Kamis, 23 Oktober 2014 Waktu UTC: 08:40

Berita / Indonesia

Penggiat Bambu Yogyakarta Desak Pemerintah Tanam Bambu Secara Meluas

Para penggiat bambu di Yogyakarta mendesak pemerintah mengeluarkan kebijakan penanaman bambu secara luas sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Industri angklung terancam gulung tikar akibat kekurangan bahan baku bambu (Foto: VOA/ Munarsih)
Industri angklung terancam gulung tikar akibat kekurangan bahan baku bambu (Foto: VOA/ Munarsih)
Munarsih Sahana
Bambu merupakan tanaman strategis yang berguna sebagai bahan baku industri -  mulai dari makanan, mebel, bahan bangunan , bahan pembuat kertas, serta tekstil dan limbahnya masih bisa diolah sebagai bahan energi alternatif.

Namun, sebagian besar pembuat kerajinan di Yogyakarta saat ini mulai kekurangan bahan baku bambu, sedangkan pembuat instrumen musik angklung Ujo di Jawa Barat juga akan berhenti berproduksi dua tahun lagi jika tidak ada tambahan pasokan bahan baku berupa bambu. Sementara angklung sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya asli Indonesia.

Dibandingkan Tiongkok yg dikenal sebagai Negara Tirai Bambu, mereka saat ini memiliki 15 juta hektar tanaman bambu yang menghasilkan devisa senilai 110-triliun rupiah per-tahun. Indonesia sejak tahun 2004 sudah berhenti mengekspor bambu.

Salah satu penggiat bambu, Retno Widiastuti, yang juga peneliti bambu pada  Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta mengatakan, selain multi-fungsi, tanaman bambu juga baik untuk menyelamatkan lingkungan.

"Banyak sekali rakyat kita yang mengembangkan usaha di sektor bambu. Bambu sangat ramah lingkungan karena menghasilkan oksigen tetapi menyerap karbon-monoksida yang lebih banyak. Kemudian akar-akarnya yang kompak mampu menahan erosi yang kini terjadi di banyak daerah,” kata Retno Widiastuti.

Menanggapi  usulan penggiat bambu Yogyakarta, direktur Bina Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan Haryadi Himawan mencanangkan Yogyakarta bersama empat propinsi lainnya yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Bali dan Lampung dijadikan daerah  perintis untuk memulai penanaman bambu secara luas.

“Yogya menjadi pengungkit gerakan yang pertama dan nanti kami akan kembangkan ke kota-kota lain. Gerakan bambu secara nasional itu bisa terwujud dalam bentuk penanaman maupun penataan di sektor hilir. Dari lima daerah ini kita akan kembangkan menjadi sentra-sentra bambu dan cluster-cluster bambu’," kata Haryadi Himawan.

Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki hutan seluas 18-ribu hektar, saat ini baru 220 hektar yang ditanami tanaman bambu baru. Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Serayu-Opak dan Progo,  Kukuh Sutoto menawarkan untuk secepatnya melakukan penanaman  seribu hektar bambu, termasuk di daerah Aliran sungai sepanjang 60 kilometer yang ada di wilayah Yogyakarta .

“Satu hektar empat-ratus rumpun (bambu),  satu rumpun apabila sudah berproduksi rata-rata lima batang. Kalau lima batang ketemu empat-ratus ketemu 2000 batang. Seandainya dinilai yang murah saja Rp 20.000, katakanlah. Seandainya Yogya bisa mencapai satu juta hektar dibagi empat kabupaten, kita akan menerima devisa Rp 400 triliun devisanya,” ungkap Kukuh Sutoto.

Selama ini tanaman bambu kurang  dibudidayakan sebagai akibat modernisasi wilayah pedesaan. Banyak warga masyarakat bahkan para birokrat salah persepsi dalam menilai bambu, mereka menganggap bambu kurang modern dan merepresentasikan kemiskinan.
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: Retno Widiastuti dari: Yogyakarta
05.02.2013 14:09
Pak Wahyono, kita memiliki lebih dari 150 jenis bambu. Pernyataan Pak Kukuh BPDAS dan komentar anda juga benar. bambu apus Rp. 3000 di Sleman, Magelang, Purworejo, dsk itupun nebang sendiri di tempat yang sulit dan curam; Rp. 4000 jika bambu ditebang di pekarangan dan mudah. Jika diawetkan bambu apus bisa dihargai Rp 24.000. Untuk bambu betung menebang sendiri harga Rp. 30.000 - 40.000 tergantung lokasi, jika telah diawetkan bisa mencapai Rp. 150.000. Kegunaan bambu sejak akar sampai daun semua bermanfaat, sehingga bambu disebut " the tree of life", jika mas Wahyono dan siapa saja berminat untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat melalui bambu, silahkan bergabung dengan kami dan saya akan email artikel-artikel tentang manfaat bambu di dalam maupun luar negeri


oleh: wahyono dari: kota solo
03.02.2013 17:42
siapa bilang bambu per batang 20000? kalau 3 000 per batang bener.
itu yang menjadikan masyarakat enggan menanam bambu.
coba sosialisasikan kriteria bambu yang diperlukan, harganya , dan jaminan dibeli semua bambu yang memenuhi persyaratan, pasti tak akan kekurangan pasokan.

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook