Tautan-tautan Akses

Analis: Perekonomian India Merosot Tajam Sejak Larangan Mata Uang


Warga India harus berebut untuk mendapatkan mata uang baru selama berminggu-minggu, setelah larangan mata uang November lalu menyebabkan kekurangan uang di negara itu. (Foto: A. Pasricha)

Perdebatan sengit mengenai larangan uang India berlanjut, dengan para pengecam mengatakan bahwa hal itu memperlambat pertumbuhan ekonomi, sementara pemerintah mengatakan bahwa momentum ekonomi hampir tidak terpengaruh.

Pengamat mengatakan bahwa penghapusan 86 persen mata uang negara itu November lalu merugikan India yang statusnya sebagai ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Menurut data yang dirilis minggu ini, dari Januari hingga Maret, pertumbuhan turun menjadi 6,1 persen, lebih rendah dari pertumbuhan 6,9 persen di China pada periode yang sama.

Pertumbuhan keseluruhan untuk tahun fiskal terakhir, yang dimulai pada bulan April 2016 dan berakhir pada bulan Maret 2017, mencapai 7,1 persen.

Menteri Keuangan Arun Jaitley telah berusaha menjauhkan angka ekonomi yang mengecewakan itu dari larangan mata uang, dengan alasan faktor lainnya.

"Ada terlihat beberapa perlambatan, mengingat situasi global dan domestik, bahkan sebelum demonetisasi tahun lalu," katanya kepada wartawan.

Perlambatan tersebut mempengaruhi hampir semua sektor perekonomian, termasuk pertanian, manufaktur dan jasa. Dengan orang-orang berebut untuk mendapatkan akses ke mata uang baru, konsumsi melambat dengan tajam, berdampak pada pemilik toko kecil dan bisnis besar.

Tapi pemerintah cukup optimistis dengan adanya ramalan bahwa perekonomian akan pulih dengan cepat setelah musim hujan, dan serangkaian kebijakan reformasi besar. [as]

XS
SM
MD
LG