Selasa, 31 Mei 2016 Waktu: 14:45

    Berita / Dunia

    WHO: Malaria Masih Mengancam

    Upaya global bagi pemberantasan malaria mandek dalam setahun terakhir, membuat risiko penyebaran malaria meningkat.

    Meow, 6, dari Myanmar sedang dites untuk memastikan malaria yang ia idap sebelumnya sudah hilang dari tubuhnya. (Foto: Dok)
    Meow, 6, dari Myanmar sedang dites untuk memastikan malaria yang ia idap sebelumnya sudah hilang dari tubuhnya. (Foto: Dok)
    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, meskipun tercapai kemajuan luar biasa dalam mengobati dan mencegah malaria di banyak negara yang terimbas penyakit itu selama dekade terakhir, kurangnya dana dapat menyebabkan penyakit itu marak kembali.

    Laporan tahunan terbaru WHO mengenai malaria menyatakan dukungan global bagi upaya pemberantasan malaria mengalami kemandekan pada tahun belakangan ini setelah melaju pesat antara 2004 dan 2009.

    Laporan yang dilansir pekan ini menyatakan bahwa sebagai akibatnya, pengiriman kelambu berinsektisida ke negara-negara endemik di sub-Sahara Afrika berkurang hingga lebih dari separuhnya sepanjang dua tahun belakangan, dari 145 juta unit pada 2010 menjadi 66 juta pada 2012.

    Nigeria dan Republik Demokratik Kongo adalah negara yang paling parah terimbas malaria di kawasan itu, sedangkan India adalah negara terparah  di Asia.

    Pejabat WHO Richard Cidulskis mengatakan, sekitar 1,1 juta kematian akibat malaria telah berhasil dicegah di 10 negara paling parah terimbas malaria di Afrika.

    Ia mengatakan 50 negara lainnya sedang mengarah pada pengurangan insiden malaria hingga 75 persen sebelum 2015. Tetapi, ia menambahkan, pengurangan dana untuk obat, kelambu dan cara-cara lain untuk memberantas penyakit itu dapat menyebabkan malaria kembali menyebar.

    Lihat Juga

    Stephen Hawking Bingung dengan Popularitas Donald Trump

    “Trump itu penghasut yang kelihatannya menarik orang-orang yang paling tidak pandai," ujar Hawking. Selengkapnya

    Presiden Turki: Keluarga Berencana Bukan untuk Muslim

    Erdogan sebelumnya telah membuat marah kelompok-kelompok perempuan dengan menentukan berapa banyak anak yang harus dimiliki perempuan, dan menentang kesetaraan gender. Selengkapnya

    Verizon Capai Kesepakatan dengan Karyawan, Pemogokan Diakhiri

    Hampir 40 ribu karyawan Verizon mogok pertengahan April, salah satu pemogokan pegawai terbesar di Amerika dalam beberapa tahun terakhir. Selengkapnya

    Ikuti Kami