Tautan-tautan Akses

Pasokan Darah Global Kurang, WHO Dorong Lebih Banyak Donor


Seorang perawat mengambil darah dari seorang donor di Palang Merah Jerman, Berlin. (Foto: Dok)
Seorang perawat mengambil darah dari seorang donor di Palang Merah Jerman, Berlin. (Foto: Dok)

Menjelang peringatan Hari Donor Darah Sedunia pada 14 Juni, Organisasi Kesehatan Dunia Ingatkan pasokan darah aman yang kurang secara global.

Menjelang peringatan Hari Donor Darah Sedunia pada 14 Juni, Organisasi Kesehatan Dunia meminta lebih banyak orang menyumbangkan darahnya untuk mengatasi kekurangan pasokan darah yang aman secara global.

Neelam Dhingra, koordinator Keselamatan Transfusi Darah di WHO, mengatakan kebutuhan darah dan produk darah meningkat setiap tahun. Sayangnya, jutaan pasien yang memerlukan transfusi penyelamat nyawa itu tidak memiliki akses pada darah aman saat dibutuhkan, ujarnya.

Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, menurut Dhingra, transfusi darah biasanya diberikan untuk para ibu yang menderita komplikasi karena kehamilan dan kelahiran, serta pasien anemia kanak-kanak yang akut.

Di negara-negara berpenghasilan tinggi, Dhingra mengatakan bahwa tranfusi biasanya digunakan untuk membantu perawatan operasi jantung, operasi transplantasi, trauma dan terapi kanker.

WHO menyatakan bahwa kebutuhan akan darah meningkat secara global, baik di negara berkembang maupun negara maju. Dhingra mengatakan donor darah sukarela merupakan fondasi pasokan darah yang aman dan cukup di setiap negara.

"Alasannya adalah motivasi orang-orang ini dalam memberikan darahnya. Para donor sukarela memberikan darah karena keinginan sendiri tanpa paksaan dan insentif, yang memengaruhi keputusan mereka atau kesadaran mereka untuk memberitahukan sejarah mengapa mereka menyumbangkan darah," ujar Dhingra.

"Darah mereka lebih aman karena mereka memberi sejarah kesehatan mereka yang benar dan mereka berdedikasi terhadap tujuan sumbangan tersebut. Sistem-sistem berdasarkan sumbangan pengganti dan donor berbayar ternyata tidak berkelanjutan dan tidak menyediakan pasokan darah yang aman dan cukup bagi semua pasien."

Saat ini, WHO melaporkan bahwa 60 negara mengumpulkan 100 persen pasokan darah mereka dari donor darah sukarela tak berbayar, dan 35 negara diantaranya adalah negara-negara berpenghasilan tinggi. Namun, 73 negara masih mendapatkan 50 persen dari pasokan darah mereka dari donor pengganti atau donor berbayar.

Pejabat Keamanan Tranfusi Darah WHO, Yetmgeta Abdella, mengatakan ketersediaan darah dan produk darah merupakan masalah besar di negara-negara berkembang, baik di Afrika maupun di mana saja. Ia mengatakan kurangnya pasokan darah yang aman di rumah-rumah sakit merupakan kontributor besar untuk penyakit dan kesehatan anak-anak.

“Jadi, membahas keamanan darah yang dikumpulkan dan ditransfusikan di negara-negara berpenghasilan rendah merupakan satu aspek masalah. Aspek lain adalah ketersediaan, pemberian akses kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan layanan tersebut. Pasien-pasien yang betul-betul membutuhkan transfusi penyelamat nyawa ini tidak mendapatkannya di banyak negara berkembang," ujar Abdella.

WHO merekomendasikan semua sumbangan darah diperiksa dulu sebelum digunakan untuk mencegah infeksi. Penyaringan tersebut haruslah wajib untuk HIV, hepatitis B, hepatitis C dan sifilis.

Organisasi itu mengatakan bahwa rumah-rumah sakit seharusnya hanya memberikan transfusi-transfusi darah ketika diperlukan. WHO mengatakan transfusi yang tidak perlu dan praktik transfusi yang tidak aman berisiko menciptakan reaksi yang merugikan pada beberapa pasien. Tranfusi yang tidak perlu juga mengurangi ketersediaan produk darah untuk pasien yang memerlukan, menurut WHO.
XS
SM
MD
LG