Selasa, 21 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 16:31

Berita / Dunia

Studi: Kaitan El Nino dan Perubahan Iklim Samar

Studi di Amerika menunjukkan bahwa fenomena cuaca El Nino tampaknya tidak terkait dengan perubahan iklim.

Banjir parah di Bolivia pada 2007 yang dipicu fenomena cuaca El Nino, menewaskan 35 orang dan berdampak pada 70.000 keluarga. (AP/Juan Karita)
Banjir parah di Bolivia pada 2007 yang dipicu fenomena cuaca El Nino, menewaskan 35 orang dan berdampak pada 70.000 keluarga. (AP/Juan Karita)
UKURAN HURUF - +
Frekuensi dan volatilitas El Nino, pola cuaca yang menghantam Samudera Pasifik yang tropis setiap sekitar lima tahun, sepertinya tidak terkait dengan perubahan iklim, menurut sebuah riset di Amerika yang hasilnya diumumkan Kamis (3/1)

Studi tersebut melibatkan para ilmuwan yang mengukur pertumbuhan fosil karang purba di dua pulau Pasifik tropis setiap bulan, untuk menentukan apa, jika ada, dampak iklim yang lebih panas pada fenomena cuaca tersebut.

Dengan melakukan rekonstruksi suhu dan curah hujan selama beberapa milenium, para ilmuwan membandingkannya dengan frekuensi dan intensitas El Nino dan menemukan bahwa memang pola tersebut menjadi lebih intens dan kerap pada abad ke-20.

Namun meskipun kenaikannya secara statistik signifikan dan dapat dikaitkan dengan perubahan iklim, catatan sejarah panjang yang diberikan oleh fosil karang tersebut memungkinkan para peneliti menentukan bahwa Osilasi (pola alunan) Selatan El Nino, atau ENSO, juga mengalami variasi alami yang besar dalam beberapa abad terakhir.

Untuk itu, tidak jelas apakah perubahan-perubahan yang terlihat pada dekade-dekade terakhir dapat dikaitkan dengan perubahan iklim yang disebabkan oleh peningkatan level karbondioksida, ujar para peneliti tersebut.

“Variabilitas level ENSO yang kita lihat di abad 20 tidak ditemukan sebelumnya,” ujar ahli iklim Profesor Kim Cobb dari Fakultas Ilmu Bumi dan Atmosfer di Georgia Institute of Technology.

“Namun memang abad 20 secara statistik tampak menonjol, lebih tinggi dibandingkan dengan gars dasar karang fosil.”

Studi tersebut disponsori oleh National Science Foundation dan diterbitkan oleh jurnal Science. Para peneliti dari Lembaga Oseanografi Scripps dan University of Minnesota juga berkontribusi pada penelitian tersebut.

El Nino terjadi setiap dua sampai tujuh tahun sekali, saat angin yang mendorong sirkulasi air permukaan di Pasifik yang tropis mulai melemah.

Massa air hangat terbentuk di Pasifik barat dan kemudian melaju ke sisi timur samudera, menyebabkan perubahan curah hujan yang besar, mengakibatkan banjir dan tanah longsor di negara-negara di wilayah tersebut yang biasanya tandus.

El Nino kemudian digantikan oleh fase dingin, La Nina, yang biasanya terjadi pada tahun berikutnya. (AFP)
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Kilas VOA 22 Mei 2013

Kerusuhan bernuansa etnis di Stockholm, Swedia memasuki hari kedua. Petugas dan relawan AS mencari korban selamat angin tornado yang menewaskan puluhan orang di Oklahoma. Rahi Moharrak kembali ke Nepal setelah sukses menjadi pendaki perempuan Saudi pertama di Gunung Everest. Ilmuwan Brazil melestarikan monyet tamarin singa emas dengan mencegah kawin silang dengan monyet yang masih sekerabat.
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang nelayan Palestina melemparkan jaringnya di sebuah pantai di kota Gaza, Palestina.
  • Gedung Parlemen Eropa saat para anggota parlemen menghadiri sesi voting di Strasbourg, Prancis.
  • Mobil-mobil yang rusak terlihat di tempat parkir sebuah Rumah Sakit setelah tornado menghantam kota Moore, negara bagian Oklahoma, 20 Mei 2013.
  • Mantan Presiden AS Bill Clinton mendengarkan Menteri Federal Jerman untuk Tenaga Kerja dan Sosial Ursula von der Leyen, kedua dari kanan, dalam sebuah forum yang membahas solusi bagi masalah pengangguran kaum muda Eropa di Universitas Madrid, Spanyol.
  • Seorang anggota geng jalanan Mara 18 yang dipenjarakan, berpose untuk foto di penjara Izalco, sekitar 65 km dari San Salvador, El Salvador.
  • Seorang pekerja berjalan di sebuah jalan kereta api baru di kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China.
  • Penyelam mendekati Leopard Ray pada sebuah pameran di Marine Life Park, Resorts World, salah satu atraksi wisata terbaru di Singapura.
  • Dua mahasiswa pegulat sumo membawa bayi yang menangis di samping wasit (tengah) dalam acara Kompetisi 'Bayi Menangis' di kuil Sensoji di Tokyo, Jepang.
  • Seorang anak laki-laki duduk di bawah kereta sambil menunggu koin jatuh dari kereta selama festival kereta 'Rato Machhindranath' di kota Lalitpur, Nepal.
Lainnya