alvin, sekarang mungkiin dipaksa untuk meninggalkan hotel dimana mereka tinggal sejak tempat tinggal mereka dilanda Topan Harvey, ke penampungan di kawasan tersebut.

Morris Mack, yang tiba di pusat konvensi tanggal 30 Agustus, duduk di luar gerbang utama, berbagi rokok. Ia belum dapat kembali ke rumahnya di kawasan perumahan rakyat di baratlaut Houston, dan tidak tahu apakah rumahnya kebanjiran atau tidak.

Sambil mendaftarkan diri pada Federal Emergency Management Agency (FEMA) untuk mendapatkan bantuan. Telepon selular milik Mack rusak akibat banjir, dan ia tidak memiliki alamat email aktif, membuat FEMA kesulitan untuk menghubunginya atau mengirimkannya check. Ia berharap begitu kantor pemerintah kembali dibuka, ia dapat memperoleh kartu bantuan dari pemerintah, yang dapat ia gunakan untuk membeli telepon selular untuk berkomunikasi dengan FEMA.

“Saya hanya mencoba. Saya hanya bisa menunggu sekarang,” ujar Mack.

Lebih dari 50.000 warga mengungsi ke hotel-hotel

Harvey melanda Texas pada tanggal 25 Agustus sebagai topan Kategori 4, namun mengakibatkan banjir terburuk di Houston dan kawasan lainnya sebagi topan tropis. Total curah hujan mencapai 1,3 meter di beberapa titik, dan topan telah mengakibatkan 60 orang kehilangan nyawanya.

FEMA mengatakan sekitar 560.000 keluarga terdaftar untuk mendapatkan program bantuan perumahan. Badan tersebut mengatakan 53.630 orang terpaksa mengungsi akibat topan Harvey dan saat ini tinggal di kamar-kamar hotel yang dibiayai pemerintah.

Perumahan sementara telah disalurkan kepada 18.732 rumah tangga, ujar juru bicara FEMA, Bob Howard. Begitu orang memperoleh bantuan, ada alokasi minimum selama 14 hari, namun dapat diperpanjang apabila perlu.

Para pejabat FEMA juga menimbang-nimbang opsi lainnya, seperti rumah mobil, seandainya kebutuhan meningkat.

Reputasi rumah mobil tidak begitu baik

Setelah Topan Katrina melanda New Orleans pada tahun 2005, FEMA membeli ribuan rumah mobil untuk mereka yang menjadi tunawisma, namun program tersebut dinodai oleh masalah. Beberapa dari korban banjir yang tinggal di rumah-rumah semacam itu terpapar oleh formalin berkadar tinggi, yang digunakan dalam bahan bangunan.

Beberapa orang memilih untuk kembali ke rumahnya setelah topan Harvey mereda dan mencoba untuk berusaha sebisa mungkin.

Namun di Clayton Homes, beberapa apartemen terendam air dan lantai dipenuhi oleh lapisan lumpur dan limbah. Warga Clayton Homes termasuk yang pertama tiba di pusat konvensi pekan lalu, banyak di antaranya yang menumpang truk sampah. Komplek perumahan ini berbatasan di satu sisi dengan Buffalo Bayou, kanal berlumpur yang luber dan membuat arus air membanjiri rumah-rumah.

Tumpukan sampah dan perabotan yang basah kuyup bertumpuk dekat sisa pagar yang memisahkan rawa dari komplek perumahan. Bau busuk tercium di beberapa bagian komplek.

Khawatir akan harta miliknya

Rosie Carmouche menghabiskan waktu dua hari di George R. Brown dengan dua anaknya. Namun ia tidak ingin tinggal di sana terlalu lama, karena khawatir akan harta bendanya.

“Mereka membuat kami merasa senyaman mungkin. Saya akan memberikan mereka hal itu,” ujar Carmouche. “Namun saat pikiran anda – anda tau lingkungan tempat anda tinggal? Sulit sekali.”

Laquinna Russel menggunakan pemutih untuk menggosok lantai dasar dari rumahnya yang berlantai dua, namun ia khawatir akan jamur dan bakteri yang tidak tampak, jadi keluarganya tidur di lantai dua.

“Kami tidak memiliki tempat lain untuk pergi kecuali kembali lagi ke rumah,” ujarnya. [ww/au]

XS
SM
MD
LG