Kamis, 17 April 2014 Waktu UTC: 15:42

Berita / Gaya Hidup

Toko "Cool Confections" di AS Jual Permen Bersejarah

Toko “Cool Confections” di Amerika tidak hanya menjual permen, namun juga mengisahkan sejarah dan latar belakang kudapan tersebut.

Tootsie Rolls adalah salah satu jenis permen yang diproduksi setelah Perang Saudara berakhir saat gula mulai tersedia, sehingga permen bisa diproduksi secara massal dan murah. (Foto: Dok).
Tootsie Rolls adalah salah satu jenis permen yang diproduksi setelah Perang Saudara berakhir saat gula mulai tersedia, sehingga permen bisa diproduksi secara massal dan murah. (Foto: Dok).
UKURAN HURUF - +
Masing-masing permen memiliki sejarah yang unik.  Demikian dikatakan Susan Benjamin, pemilik Cool Confections, sebuah toko yang khusus menjual permen-permen yang memiliki nilai sejarah, seperti Hard Tack yang merupakan permen kegemaran tentara Amerika saat Perang Saudara atau permen yang dibuat dari daun mint pada abad ke-19.

Benjamin menceritakan sejarah kudapan manis tersebut kepada pengunjung toko selagi mereka melihat-lihat koleksi permen yang dibuat sejak beberapa abad lalu.

“Permen tidak selalu tentang gula. Permen bukan merupakan camilan sederhana. Permen juga menceritakan tentang perbudakan dan revolusi industri. Permen juga merupakan perdagangan dan pemasaran. Bahkan permen mencerminkan diri kita sendiri,” papar Benjamin.

Toko permen Cool Confections terletak di Harpers Ferry, sebuah kota kecil di West Virginia. Seorang tokoh anti-perbudakan, John Brown, pernah memimpin pergolakan buruh yang terkenal di sana pada 1859. Kota itu sendiri pernah menjadi tempat pertempuran Perang Saudara yang hebat pada 1862.

Penggunaan gula tebu sebagai pemanis mulai disebarkan pada abad 16 dari Asia Tenggara. Mengudap permen dan camilan manis yang terbuat dari gula, awalnya hanya dilakukan oleh warga Eropa kalangan atas.

Sebelum pecahnya Perang Saudara yang mengakhiri perbudakan, produksi gula menimbulkan kontroversi. Permen berbentuk batu yang terbuat dari gula tebu pada masa itu diproses oleh kaum budak Afrika Amerika.

Benjamin mengatakan, gula merupakan bagian dari perekonomian budak. Kelompok anti perbudakan memboikot gula. Akibatnya, kaum budak membuat gula yang dibuat dari sayur bit, pohon maple atau tidak membuat gula sama sekali.

Setelah Perang Saudara berakhir dan gula mulai tersedia kembali, barulah permen-permen kecil yang murah diproduksi secara massal dan menjadi populer, salah satunya adalah permen yang disebut “Tootsie Rolls”.

Permen-permen murah seharga beberapa sen itu memungkinkan anak-anak dari golongan menengah mampu membelinya. Sejak itulah, permen mulai terjangkau oleh kalangan menengah.

Banyak permen-permen bersejarah itu yang sudah tidak diproduksi lagi.  Oleh sebab itu Benjamin menghabiskan waktunya selama bertahun-tahun melakukan penelitian untuk membuat kembali permen-permen tersebut.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook