Sabtu, 01 Nopember 2014 Waktu UTC: 04:00

Berita / Indonesia

Produsen Kertas Raksasa Janji Hentikan Penebangan Hutan Indonesia

Asia Pulp & Paper Group berkomitmen menghentikan penebangan hutan di Indonesia, namun organisasi lingkungan ragu dengan komitmen yang pernah dilanggar sebelumnya itu.

Lebih dari tiga perempat wilayah Indonesia ditutupi oleh hutan hujan tropis 25 tahun yang lalu, namun setengahnya sudah hilang sekarang ini. (Foto: Ilustrasi)
Lebih dari tiga perempat wilayah Indonesia ditutupi oleh hutan hujan tropis 25 tahun yang lalu, namun setengahnya sudah hilang sekarang ini. (Foto: Ilustrasi)
Salah satu perusahaan kertas terbesar di dunia berjanji pada Selasa (5/2) untuk menghentikan para pemasoknya menebangi hutan alami di Indonesia, suatu langkah yang diharapkan dapat melindungi habitat satwa langka yang terancam seperti orangutan dan harimau Sumatra serta membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.

Asia Pulp & Paper Group bekerja sama dengan lembaga-lembaga lingkungan hidup Greenpeace dan Forest Trust untuk membuat rencana yang dilakukan pada 1 Februari. Implementasinya termasuk kebergantungan pada pohon-pohon yang ditanam di perkebunan dan juga pengawasan yang dilakukan kelompok-kelompok dari luar perusahaan untuk menjamin transparansi.

“Ini komitmen dan investasi besar dari APP Group,” ujar pemimpin tertinggi perusahaan Teguh Ganda Wijaya dalam pernyataan tertulis, seperti dikutip kantor berita Associated Press.

“Kami melakukan hal ini untuk kesinambungan bisnis kami dan manfaat untuk masyarakat. Kami harap para pemegang saham akan mendukung kebijakan baru kami, membantu kami dan mendesak pemain lain dalam industri ini untuk mengikuti langkah kami.”

Perusahaan ketiga terbesar di dunia ini awalnya diharapkan melaksanakan rencananya pada 2015. Namun tekanan yang besar dari kelompok-kelompok lingkungan hidup untuk mengubah praktik-praktiknya, termasuk menebang hutan untuk membuat perkebunan.

Langkah ini disambut baik oleh lembaga Forest Trust sebagai contoh yang baik.

“Jika salah satu produsen kertas terbesar di dunia dapat mencari cara menyelesaikan masalah sosial dan lingkungan yang kompleks yang menghambat rantai pasokan, maka yang lain dapat melakukannya,” ujar Scott Poynton, direktur eksekutif organisasi tersebut.

“Hal ini menandai awal dari sebuah dorongan global untuk mengatasi sumber paling destruktif dari deforestasi di dunia.”

Sementara itu, lembaga lingkungan hidup WWF merasa ragu dengan pengumuman dari APP, yang menjual produknya di 65 negara dan memiliki kapasitas produksi 9 juta ton per tahun di Indonesia.

Perusahaan APP di Indonesia tersebut telah gagal menjalankan komitmen serupa sebelumnya, termasuk perjanjian dengan WWF yang ditandatangani pada 2003 untuk melindungi hutan-hutan dengan nilai konservasi tinggi untuk periode awal 12 tahun.

Aditya Bayunanda dari WWF mengatakan pengumuman tersebut “merupakan langkah besar dan jika mereka serius dengan komitmennya, saya kira gerakan konservasi akan menghargainya.”

“Namun sekali lagi kita harus mengklarifikasi apakah komitmen-komitmen tersebut benar adanya.”

Aditya mengatakan bahwa APP memiliki sejarah panjang melanggar janji.

"APP beberapa kali telah berkomitmen untuk menghentikan penebangan hutan alam 100 persen. Mereka memiliki tenggat waktu 2004, tapi melanggarnya. Kemudian dibuat lagi 2007, dan juga tak ditepati. Mereka membuat tenggat lagi 2009, yang juga tidak dipenuhi. Jadi APP memiliki rekam jejak tidak memenuhi komitmen,” ujarnya.

“Saya kira tidak salah jika kelompok-kelompok sosial dan lingkungan sedikit curiga kali ini apakah mereka akan berbuat serupa.”

Aditya juga mengatakan Forest Trust tidak sepenuhnya independen.

"Kami hanya akan mempercayai pihak ketiga yang independen dan Forest Trust lebih sebagai konsultan yang dikontrak oleh APP,” ujarnya. “Saya kira itu tidak membuat mereka memiliki kualifikasi sebagai pengawas yang independen.”

Lebih dari tiga perempat wilayah Indonesia ditutupi oleh hutan hujan tropis 25 tahun yang lalu, namun setengahnya sudah hilang sekarang ini. (AP/ABC/AFP)
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: retno widiastuti dari: Yogyakarta- Indonesia
06.02.2013 12:34
Jika APP berkomitmen untuk menghentikan penebangan kayu untuk pulp, lalu bahan apa penggantinya? kalau tidak salah untuk membuat 1 ton kertas diperlukan 13 batang besar kayu, kalau produk APP 9 juta ton/tahun = 13 x 9000.000 = 117.000.000 batang kayu per tahun diperlukan. Pengganti bahan berselulosa paling dekat dengan sifat kayu untuk pulp adalah bambu. Masalahnya untuk pabrikasi pulp butuh bambu sangat banyak, sehingga lahan yang dibutuhkan sangat luas, maukah para petinggi berkomitmen mengurangi carbon? bambu jelas menyerap carbon dioksida dan menghasilkan oksigen lebih banyak daripada kayu, cepat tumbuh (4-5 tahun) mulai bisa dipanen dan mampu bertahan selama lebih seratus tahun jika dipanen secara berkala, rebungnya enak dimakan atau untuk obat. Saya pikir ini sejalan dengan komitmen 14 kementerian untuk mengangkat bambu sebagai soko guru perekonomian. China sebagai negeri tirai bambu membangun hutannya lebih dari 20 tahun terakhir seluas 15 juta Ha untuk berbagi keperluan industri, termasuk pulp untuk rayon tekstil. Nach tunggu apa lagi


oleh: Arwin dari: Indonesia
06.02.2013 08:27
Bukan hanya janji tetapi perlu realitas dan implementasinya secara nyaata di lapangan.

 

 

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook