Selasa, 21 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 16:17

Berita / Gaya Hidup / Kesehatan

Tim Peneliti Teknologi Medis AS Ciptakan Plester yang Aman dan Lembut untuk Bayi

Peneliti teknologi medis Amerika membuat plester jenis baru yang menurut mereka jauh lebih lembut dan lebih aman bagi kulit bayi yang halus.

Menurut para pakar, keharusan mengganti plester setiap hari atau mencabutnya saat bayi-bayi itu sudah sehat untuk dibawa pulang, merupakan proses yang menyakitkan, bahkan berbahaya untuk kesehatan bayi (foto: dok).
Menurut para pakar, keharusan mengganti plester setiap hari atau mencabutnya saat bayi-bayi itu sudah sehat untuk dibawa pulang, merupakan proses yang menyakitkan, bahkan berbahaya untuk kesehatan bayi (foto: dok).
UKURAN HURUF - +
Bayi-bayi baru lahir yang dipindahkan ke ruang perawatan intensif neonatal biasanya sangat sakit. Siapa pun yang pernah ditempeli plester itu, tahu betapa sakit ketika plester-plester itu dicabut.

Semikian juga bagi bayi baru lahir, karena plester itu dikhawatirkan dapat merobek kulit mereka yang halus. Masalah tersebut merupakan salah satu isu utama yang dihadapi unit perawatan intensif neonatal.

"Bayi-bayi yang dirawat dalam unit-unit ini ditempeli plester, yang perlu terus diganti. Plester ini alat yang penting untuk merekatkan perangkat pemantau pada kulit. Misalnya, pemantau suhu, selang endotrakeal untuk menjaga pernapasan serta selang EKG untuk memantau denyut nadi," jelas Jeff Karp, salah seorang direktur di Center for Regenerative Therapeutics Rumah Sakit Brigham and Women’s di Boston.

“Ada berbagai kejadian mengerikan, mulai dari kerusakan kulit yang permanen, sampai robeknya jaringan kulit, bahkan telinga yang robek," tambahnya.

Karp dan rekan-rekannya mulai membuat plester yang lebih baik, yang merekat kuat seperti plester yang digunakan selama ini, tetapi bisa dicabut tanpa merusak kulit yang halus.

Plester medis biasa memiliki dua lapisan – bagian belakang yang tidak lengket dan lapisan berperekat yang menempel pada kulit. Plester baru itu menambahkan lapisan perekat ketiga yang tetap menempel pada kulit setelah plester dicabut. Lapisan itu, kata Karp, bisa dicabut dengan mudah dengan bedak tabur.
 
"Apabila lapisan ini kita biarkan, seperti pada plester baru, begitu ditekan, plester ini dapat dilepas dengan mudah, tidak sakit dan lebih cepat dicabut," papar Karp.
 
Plester baru berperekat lembut itu juga akan membantu pasien berusia lanjut yang kulitnya tipis, halus dan mudah robek.
 
Plester baru itu terbuat dari bahan-bahan yang sudah digunakan secara luas, sehingga Karp percaya plester itu akan cepat disetujui, dan akan segera tersedia di rumah-rumahsakit dan klinik.
 
Artikel mengenai plester medis yang tidak menyakitkan itu diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Respon AS terhadap Konflik Rohingya - Liputan Berita VOA

Seperti di tanah air, aksi kekerasan terhadap Muslim Rohingya juga mendapat perhatian dari pemerintah maupun sebagian rakyat Amerika Serikat. Presiden Barack Obama meminta pemerintah Burma yang juga dikenal sebagai Myanmar serius merespon serangan dan relokasi paksa warga Rohingya. Amerika berharap berbagai konflik etnis di negara yang baru berdemokrasi tersebut bisa segera diatasi. Selengkapnya dilaporkan Nova Poerwadi dan tim VOA dari Washington, D.C
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang nelayan Palestina melemparkan jaringnya di sebuah pantai di kota Gaza, Palestina.
  • Gedung Parlemen Eropa saat para anggota parlemen menghadiri sesi voting di Strasbourg, Prancis.
  • Mobil-mobil yang rusak terlihat di tempat parkir sebuah Rumah Sakit setelah tornado menghantam kota Moore, negara bagian Oklahoma, 20 Mei 2013.
  • Mantan Presiden AS Bill Clinton mendengarkan Menteri Federal Jerman untuk Tenaga Kerja dan Sosial Ursula von der Leyen, kedua dari kanan, dalam sebuah forum yang membahas solusi bagi masalah pengangguran kaum muda Eropa di Universitas Madrid, Spanyol.
  • Seorang anggota geng jalanan Mara 18 yang dipenjarakan, berpose untuk foto di penjara Izalco, sekitar 65 km dari San Salvador, El Salvador.
  • Seorang pekerja berjalan di sebuah jalan kereta api baru di kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China.
  • Penyelam mendekati Leopard Ray pada sebuah pameran di Marine Life Park, Resorts World, salah satu atraksi wisata terbaru di Singapura.
  • Dua mahasiswa pegulat sumo membawa bayi yang menangis di samping wasit (tengah) dalam acara Kompetisi 'Bayi Menangis' di kuil Sensoji di Tokyo, Jepang.
  • Seorang anak laki-laki duduk di bawah kereta sambil menunggu koin jatuh dari kereta selama festival kereta 'Rato Machhindranath' di kota Lalitpur, Nepal.
Lainnya