Minggu, 21 Desember 2014 Waktu: 20:30

Berita / Indonesia

Terpidana Teroris Luncurkan Novel Mengenai Jihad

Terpidana kasus terorisme menyoroti nasib anak istri pelaku terorisme yang mengalami kesulitan ekonomi dan menghadapi stigma teroris.

Terpidana teroris Khairul Gazali memegang novelnya 'Kabut Jihad' yang ditulis di penjara. (foto: Andylala Waluyo)
Terpidana teroris Khairul Gazali memegang novelnya 'Kabut Jihad' yang ditulis di penjara. (foto: Andylala Waluyo)
Terpidana lima tahun penjara kasus terorisme di Medan, Khairul Ghazali, meluncurkan sebuah novel berjudul “Kabut Jihad” yang diterbitkan oleh Pustaka Bayan Bandung. Selain berkisah tentang kasus perampokan CIMB Niaga Medan dan penyerangan Polsek Hamparan Perak pada 2010, novel tersebut juga berisikan makna jihad dalam Islam menurut sang penulis.

“Ini adalah novel yang saya tulis dalam penjara. Dalam sel tiga kali empat meter, seorang diri, saya memahat kata demi kata,” tulisnya dalam halaman awal novel tersebut.

Meski baru menjalani sekitar dua tahun masa hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta Medan, Khairul Ghazali diberi kesempatan oleh Kementrian Politik Hukum dan Keamanan, melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), untuk hadir di acara peluncuran buku karyanya di Jakarta Rabu (20/6).

Selain mengisahkan tentang kehidupan di dalam penjara, ia juga menceritakan nasib anak istri pelaku terorisme yang mengalami kesulitan ekonomi dan selalu dicap teroris di lingkungan mereka.

“Dalam buku ini ada penyesalan, karena ada anak-anak yang jadi yatim dan wanita-wanita yang jadi janda. Itu tanggung jawab siapa? Artinya mereka-mereka yang melakukan [aksi terorisme] ini kan anak-anaknya terlantar. Lalu bagaimana menderitanya seorang wanita yang terstigma teroris di kampungnya dan tidak diterima pekerjaan,” kata Khairul. 

Khairul juga menuliskan pemikirannya soal makna jihad, yang menurutnya tidak berhubungan dengan merampok dan membunuh. Menurut ayah dari sembilan orang anak ini, Indonesia bukan medan jihad karena masyarakat masih bebas untuk mencari nafkah dan beribadah.

Menyambut baik penerbitan novel tersebut, kepala BNPT Ansyad Mbay mengatakan lembaga yang dipimpinnya itu mengedepankan pola pendekatan secara halus terhadap para mantan teroris, untuk meredam aksi-aksi radikal di masa mendatang.

“Penerbitan buku seperti ini sangat berarti sekali karena merupakan pencerahan. Di Medan, beliau [Khairul] ini dianggap tokoh ideologis oleh para tokoh teroris itu. Kita harapkan lebih banyak lagi tokoh-tokoh yang bisa muncul seperti itu,” ujar Ansyad.

Psikolog dari Universitas Indonesia Sarlito Wirawan Sarwono melihat belum ada skema nasional konsep deradikalisasi yang melibatkan instansi terkait, seperti Kementrian Agama dan Kementrian Sosial. Ia berharap BNPT dapat melakukan koordinasi lintas instansi.

“Deradikalisasi oleh pemerintah dalam bentuk operasional sejauh ini menurut pendapat saya belum ada. Harus ada sebuah skema nasional yang dilakukan secara menyeluruh kemudian lintas instansi untuk melakukan deradikalisasi. Fungsi BNPT sebagai badan koordinasi harus makin ditingkatkan dan  diefektifkan,” ujar Sarlito. (Andylala Walujo)
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: ummi ayyub
03.07.2012 18:17
Wah, lucu novelnya, penuh gejolak, derita kemanusiaan sekaligus jihad yang salah. Saya sarankan kepada produser film agar novel ini di filmkan karena bisa menyadarkan jutaan generasi muda kita agar tidak terbelit oleh gurita radikalisme dan anarkhisme jihad yang menyimpang dari syariat. Nilai sastranya cukup bagus, macam negeri 5 menara.


oleh: abi yassin
02.07.2012 23:07
saya kira, kritisi sastra kita pada tak punyai "nyali" untuk mengkritis novel kabut jihad ini, karena mereka malu sastrawan baru justru lahir dari jeruji penjara. mungkin novel ini kelak akan hebat sebagaimana novel2 karya Pram dan Sutan Takdir Alisyahbana.


oleh: md adelyn ahyan
02.07.2012 21:00
Ini novel bagus dan bisa menjelaskan perihal jihad melalui cerita sehingga tidak membosankan bagi mereka yang tak suka baca buku


oleh: aripin koto
02.07.2012 20:58
Saya kira biasa aja novel ini, kecuali pada bab Barracuda dan Dunia Tanpa Penjara. Dalam dua bab ini penulisnya berhasil memecah kebekuan sastra Indonesia yg selama ini stagnan. Disini ada revolusi pemikiran baru yang menyegarkan sastra kita. Patut dibanggakan karena ditulis dari penjara. Sebanding dengan novel fenomenal Laskar Pelangi.

 

 

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook