Minggu, 21 Desember 2014 Waktu: 20:30

Berita / Dunia / Timur Tengah

Warga Palestina Sambut Baik Film Dokumenter Nominasi Oscar

Warga Tepi Barat menyambut baik film dokumenter "5 Broken Cameras" yang menggambarkan kesulitan mereka di tengah konflik dengan Israel.

Poster film dokumenter nominasi Oscar "5 Broken Cameras" dipasang di bioskop di Ramallah, Tepi Barat (28/1). (Reuters/Mohamad Torokman)
Poster film dokumenter nominasi Oscar "5 Broken Cameras" dipasang di bioskop di Ramallah, Tepi Barat (28/1). (Reuters/Mohamad Torokman)
Film dokumenter nominasi Oscar “5 Broken Cameras” diputar untuk pertama kalinya Senin (28/1), membuat warga setempat berharap perjuangan mereka dalam konflik lahan dan status negara dengan Israel akan ditonton orang di seluruh dunia.

Film berbiaya rendah itu merupakan dokumentasi dengan kamera amatir selama lima tahun oleh jurnalis Emad Burnat, saat ia merekam protes mingguan melawan pencaplokan lahan oleh tentara Israel dan pemukim Yahudi di desanya, Bil’in, di Tepi Barat.

Tetangga-tetangganya tewas dalam protes-protes tersebut dan mesin penghancur menjelajahi wilayah tersebut, saat pembuat film melihat anak laki-lakinya yang masih balita kehilangan kepolosannya, karena kata-kata pertamanya adalah “dinding” dan “tentara.”

“Ini film untuk para martir. Ini lebih besar dari saya maupun Bil’in. Lebih dari satu miliar orang mengikuti [piala] Oscar dan mereka akan tahu perjuangan kita sekarang,” ujar Burnat.

Karyanya akan bersaing dalam ajang piala Oscar bulan depan melawan empat film lainnya, termasuk dokumenter “The Gatekeepers” yang melihat konflik Timur Tengah dari mata enam mantan kepala intelijen Israel.

Meski perspektif mereka berbeda, kedua film tersebut secara mengejutkan memiliki pesan yang sama: Pendudukan Israel di Tepi Barat secara moral salah dan harus diakhiri.

Semua penonton berdiri memberi penghormatan setelah selesai menonton film Burnat di Ramallah, ibukota administratif Palestina, dan mereka senang melihat konflik yang sepertinya tak berkesudahan itu terlihat dalam layar besar.

“Film tersebut memperlihatkan pada seluruh dunia apa arti okupasi. Okupasi menghapuskan kegembiraan dari wajah bocah laki-laki pada usia dini. Ini pengalaman kita semua,” ujar supir taksi Ahmed Mustafa, yang membawa anak dan istrinya dalam pemutaran film.

“Tidak semuanya buruk, sih. Ada kemajuan, ada kemenangan, dan tujuan kita masih hidup dan bergerak,” ujarnya.

Pada 2007, Pengadilan Tinggi Israel memutuskan bahwa dinding pemisah yang dibangun di lahan-lahan Bil’in adalah melanggar hukum dan harus dipindahkan. Keputusan yang disambut gembira para aktivis ini akhirnya dilaksanakan pada 2011, namun protes terus berjalan.

Warga desa sederhana yang memakai sorban kotak-kotak hitam putih khas Palestina juga menyambut baik adegan-adegan di film tersebut yang jarang dihadirkan dalam film non-dokumenter.

Gambar pohon zaitun yang berubah menjadi percikan bara api yang menyala karena dibakar pemukim Yahudi membuat penonton terkesiap.

Namun begitu kamera Burnat menangkap suara-suara protes dengan aksen setempat, atau ketika batu dilemparkan ke mobil jeep Israel yang kabur, tepuk tangan membahana di dalam ruangan.

Film tersebut disutradarai juga oleh aktivis dan pembuat film Israel, Guy Davidi. Hal ini telah membuat beberapa pihak mengkategorikan ‘5 Broken Cameras’ sebagai film Israel dan film tersebut ditolak di sebuah festival film di Maroko untuk alasan ini.

Meski demikian, Burnat mengatakan bahwa film tersebut telah ditayangkan di Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya dan ia menyangkal produksi bersama tersebut menggambarkan “normalisasi” hubungan antara Israel dan Palestina.

“Davidi adalah aktivis solidaritas yang datang ke desa untuk menunjukkan dukungannya. Ia melihat materi dari kami dan setuju memberikan bantuan. Hal ini tidak mewakili kolaborasi Israel-Palestina,” ujar Burnat.

Namun produksi film ini menunjukkan banyak contoh kerja sama antara aktivis solidaritas Israel dan warga lokal.

Seorang fotografer Israel memberi Burnat salah satu dari lima kamera miliknya, yang  kena tembakan atau terhimpit dalam protes selama bertahun-tahun -- sesuatu yang menginspirasi judul film. Aktivis-aktivis solidaritas Israel juga terlihat membantu merencanakan protes dalam bahasa Hebrew.

“Bekerja sama dengan Israel tidak mengurangi arti film ini, tapi malah memperkuatnya,” ujar mahasiswa Palestina Amira Daood.

“Tidak semua orang Israel melawan kita. Beberapa tidak menolak apa yang dilakukan Israel dan film ini memperlihatkan hal tersebut.” (Reuters/Noah Browning)
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

 

 

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook