Tautan-tautan Akses

AS Merasa Terancam Atas Kemungkinan Adanya Pertemuan antara Pemimpin Vietnam dan China


Presiden China Xi Jinping (kiri) dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam Nguyen Phu Trong (kanan) menyapa para warga yang membawa bendera China dan Vietnam dalam acara sambutan di istana kepresidenan di Hanoi, Vietnam, pada 12 November 2017. (Foto: Hoang Dinh Nam/Pool/AFP)
Presiden China Xi Jinping (kiri) dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam Nguyen Phu Trong (kanan) menyapa para warga yang membawa bendera China dan Vietnam dalam acara sambutan di istana kepresidenan di Hanoi, Vietnam, pada 12 November 2017. (Foto: Hoang Dinh Nam/Pool/AFP)

Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Vietnam, kemungkinan akan menguji langkah Hanoi dalam menyeimbangkan sikap terhadap Beijing dan Washington, kata para pengamat.

Kantor berita Reuters melaporkan pada pekan lalu bahwa para pejabat Vietnam dan China sedang mempersiapkan kemungkinan adanya pertemuan antara Ketua Partai Komunis Vietnam, Nguyen Phu Trong, dan Xi di Hanoi pada akhir Oktober atau awal November mendatang.

Kunjungan Xi belum diumumkan oleh Beijing atau Hanoi. Kedutaan Besar China di Washington menolak berkomentar dan menyarankan agar pertanyaan itu disampaikan kepada Kementerian Luar Negeri di Beijing. VOA Vietnam menelepon pihak kementerian dan meninggalkan pesan suara, namun tidak mendapatkan tanggapan.

Jika kunjungan tersebut terlaksana, maka pemimpin Vietnam itu akan menjadi tuan rumah bagi dua pemimpin dari dua negara adidaya di negaranya dalam waktu kurang dari dua bulan.

Hanoi meningkatkan status hubungannya dengan AS menjadi kemitraan strategis yang komprehensif, menempatkan AS setara dengan China dalam keterlibatan diplomatiknya, ketika Presiden AS Joe Biden berkunjung ke Hanoi pada awal September lalu.

Para analis mengatakan, kunjungan Xi akan menjadi ujian bagi apa yang disebut "kebijakan bambu" Hanoi dalam menyeimbangkan kepentingan dari negara-negara yang bersaing.

Le Hong Hiep, peneliti senior di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, mengatakan kepada VOA Layanan Vietnam pekan ini bahwa China merasa tidak "nyaman" melihat Vietnam telah meningkatkan hubungan dan menjadi lebih dekat dengan AS.

"Kemungkinan kunjungan Xi adalah bagian dari upaya China untuk setidaknya menjaga keseimbangan kebijakan luar negeri Vietnam terhadap AS dan China, atau mungkin mencoba menarik Vietnam ke pihak China," ujar Hiep.

"Beijing melihat adanya kebutuhan dan upaya untuk menyeimbangkan kembali pengaruhnya, sekaligus menegaskan kembali statusnya dan pengaruhnya menyusul peningkatan hubungan yang terjadi antara Hanoi dan Washington," kata Hoang Viet, dosen di Ho Chi Minh City University of Law, kepada VOA Vietnam.

Menurut laporan Reuters, Hanoi dan Beijing tengah membicarakan susunan dari pernyataan yang akan memasangkan kedua negara dalam sebuah "komunitas dengan takdir bersama."

Xi mengajukan konsep mengenai "komunitas dengan takdir bersama" pada akhir 2012 lalu, di mana konsep tersebut dibuat berdasarkan visi kuno China tentang masyarakat yang hidup dalam harmoni dan akan saling berbuat baik terhadap satu sama lain sebagai keluarga, menurut laporan dari media resmi China, Xinhua.

Alexander Vuving, profesor di Daniel K. Inouye Asia-Pacific Center for Security Studies di Honolulu, mengatakan Xi akan mendorong Vietnam untuk bergabung dalam "komunitas takdir bersama" yang diusung China agar dapat membentuk koalisi dalam melawan Washington. [ps/lt/rs]

Forum

‚Äč
XS
SM
MD
LG