Selasa, 21 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 12:35

Berita / Iptek / Lingkungan Hidup

50 Negara Kepulauan Kecil Bahas Perubahan Iklim di Mauritius

Para ahli dari 50 lebih negara kepulauan kecil bertemu pekan ini di Mauritius untuk membahas perubahan iklim dan ketahanan pangan.

Replika kapal bajak laut 'Flor de la Mar' digunakan untuk membawa turis mengelilingi pulau Mauritius (Foto: dok). Sekitar 50 negara kepulauan kecil berkumpul di pulau ini untuk berdiskusi terkait maslaah perubahan iklim.
Replika kapal bajak laut 'Flor de la Mar' digunakan untuk membawa turis mengelilingi pulau Mauritius (Foto: dok). Sekitar 50 negara kepulauan kecil berkumpul di pulau ini untuk berdiskusi terkait maslaah perubahan iklim.
UKURAN HURUF - +
Negara-negara kepulauan kecil itu merupakan kelompok negara yang disebut Negara Kepulauan Kecil Berkembang, diantaranya Haiti, Fiji, Jamaika dan Mauritius, yang menjadi tuan rumah pertemuan ini. Pertemuan ini mengangkat tema Negara Kepulauan Ekonomi Kecil: Dari Kerentanan Menjadi Peluang.

Di antara yang ikut pertemuan adalah Michael Hailu, direktur Pusat Kerjasama Teknis Pertanian dan Pedesaan."Negara-negara kepulauan kecil memiliki banyak kelemahan karena ukurannya yang kecil. Negara-negara itu sangat bergantung pada komoditas tunggal atau pariwisata sebagai sumber pendapatan mereka. Mereka juga rentan terhadap perubahan iklim dan bencana alam lainnya. Jadi mereka punya sejumlah masalah yang sangat spesifik," kata Michael Hailu.

Hailu mengatakan negara kepulauan kecil telah melihat dampak perubahan iklim.
"Berbagai kondisi cuaca ekstrim mempengaruhi banyak pulau. Badai dan kekeringan serta semua hal tersebut sering terjadi. Jadi mereka sangat rentan dan banyak yang menghadapi bencana alam. Dari Haiti sampai banyak pulau lainnya telah menghadapi masalah ini," ungkapnya.

Mereka juga prihatin tentang harga pangan yang sering berubah sejak krisis pangan global tahun 2007-2008. Menurut Haliu, dampak krisis pangan cukup besar di negara-negara kecil karena mereka banyak mengimpor makanan dari luar negeri yang sebagian besar digunakan untuk melayani banyak wisatawan yang berkunjung.

"Ketika harga naik secara global maka biaya impor sangat terpengaruh.Tapi sekarang mereka lebih banyak memusatkan perhatian pada pengembangan pertanian lokal," kata Hailu. Menurutnya ini tidak hanya mengurangi biaya makanan impor, tetapi juga menyediakan produk alternatif lokal yang lebih sehat bagi konsumen.

Peserta konferensi mengamati baik kesulitan maupun peluang.'"Pertemuan ini pada dasarnya melihat bagaimana mereka bisa meningkatkan ketahanan terhadap berbagai masalah, dan bagaimana menempatkan diri dalam posisi yang lebih baik untuk menghadapi krisis-krisis yang dihadapi dari waktu ke waktu," kata Hailu.

Negara-negara kepulauan itu diperkirakan akan menyuarakan keprihatinan dan ide-ide mereka dalam pertemuan RIO+20 bulan Juni tentang pembangunan berkesinambungan. PBB mengelompokkan 52 negara dan wilayah itu sebagai Negara Kepulauan Kecil Berkembang. Kebanyakan berada di wilayah Karibia dan Pasifik.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Respon AS terhadap Konflik Rohingya - Liputan Berita VOA

Seperti di tanah air, aksi kekerasan terhadap Muslim Rohingya juga mendapat perhatian dari pemerintah maupun sebagian rakyat Amerika Serikat. Presiden Barack Obama meminta pemerintah Burma yang juga dikenal sebagai Myanmar serius merespon serangan dan relokasi paksa warga Rohingya. Amerika berharap berbagai konflik etnis di negara yang baru berdemokrasi tersebut bisa segera diatasi. Selengkapnya dilaporkan Nova Poerwadi dan tim VOA dari Washington, D.C
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang wanita mempersiapkan upacara tradisional Gwan-Rye di Seoul, Korea Selatan. Upacara ini diadakan bagi anak laki-laki dan perempuan yang menginjak usia 20 tahun, sebagai individu yang independen.
  • Sebuah balon udara jatuh ke tanah setelah bertabrakan dengan yang lain selama perjalanan di Cappadocia, Turki. Dua wisatawan Brazil tewas dan 23 orang lainnya terluka akibat tabrakan dua balon udara tersebut.
  • Perempuan dan anak-anak antri untuk mengambil air dari keran di sebuah kamp bagi para pengungsi di kota al-Mazraq, provinsi Hajja, Yaman barat laut.
  • Badai tornado (puting beliung) hampir menyentuh tanah di dekat South Haven, di negara bagian Kansas, AS.
  • Para fotografer bekerja selama sesi pemotretan untuk film "Blood Ties" di Festival Film Cannes ke-66 di Cannes, Prancis.
  • Seorang wanita mengenakan gaun dari bunga segar yang dirancang oleh desainer Zita Elze, berpose untuk difoto di sebuah taman pada pameran bunga Chelsea, di London, Inggris.
  • Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (tengah) dan isterinya Ri Sol-ju saat berkunjung ke kamp anak-anak 'Pyongyang Myohyangsan' yang terletak di kaki Gunung Myohyang di Provinsi Phyongan Utara (foto courtesy: KCNA).
  • Pekerja mendorong sebuah rakit bambu besar, sementara yang lain mencoba membongkar bagian-bagian rakit bambu itu di Sittwe, negara bagian Rakhine, Burma.
  • Para pebalap sepeda naik tanjakan dalam etape ke-15 sepanjang 146 km, lomba balap sepeda Giro d'Italia di perbatasan Italia-Perancis.
  • Para anggota kelompok Castellers "Vila de Gracia" mulai membentuk menara manusia yang disebut "castell" di lingkungan Barcelona Gracia, di Catalonia, Spanyol.
Lainnya