Jumat, 24 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 20:56

Berita / AS

Pastor untuk Pelantikan Obama Mundur Karena Komentar Anti Gay

Pastor untuk memberkati upacara pelantikan Presiden Barack Obama mundur karena pernah mengeluarkan komentar anti kelompok gay.

Pastor Louie Giglio memberikan komentar yang menghakimi kelompok homoseksual. (Foto: Dok)
Pastor Louie Giglio memberikan komentar yang menghakimi kelompok homoseksual. (Foto: Dok)
UKURAN HURUF - +
Rev. Louie Giglio, pastor penginjil yang telah dipilih untuk memberkati upacara pelantikan Presiden Barack Obama, mundur pada Kamis (10/1) setelah terkuak bahwa ia memberikan komentar yang menghakimi gerakan hak kaum gay dua dekade lalu.

Giglio dari Gereja Passion City di Atlanta dalam pernyataan tertulis menyatakan bahwa ia mundur karena sepertinya “doa yang akan saya panjatkan akan dikecilkan oleh mereka yang mencoba membuat agendanya menjadi poin khusus pada pelantikan.”

Addie Whisenant, juru bicara komite pelantikan presiden, mengatakan komite tersebut telah memilih Giglio karena upayanya untuk mengakhiri perdagangan manusia. Giglio mengelola konferensi penginjilan gereja yang menarik puluhan ribu anak muda.

“Kami tidak tahu pernyataan Pastor Giglio di masa lalu pada saat pemilihan dan komentar-komentar tersebut tidak merefleksikan keinginan kami untuk merayakan kekuatan dan keberagaman negara kita pada saat pelantikan,” ujar Whisenant dalam pernyataan tertulis.

Laman liberal ThinkProgress mengunggah audio ceramah pastor tersebut Rabu (9/1). Dalam ceramah tersebut, yang diberikan sekitar 15 sampai 20 tahun yang lalu, Giglio mengutip ayat dan menyebut hubungan sesama jenis penuh dosa dan mesum.

Ia mengingatkan jemaat akan apa yang disebutnya “agenda agresif” untuk menerima “gaya hidup homoseksual.” Dan ia merekomendasikan tulisan-tulisan yang mengadvokasi terapi untuk mengubah gay dan lesbian menjadi heteroseksual. Dalam ceramah tersebut, Giglio berulangkali mendorong jemaat menyambut gay dan lesbian ke dalam gereja dan mengatakan Tuhan mencintai mereka.

“Pembahasan isu ini bukan prioritas saya dalam 15 tahun terakhir,” ujar Giglio. Ia menyebut konflik terkait partisipasinya sebagai pertanyaan terhadap kebebasan beragama.

“Isu homoseksualitas adalah salah satu isu tersulit di negara kita,” tulisnya dalam blog gereja. “Namun, hak kebebasan individu, dan hak kolektif untuk memiliki perbedaan pendapat mengenai subyek apa pun merupakan hal kritis yang harus dipulihkan dan dilindungi.”

Komite pelantikan Obama menekankan adanya keberagaman dalam perayaan, termasuk partisipasi kelompok Kristen konservatif dan kaum gay. Obama secara pribadi memilih Richard Blanco, yang karyanya mengeksplorasi pengalamannya sebagai pria gay Amerika keturunan Kuba, sebagai penyair untuk pelantikan. Asosiasi Band Lesbian dan Gay St. Louis juga merupakan salah satu peserta parade pelantikan yang diadakan 21 Januari.

Ross Murray, direktur program agama untuk kelompok advokasi gay GLAAD, meminta komite untuk memilih pastor yang merefleksikan “tumbuhnya sentimen di AS dan komunitas agama bahwa kelompok gay merupakan bagian yang sama dan penuh dari masyarakat.”

Beberapa pemimpin penginjil menyebut tuntutan itu bukti dari intoleransi kelompok liberal.

"Beberapa orang bertanya-tanya apakah mereka yang memegang keyakinan tradisional mengenai homoseksualitas tidak lagi disambut dalam lingkungan publik,” ujar Ed Stetzer, ketua divisi riset gereja Southern Baptist Convention, dalam blognya.

Obama menghadapi kehebohan yang sama pada 2009, ketika ia memilih pastor terkenal Rick Warren memberkati pelantikan. Warren membandingkan hubungan gay dengan inses dan pedofilia, dan mendesak jemaatnya untuk menolak rancangan peraturan mengenai perkawinan sesama jenis. Meski ada tuntutan untuk Warren supaya mundur, pastor tersebut tetap melakukan pemberkatan. (AP/Rachel Zoll)
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Usher-Justin Bieber dan Konser The Rolling Stones - VOA untuk Insert

Setelah menggelar konsernya di London dan Paris akhir tahun lalu, kelompok band kawakan "The Rolling Stones" mulai menggelar konsernya di 17 tempat di Amerika. Dalam episode kali ini, Vina Mubtadi juga mengajak pemirsa untuk menyimak kabar gugatan sebesar $10 Juta kepada Usher dan Justin Bieber atas tuduhan menjiplak lagu "Somebody To Love" ciptaan Devin Copeland dan Mareio Overton.
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang laki-laki Irak memakai topeng logam yang biasa digunakan sebagai perangkat penyiksaan pada masa kepemimpinan rezim terguling Saddam Hussein di monumen Shaheed di Baghdad, Irak.
  • Umat Budha membawa lilin-lilin, membentuk lautan api, mengelilingi sebuah patung Budha besar pada hari Raya Waisak, untuk memperangati kelahiran, pencerahan dan wafatnya Sang Budha di kuil di Provinsi Nakhon Pathom di pinggiran kota Bangkok.
  • Dua anak laki-laki bermain kriket di pantai Marina di kota selatan India, Chennai.
  • Sebagian runtuhan jembatan Interstate 5 di Sungai Skagit di Mount Vernon, Washington.
  • Salju menutupi sebuah bangku di Brocken, di pegunungan Harz dekat Schierke, Jerman.
  • Para tentara memberikan penghormatan saat terdengar bunyi alunan terompet mengiringi sebuah pemakaman militer di dekatnya, saat mereka menaruh bendera di makam-makam di Taman Makam Pahlawan Nasional di Arlington, Virginia, 24 Mei 2013.
  • Seorang pengemudi rickshaw, semacam becak di India, tidur di rickshawnya pada suatu siang yang terik di New Delhi, India.
  • Para murid sekolah menengah yang baru lulus melepaskan kegembiraan mereka di air mancur seraya merayakan hari terakhir sekolah di Kiev.
Lainnya