Selasa, 23 September 2014 Waktu UTC: 02:18

Pengalaman Pertama Ramadhan di Amerika

Nurina dan Malik yang baru beberapa bulan tinggal di Amerika berbagi pengalaman pertama puasa di Amerika.

Musim panas di Washington D.C suhunya bisa mencapai 40 derajat Celcius.
Musim panas di Washington D.C suhunya bisa mencapai 40 derajat Celcius.

Multimedia

Audio
  • http://media.voanews.com/audio/AMDEV+1st+Ramadhan+Experience+in+US+081710+ES+VM.Mp3

Vina Mubtadi

Bagi Mohammad Malik Amrullah Basri, Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan pertamanya di Amerika.

“Alhamdulillah bisa menjalankan puasa di Amerika. Sayangnya tidak bisa merasakan suasana bulan Ramadhan seperti di Tanah Air,” kata Malik.

Pria yang baru tinggal di Amerika selama tiga bulan itu mengatakan berpuasa di Amerika penuh dengan tantangan. Apalagi Ramadhan kali ini jatuh pada musim panas, sehingga puasa terasa lebih berat. Seperti yang dirasakan oleh seorang pendatang baru lainnya, Nurina Savitri.

Menurut Malik, Ramadhan juga saat yang tepat untuk bersilaturahmi.
Menurut Malik, Ramadhan juga saat yang tepat untuk bersilaturahmi.

“Rasanya panjang dan lama. 15 jam. Apalagi di Washington D.C cuacanya sangat gerah. Jadi lebih enak kalau puasa panjang dan musim panas seperti ini kita sibuk di kantor saja, karena kalau di luar lembab dan cepat haus,” ujar Nurina.

Selain suhu tinggi yang terkadang mencapai 40 derajat Celcius, tantangan lain yang mereka rasakan adalah suasana yang kurang mendukung. Tidak seperti Indonesia yang lebih dari 88 persen penduduknya adalah Muslim, di Amerika jumlahnya kurang dari satu persen. Malik mengatakan suasana tradisional yang biasa dijumpai di Indonesia tidak terlihat di Amerika.

“Karena Muslim di Amerika minoritas, banyak orang yang makan minum di sekitar kita. Tidak ada suara adzan, tidak ada orang yang memukul kentungan seperti di Indonesia, tidak ada acara-acara TV yang bernuansa Islami,” jelas Malik.

Nurina, yang baru tinggal di Amerika selama empat bulan, merindukan tajil atau hidangan khas saat buka puasa yang banyak disajikan di Indonesia.

“Yang paling dikangenin kolak pisang dan suasana buka puasa bersama teman-teman kantor, keluarga… Kangen kumpul-kumpul.”

Nurina kangen berbuka puasa dengan kolak pisang bersama keluarga dan teman-teman.
Nurina kangen berbuka puasa dengan kolak pisang bersama keluarga dan teman-teman.

Meskipun banyak tantangan, hal itu tidak mengganggu aktivitas mereka sehari-hari. Ia mengatakan dirinya tetap menjalankan pekerjaan sebagai jurnalis yang mengharuskannya melakukan berbagai peliputan.

“Yang penting niat kalau puasa. Mau itu 20 jam, atau suhu tinggi, kalau memang sudah niat, Insya Allah lancar,” kata Nurina menambahkan.

Malik, yang sehari-hari menjadi pelatih badminton mengatakan, aktivitasnya justru semakin bertambah. Selama bulan suci Ramadhan, ia terlibat dalam beberapa kegiatan yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington D.C.

Selain untuk beribadah, kata Malik, bulan Ramadhan adalah momen yang tepat untuk menjalin tali silaturahmi.

Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda