Tautan-tautan Akses

Warga Hispanik Pro-Trump Hadapi Kecaman dari Keluarga, Teman


Para pekerja Hispanik di sebuah pabrik makanan di West Liberty, Iowa.
Para pekerja Hispanik di sebuah pabrik makanan di West Liberty, Iowa.

Sekitar 23 persen Hispanik mengatakan mereka akan memilih Trump dalam jajak pendapat bulan Mei yang diadakan Fox News.

Para pemilih Hispanik di Florida, New Mexico dan California telah melambaikan bendera Meksiko dan menghancurkan boneka Donald Trump -- terkadang bentrok dengan polisi -- untuk memprotes kandidat calon presiden Partai Republik tersebut, yang memiliki pendekatan keras terhadap imigrasi.

Namun semakin banyak minoritas Hispanik yang vokal berbicara mendukung miliarder tersebut. Mereka mendukung Trump bahkan di tengah kecaman dan kecurigaan dari kawan dan kerabat, yang termasuk mayoritas besar dari pemilih non-kulit putih yang menentang pencalonan pengusaha asal New York itu.

"Saya tidak malu memilih Trump. Hanya saja saya memilih tidak membahasnya dengan keluarga saya," ujar Natalie Lally, 22, mahasiswi dari kota New York yang merupakan keturunan Kolombia.

Di kota perbatasan Texas, daerah kelas pekerja di New York, dan bahkan di dalam kampanye-kampanye Trump yang sangat didominasi pendukung kulit putih, minoritas Hispanik yang pro-Trump bersedia menghadapi risiko cemoohan publik dan privat karena membela nominasi Trump.

Namun sejauh ini, mereka tidak mendapatkan bantuan dari kampanye Trump, yang belum meluncurkan upaya penjangkauan untuk memperbaiki sikapnya terhadap kelompok pemilih yang semakin meningkat itu.

Sekitar 23 persen Hispanik mengatakan mereka akan memilih Trump dalam jajak pendapat bulan Mei yang diadakan Fox News. Angka dari jajak-jajak pendapat lainnya jauh lebih rendah. Calon presiden Partai Republik yang lalu, Mitt Romney, mengatakan pendekatannya yang buruk terhadap pemilih Hispanik adalah salah satu penyesalan terbesarnya dalam pemilu lalu, ketika ia mendapatkan 27 persen suara Hispanik.

Salah seorang warga Hispanik mengatakan ia mendukung rencana Trump untuk membangun tembok besar di perbatasan.

"Kota kami sudah muak dengan kekerasan dari Meksiko. Orang mati tiap hari," ujar Carlos Guerra, 24, anak imigran Meksiko yang tinggal di kota perbatasan Laredo, Texas.

"Saya dikritik (karena memilih Trump). Orang-orang bertanya, 'Kamu membenci rasmu sendiri?' Saya merasa didiskriminasi," tambahnya.

Kebijakan Trump dan sikapnya terhadap imigrasi telah memicu antusiasme, terkadang reaksi penuh kekerasan, dari para pemilih minoritas. [hd]

XS
SM
MD
LG