Rabu, 30 Juli 2014 Waktu UTC: 15:09

Berita / AS / Pemilu AS

Romney Kritik Gedung Putih terkait Serangan atas Kedubes AS di Kairo

Romney mengatakan pemerintahan Obama keliru mengeluarkan pernyataan yang menurutnya, bersimpati pada mereka yang menyerbu kedutaan AS di Kairo, bukannya mengecamnya.

Capres Partai Republik, Mitt Romney menyalahkan reaksi pemerintahan Obama atas serangan terhadap Kedutaan AS di Kairo (foto: dok).
Capres Partai Republik, Mitt Romney menyalahkan reaksi pemerintahan Obama atas serangan terhadap Kedutaan AS di Kairo (foto: dok).
Kandidat presiden Amerika dari partai Republik Mitt Romney hari Rabu membela kritik sebelumnya terhadap pemerintahan Obama, terkait serangan-serangan terhadap pos-pos diplomatik Amerika di Libya dan Mesir pada hari Selasa.

Serangan terhadap kedutaan Amerika di ibukota Mesir, Kairo, dan konsulat Amerika di Benghazi, Libya, dikaitkan dengan video amatir yang dibuat di Amerika, yang dianggap umat Islam menghina Nabi Muhammad. Empat diplomat Amerika, termasuk Duta Besar Amerika untuk Libya J Christopher Stevens, tewas dalam serangan di Benghazi.

Sewaktu berbicara kepada wartawan di Jacksonville, Florida, hari Rabu, Romney mengatakan pemerintah keliru mengeluarkan pernyataan yang menurutnya, bersimpati pada mereka yang menerobos kedutaan Amerika di Mesir, bukannya mengecam tindakan mereka.

Setelah serangan itu, Kedutaan Amerika di Kairo mengeluarkan pernyataan yang mengutuk upaya-upaya orang-orang yang terpedaya untuk menyakiti perasaan umat Islam. Pernyataan kedutaan itu dilansir sebelum korban tewas di Libya diumumkan.
Selasa malam, Romney menyebut pernyataan kedutaan itu memalukan. Sebagai tanggapan, jurubicara kampanye Obama Ben LaBolt mengatakan ia terkejut dengan serangan politik kandidat partai Republik pada waktu Amerika menghadapi kematian tragis diplomatnya di Libya.

Hari Rabu, Romney membela kritik terdahulunya, dengan mengatakan pernyataan dari Kedutaan Amerika di Kairo serupa dengan permintaan maaf, salah perhitungan yang parah, dan tidak konsisten dengan prinsip-prinsip Amerika. Ia juga menyatakan serangan di Libya itu keterlaluan dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga keempat diplomat Amerika yang tewas.

Presiden Barack Obama dan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton Rabu mengatakan bahwa tidak ada pembenaran bagi kekerasan tidak masuk akal yang menewaskan para diplomat Amerika di Libya dan mereka yang bertanggungjawab harus diajukan ke pengadilan.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

Video & Foto Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Kebebasan Beragama Internasional 2013i
X
30.07.2014
Deplu Amerika kembali menerbitkan laporan tahunan menyangkut kebebasan beragama internasional. Dan Indonesia tetap tercantum, sebagai negara yang masih mempunyai masalah dalam kebebasan beragama. Selengkapnya ikuti laporan tim VOA berikut ini.
Video

Video Kebebasan Beragama Internasional 2013

Deplu Amerika kembali menerbitkan laporan tahunan menyangkut kebebasan beragama internasional. Dan Indonesia tetap tercantum, sebagai negara yang masih mempunyai masalah dalam kebebasan beragama. Selengkapnya ikuti laporan tim VOA berikut ini.
Video

Video Tokoh Kartun 'Pemeras' Meresahkan Pengunjung ke New York

Belakangan, ada tren yang cukup meresahkan turis ke kota New York, yakni pemeran tokoh kartun yang terkesan memeras turis untuk foto bersama. Selengkapanya dilaporkan tim VOA dari Washington, D.C.
Video

Video Kilas VOA 30 Juli 2014

Uni Eropa jatuhkan sanksi ekonomi baru bagi Rusia. Israel siap perang lama, lanjutkan gempuran ke kelompok Hamas. Bentrok antar milisi menyebabkan kelangkaan BBM di Libya. Pangeran William dan Harry berlatih bersama atlet Pesta Olahraga Persemakmuran.
Video

Video Lebaran di Ibukota Amerika

Seperti tahun tahun sebelumnya setiap Idul Fitri, komunitas Muslim Indonesia mengadakan sholat Eid bersama. Bagaimana suasananya? ikuti laporan tim VOA berikut ini.
 Aktivitas di Facebook