Jumat, 31 Oktober 2014 Waktu UTC: 14:06

Berita / Politik

Presiden Perancis François Hollande Disambut Meriah di Mali

Presiden Perancis Francois Hollande hari Sabtu menerima sambutan yang meriah di Mali, tiga minggu setelah dimulainya intervensi militer Perancis yang membantu menghentikan serangan militan Islamis memasuki Mali Selatan dan merebut kembali tiga kubu di Mali Utara yang diduduki pemberontak terkait al-Qaeda selama 10 bulan.

Presiden Perancis François Hollande dalam pidatonya di Bamako mengatakan, ke-4600 tentara Perancis yang terlibat dalam “Operasi Serval” –berada di Mali – bertempur “sebagai saudara” bersama-sama pasukan Mali. Berdiri disampingnya adalah Presiden Mali Dioncounda Traoré, kedua dari kiri (foto, 2/3/2013).
Presiden Perancis François Hollande dalam pidatonya di Bamako mengatakan, ke-4600 tentara Perancis yang terlibat dalam “Operasi Serval” –berada di Mali – bertempur “sebagai saudara” bersama-sama pasukan Mali. Berdiri disampingnya adalah Presiden Mali Dioncounda Traoré, kedua dari kiri (foto, 2/3/2013).
Anne Look
Warga Timbuktu hari Sabtu menari-nari, menabuh gendang, dan bersorak-sorai di jalan-jalan ketika mereka menyambut Presiden Perancis François Hollande.  Ekspresi kegembiraan ini sebelumnya dilarang oleh militan terkait al-Qaeda yang menguasai kota itu sepekan lalu.
 
Presiden Hollande dalam pidatonya di Bamako mengatakan, ke-4600 tentara Perancis yang terlibat dalam “Operasi Serval” –berada di Mali – bertempur “sebagai saudara” bersama-sama pasukan Mali.
 
Presiden François Hollande mengatakan, “di kota demi kota, desa demi desa, tentara Perancis dan Mali didukung tentara regional telah memulihkan integritas Mali sebagai wilayah kesatuan, dan integritas kawasan.” Teroris, ujarnya, didorong mundur dan diusir, tetapi belum dikalahkan.
 
Intervensi militer Perancis itu dimulai berdasarkan permintaan pemerintah Mali tanggal 11 Januari, kurang dari dua hari setelah gerilyawan yang menguasai Mali Utara sejak bulan April melancarkan serangan mengejutkan di selatan.
 
Tentara Mali yang sudah lemah akibat kekalahan di Mali Utara dan kudeta di selatan tahun lalu tidak dapat menahan kelompok militan itu sendirian. Pesawat-pesawat Perancis melakukan pemboman setiap hari terhadap sasaran-sasaran militan di seluruh bagian utara dan pasukan darat Perancis ditempatkan di kota-kota seperti Kidal yang terletak paling utara.
 
Banyak gerilyawan melarikan diri dari kota-kota utama, membaur di antara penduduk dan bersembunyi di bukit-bukit dan pegunungan di utara, kata sumber-sumber militer.
 
Ancaman perang gerilya yang mengerikan membayangi negara itu, bahkan ketika warga Mali merayakan kemenangan selama tiga pekan ini.
 
Presiden Perancis François Hollande mengatakan, kelompok teroris itu telah melemah dan menderita kerugian besar, tetapi belum lenyap. Ia mengatakan, pasukan akan tetap memburu mereka, dan Perancis akan berada di Mali selama dibutuhkan, artinya, menurut Hollande, hingga pasukan kawasan Afrika yang masih akan ditempatkan di Mali siap mengambil alih tugas bersama tentara Mali.
 
François Hollande berusaha meyakinkan warga Mali dengan mengatakan tentara Perancis tidak berada di sana untuk membela kepentingan Perancis atau berpihak, tetapi untuk memerangi teroris di kawasan itu dan di dunia.
 
Kerumunan massa di Bamako melambai-lambaikan bendera kedua negara. Seorang perempuan menggambar bendera Perancis berbentuk hati di atas bendera Mali. Warga lain melambai-lambaikan spanduk bertuliskan “Merci Papa Hollande” atau “Terima Kasih Bapak Hollande.”
 
Presiden sementara Mali Diouncounda Traoré hari Sabtu mengatakan tanpa bantuan Perancis, Mali sudah musnah.
 
Kedua presiden mendesak warga Mali untuk  menghormati HAM.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

 

 

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook