Rabu, 03 September 2014 Waktu UTC: 04:40

Berita / Dunia / Timur Tengah

Unjuk Rasa Warnai Peringatan 2 Tahun Revolusi Mesir

Rakyat Mesir memperingati pemberontakan mereka menjatuhkan mantan diktator Hosni Mubarak dua tahun lalu dengan memenuhi Lapangan Tahrir di Kairo hari Jumat (25/1).

Pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slolgan menentang Presiden Morsi di Lapangan Tahrir, Kairo, 25 Januari 2013 .
Pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slolgan menentang Presiden Morsi di Lapangan Tahrir, Kairo, 25 Januari 2013 .
Elizabeth Arrott
Demonstrasi juga terjadi di belasan kota besar yang banyak dikatakan sebagai kelanjutan dari revolusi yang menjatuhkan pemimpin yang lama berkuasa, Hosni Mubarak. Bentrokan sporadis dilaporkan terjadi dengan polisi menggunakan gas air mata di Alexandria untuk membubarkan para demonstran.
 
Bentrokan yang terjadi di pagi hari antara demonstran dan polisi di Kairo mereda untuk sholat Jum’at dan kemudian dilanjutkan siang harinya.
 
Suasananya tidak semeriah dua tahun lalu, ketika rakyat Mesir tampaknya terkejut pada diri mereka sendiri melihat kekuatan rakyat melawan kepemimpinan yang telah mengakar.
 
Para pengunjuk rasa yang telah turun berkali-kali ke  Lapangan Tahrir selama selang waktu itu, berbicara tentang perjuangan yang terus berlanjut.
 
“Kita berada di sini pada tanggal 25 Januari tidak untuk merayakan, tidak untuk mendukung pihak atau gerakan manapun, tetapi untuk melanjutkan revolusi kita yang belum selesai,” kata Zain, seorang pengunjuk rasa yang masih muda.
 
Pandangan-pandangan seperti Zain didukung oleh seorang laki-laki tua yang datang dari Aswan di wilayah selatan untuk bergabung dalam aksi itu. Mokhtar mengatakan yang terjadi ialah mengganti seorang pemimpin yang tidak peduli pada rakyat dengan seorang lain yang juga bersikap serupa. “Di mana demokrasi? Kita hanya mengganti Mohammed Hosni Mubarak dengan Mohammed Morsi. Tidak ada perbaikan apa-apa dari Morsi sejak delapan bulan yang lalu,” katanya gusar.
 
Tetapi bahkan ketika masa pengunjuk rasa berkumpul di sekitar tenda dan spanduk yang telah membuat Lapangan Tahrir terus menjadi pusat pergolakan, ketua partai politik Presiden Morsi berbicara tentang apa yang telah dicapai dalam dua tahun terakhir.
 
Hussein Ibrahim, ketua Partai Kebebasan dan Keadilan mengatakan Mesir menandai ulang tahun kedua dengan dua "prestasi penting”, presiden terpilih dari kalangan sipil, dan konstitusi yang disetujui rakyat Mesir.
 
Konstitusi kontroversial itu diadopsi dalam referendum akhir tahun lalu setelah Morsi memegang kekusaan penuh meskipun sementara. Keputusannya memicu bentrokan antara oposisi dan pendukung pemerintah dari kubu Islamis.
 
Presiden Morsi masih memiliki pengikut setia di kalangan partai Ikhwanul Muslimin, gerakan paling terorganisir di Mesir. Para pemimpin menyerukan kegiatan amal, bukan demonstrasi di jalan pada hari Jumat, keputusan yang tampaknya bertujuan menurunkan potensi bentrokan.
 
Perpecahan ini tidak hanya antara kedua kelompok itu. Ada juga mereka yang melihat nostalgia kehidupan sebelum revolusi, ketika stabilitas, jika tidak, semangat, yang untuk banyak orang adalah sesuatu yang diperoleh dengan cuma-cuma.

Tapi Jumat adalah hari bagi masa di Tahrir dan sesama mereka di seluruh negara itu. Di mana-mana terdapat tanda-tanda merayakan pemuda yang revolusioner, dan mencela kepemimpinan generasi tua dari partai Ikhwanul Muslimin.
 
Salah satu pengunjuk rasa, Mohammed Ibrahim Garib, mengatakan kesenjangan generasi merupakan masalah tidak hanya di Mesir, tapi di seluruh dunia Arab. “Kami adalah masa depan. Cukup untuk kaum tua,” katanya.
 
Tapi generasi yang memicu pemberontakan belum menyatu menjadi sebuah kekuatan politik yang kuat. Apakah mereka bisa mengubah hal itu sebelum tonggak berikutnya dalam transisi Mesir – yaitu pemilihan parlemen mendatang - masih jauh dari pasti.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook