Selasa, 31 Mei 2016 Waktu: 10:54

    Berita / Dunia

    Pemimpin Dunia Akan Bahas Perubahan Iklim di Davos

    Forum Ekonomi Dunia (WEF) akan menjadikan perubahan iklim isu prioritas minggu ini, karena pemerintah dunia dianggap telah gagal mengatasinya.

    Christine Lagarde, direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan bahwa kecuali ada tindakan untuk perubahan iklim, generasi-generasi mendatang akan terkena dampaknya. (AP/Michel Euler)
    Christine Lagarde, direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan bahwa kecuali ada tindakan untuk perubahan iklim, generasi-generasi mendatang akan terkena dampaknya. (AP/Michel Euler)
    Perubahan iklim kembali menjadi agenda global, dengan debat yang terjadi pada pertemuan forum ekonomi dunia di Davos, yang memperikan energi baru bagi Presiden AS Barack Obama dan Sekretari Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon yang akan menjadikannya prioritas minggu ini.

    Namun para pemimpin usaha masih kesulitan menemukan insentif ekonomi untuk mengubah praktik-praktik yang ada.

    Mantan presiden Meksiko Felipe Calderon mengingatkan akan “krisis iklim yang berpotensi sangat merugikan ekonomi global.” Christine Lagarde, direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan, “kecuali kita mengambil tindakan untuk perubahan iklim, generasi-generasi mendatang akan terpanggang, terbakar, dan tergoreng.”

    Namun ada keterpisahan antara peningkatan bukti adanya cuaca ekstrem – dari Super Badai Sandy di Amerika Serikat pada Oktober sampai panas tinggi di Australia bulan ini – dengan respon terbatas dari politisi dan pengusaha.

    Dalam beberapa kasus, benturannya sangat kentara, seperti terlihat Jumat lalu ketika para aktivis LSM lingkungan Greenpeace menutup pom bensin Shell dekat pertemuan WEF untuk memprotes pengeboran minyak di Arktik yang dipermudah karena meningkatnya suhu Bumi.

    Banyak perusahaan menggembar-gemborkan kesempatan dalam pergeseran ke ekonomi dengan tingkat karbon rendah, namun realitasnya adalah krisis ekonomi yang berlanjut telah menghambat dunia usaha dan pemerintahan untuk mengembangkan rencana jangka panjang.

    Pertumbuhan yang pesat dari “shale gas”-- alternatif yang lebih hijau daripada batubara ketika dibakar, meski tidak ketika bocor ke atmosfer – juga membuat sumber energi terbarukan kurang menarik, ditambah dengan tantangan yang ada.

    Sebagai akibatnya, meski investasi global untuk energi terbarukan meningkat, dunia masih harus menghabiskan US$700 miliar setiap tahun untuk menekan ketergantungan akan bahan bakar minyak, menurut sebuah studi yang dikeluarkan WEF minggu ini.

    “Debat iklim sangat kekurangan perasaan mendesak. Perusahaan besar menghambat kita semua,” ujar direktur eksekutif Greenpeace Kumi Naidoo.

    Pihak usaha sendiri mengeluhkan kegagalan pemerintah dalam menyediakan kerangka regulasi yang jelas telah membatasi kemampuan mereka merencanakan masa depan.
    Setelah kegagalan-kegagalan sebelumnya, pemerintah-pemerintah berniat membuat rencana PBB baru untuk mengatasi perubahan iklim pada 2015, namun hal itu baru akan dilaksanakan 2020.

    Lembaga energi International Energy Agency memperingatkan bulan lalu bahwa dunia akan membakar sekitar 1,2 miliar ton lebih banyak batubara per tahun pada 2017 dibandingkan saat ini, atau sama dengan jumlah konsumsi Rusia dan Amerika Serikat jika digabungkan saat ini.

    Sebuah analisis dari Ecofys untuk Greenpeace, yang dipresentasikan di Davos, menemukan bahwa hanya 14 proyek karbon-intensif di dunia ini akan meningkatkan emisi karbonmonoksida (CO2) sebanyak 20 persen, atau 6 gigaton. Mulai dari ekspansi batubara di Asia sampai pasir ter di Kanada, proyek-proyek ini akan mengakibatkan pemanasan global dengan skala malapetaka, menurut Greenpeace. (Reuters/Ben Hirschler)

    Lihat Juga

    Liku-liku Pemilihan Presiden di Amerika

    Meskipun rakyat Amerika sedang berlibur memperingati Hari Pahlawan (Memorial Day) pada akhir minggu hingga Senin (30/5), banyak perhatian terpusat pada kampanye pemilihan presiden. Selengkapnya

    Pasar Global Siap Hadapi Kenaikan Suku Bunga

    Seorang presiden Bank Sentral AS hari Senin (30/5) mengatakan pasar global agaknya telah siap menghadapi kenaikan suku bunga musim panas ini. Selengkapnya

    Video Peringatan Hari Pahlawan dan Ujian Patriotisme bagi Trump

    Senin kemarin AS memperingati Memorial Day (Hari Pahlawan), ditandai dengan berbagai acara mengenang jasa para anggota militer yang gugur dalam tugas. Peringatan kali ini yang bersamaan dengan tahun pemilihan presiden, diwarnai berbagai komentar terkait pencalonan para capres khususnya Donald Trump. Selengkapnya

    Forum ini telah ditutup.
    Komentar-komentar
         
    Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

    Ikuti Kami