Kamis, 20 Juni 2013 Waktu Washington, DC: 08:12

Berita / Dunia / Afrika

Pasukan Perancis Usir Militan dari Kota di Mali Utara

Serangan-serangan udara Perancis di Konna, kota penting di Mali Utara, telah berhasil menghalau militan Islamis yang merebut kota itu sebelumnya pekan ini.

Para milisi Islamis dari kelompok Ansar Dine yang semula menguasai kota Konna berhasil didesak mundur oleh pasukan Perancis (foto: dok).
Para milisi Islamis dari kelompok Ansar Dine yang semula menguasai kota Konna berhasil didesak mundur oleh pasukan Perancis (foto: dok).
UKURAN HURUF - +
Menurut para pejabat Mali hari Sabtu, pasukan Perancis telah berhasil mengusir tentara pemberontak keluar dari kota Konna.

Pengambilalihan kota itu oleh militan Islamis membuat kelompok tersebut berada pada radius 25 kilometer dari Mopti, kota paling utara yang dikuasai pemerintah Mali.
Kantor berita Perancis menyatakan, puluhan pejuang Islamis tewas dalam operasi tersebut. Menteri Pertahanan Perancis, Jean-Yves Le Drian hari Sabtu mengatakan seorang pilot helikopter tewas dalam serangan udara, yang dimulai Jumat.

Sementara itu, Perdana Menteri Perancis Jean-Marc Ayrault mengatakan pasukan Perancis sedang bersiap-siap menghadapi serbuan pemberontak di ibukota Mali, Bamako. Ia mengatakan pasukan Perancis akan tetap berada di daerah itu selama diperlukan, seraya menyatakan kelompok militan bertanggungjawab atas banyak pelanggaran hukum, termasuk di antaranya penculikan.

Perancis Jumat mengumumkan pihaknya mengerahkan pasukan ke Mali atas permintaan pemerintah negara itu. Pasukan dari Nigeria dan Senegal juga diberitakan berada di Mali untuk membantu pasukan pemerintah.

Dalam perkembangan lain hari Sabtu, para pejabat Afrika mengatakan, blok regional Afrika Barat ECOWAS telah mengesahkan pengerahan segera pasukan ke Mali. 

Pada Desember lalu, Dewan Keamanan PBB menyetujui rencana negara-negara Afrika Barat untuk mengerahkan sedikitnya 3.000 tentara ke Mali untuk membantu melatih militer dan merebut kembali bagian utara negara itu. Kehadiran tentara asing semula diperkirakan tidak diperlukan di negara itu hingga September lalu.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Opera Sabun di TV AS - Laporan VOA 20 Juni 2013

Topik ini adalah tentang berubahnya pola menonton pemirsa televisi di Amerika akibat banyaknya pilihan hiburan lain dan ketatnya persaingan antar program. Drama televisi atau opera sabun semakin menyusut penggemarnya sehingga banyak yang gulung tikar atau hampir punah. Sementara banyak pemirsa lebih menyukai reality show dan ajang adu bakat, dan hal ini juga disukai pengelola televisi karena biaya produksinya lebih murah.
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Presiden AS Barack Obama bersama Presiden Jerman Joachim Gauck saat upacara penyambutan kehormatan di Schloss Bellevue, Berlin, Jerman.
  • Seorang pendeta membaptis seorang anak di danau  Novopyatigorsk dekat kota Pyatigorsk, Rusia  selatan.
  • Para anggota pasukan kehormatan China mempersiapkan diri bagi upacara penyambutan terhadap Presiden Vietnam Truong Tan Sang di luar Balai Agung Rakyat di Beijing, China.
  • Seorang pria beristirahat di atas sebuah scooter bersama dengan ajingnya di Istanbul, Turki.
  • Larisa Katz berpose untuk media dengan topi yang terbuat dari cokelat pada hari kedua acara pacuan kuda Kerajaan di Ascot, Inggris.
  • Pasukan khusus anti-teror Irak dalam pakaian 'kamuflase' saat  latihan simulasi mengatasi pembajakan pesawat di bandara Baghdad.
  • Sebuah bola dunia raksasa yang dibuat dari tumpukan 35 ton sampah ditempatkan di pusat kota Jenewa, Swiss. Kota Jenewa tengah meluncurkan kampanye melawan sampah.
Lainnya