Rabu, 26 Nopember 2014 Waktu UTC: 05:12

Berita / AS / Pemilu AS

Partai Republik di Kongres AS Dorong Voting RUU Imigrasi

Anggota DPR AS dari Partai Republik yang masih merasakan kepedihan karena kecilnya dukungan warga Hispanik dalam pilpres lalu berencana mengadakan voting RUU Imigrasi pekan depan.

Pendatang dari Amerika Latin di sebuah kantor keimigrasian di Los Angeles, California (foto: dok).
Pendatang dari Amerika Latin di sebuah kantor keimigrasian di Los Angeles, California (foto: dok).
RUU imigrasi tersebut akan memperpanjang visa bagi mahasiswa asing jurusan sains dan teknologi dan akan membuat lebih mudah bagi pemegang green card atau izin menetap dan bekerja untuk membawa ke Amerika anggota keluarga langsung. 

Para pemimpin Partai Republik mengemukakan dengan jelas setelah pemilu bahwa partai itu siap untuk bersungguh-sungguh mengenai perombakan sistim imigrasi yang tidak begitu berfungsi di Amerika, salah satu prioritas utama bagi komunitas Hispanik. Mengadakan voting atas apa yang disebut STEM Jobs Act (undang-undang yang memberikan kesempatan kerja di Amerika bagi lulusan perguruan tinggi jurusan sains, teknologi, teknik, dan matematika) semasa sesi lame-duck, atau masa bakti yang akan segera berakhir, dapat dipandang sebagai langkah pertama ke arah itu.

DPR Amerika mengadakan pemungutan suara untuk RUU STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) bulan September, tetapi berdasarkan prosedur yang mengharuskan mayoritas dua per tiga. RUU itu tidak berhasil lolos, setelah lebih dari 80 persen anggota DPR dari Partai Demokrat menentangnya karena dianggap menaikkan jumlah visa bagi warga asing lulusan teknologi tinggi dengan melenyapkan program visa lain yang tersedia bagi warga asing yang tidak berpendidikan tinggi, banyak di antaranya dari Afrika.

Partai Republik kali ini mengubah formula itu dengan menambahkan sebuah pasal yang telah lama dikehendaki oleh sebagian aktivis imigrasi yaitu memperluas program yang memungkinkan pasangan dan anak-anak pemegang green card atau kartu hijau, untuk menunggu di Amerika sampai permohonan kartu hijau mereka sendiri dikabulkan.

Sekitar 80.000 kartu hijau berbasis keluarga ini dialokasikan setiap tahun, tetapi kini ada sekitar 322.000 suami, istri dan anak-anak yang menunggu dalam kategori ini, dan rata-rata orang harus menunggu lebih dari dua tahun untuk bisa berkumpul dengan keluarga mereka. Di masa lalu masa tunggu itu bisa sampai enam tahun.

Usulan DPR itu akan memungkinkan anggota keluarga datang di Amerika setahun setelah mereka mengajukan permohonan bagi kartu hijau mereka, tetapi mereka tidak boleh bekerja sampai benar-benar memperoleh kartu tersebut. Hal ini berlaku bagi semua keluarga pemegang kartu hijau yang menikah setelah mendapat izin tinggal mereka.

Bruce Morrison, seorang mantan anggota Kongres dari Partai Demokrat mewakili Connecticut yang memimpin subkomisi imigrasi di DPR dan merancang sebuah undang-undang imigrasi tahun 1990, mengatakan RUU itu tidak akan meningkatkan jumlah kartu hijau dan juga tidak akan memberi orang kartu hijau lebih cepat. Tetapi orang akan “memperoleh manfaat terpenting karena dapat tinggal secara legal di Amerika bersama suami atau isteri mereka."

Demo pro-imigrasi di kota New York (foto: dok).Demo pro-imigrasi di kota New York (foto: dok).
x
Demo pro-imigrasi di kota New York (foto: dok).
Demo pro-imigrasi di kota New York (foto: dok).
Morrison, seorang pelobi kebijakan imigrasi yang berjuang bagi kelompok-kelompok seperti American Families United, menyebut RUU itu sebuah batu loncatan menuju reformasi imigrasi yang lebih komprehensif. Bahwa para anggota Kongres dari Partai Republik yang memulainya, "bagi saya hal itu adalah isyarat positif bahwa mereka serius membahas hal ini," katanya.

Megan Whittemore, juru bicara Pemimpin Mayoritas DPR Eric Cantor dari Partai Republik mewakili negara bagian Virginia, seorang pendukung utama Undang-Undang STEM, mengatakan RUU itu "ramah keluarga, membantu pasangan dan anak-anak di bawah umur yang terpisah dari keluarga mereka sampai waktu yang lama sekali."

RUU itu kali ini akan dibahas sesuai prosedur normal yang hanya membutuhkan suara mayoritas, dan hampir pasti lolos di DPR pimpinan Partai Republik masih harus ditunggu apakah RUU itu akan mendapat cukup dukungan dari Partai Demokrat untuk memberinya momentum sewaktu dibawa ke Senat yang dikuasai oleh Partai Demokrat.

RUU itu nantinya akan memberi 55.000 kartu hijau per tahun kepada lulusan doktor dan master dalam bidang STEM tersebut. RUU yang didukung kuat oleh perusahaan-perusahaan teknologi tinggi Amerika akan mempermudah orang yang belajar di Amerika menggunakan keterampilan mereka untuk bekerja bagi perusahaan-perusahaan Amerika.

Tapi rancangan undang-undang itu masih akan melenyapkan Diversity Visa Lottery Program (program lotere visa imigran) yang memberi 55.000 kartu hijau per tahun bagi mereka yang berasal dari negara-negara, termasuk banyak yang di Afrika, yang secara tradisional rendah tingkat imigrasinya ke Amerika. Hal itu segera ditentang oleh Kaukus Hispanik DPR dan Kaukus Keturunan Afrika serta Kaukus keturunan Asia Pasifik di Kongres Amerika bulan September lalu.

Ketiga kaukus itu mengatakan Partai Republik berusaha meningkatkan imigrasi legal bagi orang yang mereka inginkan dengan mengakhiri imigrasi bagi orang-orang yang tidak mereka inginkan.

Crystal Williams, direktur eksekutif Perhimpunan Pengacara Imigrasi Amerika, mengatakan RUU itu merupakan pesan dari Partai Republik bahwa "mereka siap berbicara tentang reformasi imigrasi."

Tetapi ia menyatakan ia ragu RUU itu akan lolos di Senat semasa sesi pendek lame-duck ini. Orang "sekarang mulai berpikir tentang reformasi lebih luas," katanya, dengan menambahkan bahwa RUU terbatas yang tidak meningkatkan jumlah pemberian visa tidak akan mendapat banyak dukungan.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

Video & Foto Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Warga AS Syukuri Rendahnya Harga BBMi
X
Patsy Widakuswara
26.11.2014
Sementara harga BBM di Indonesia naik, di Amerika Serikat harga BBM justru turun ke level terendah selama hamper lima tahun terakhir. Apa saja penyebab turunnya harga BBM tersebut? Ikuti laporan reporter VOA Patsy Widakuswara dari Washington.
Video

Video Warga AS Syukuri Rendahnya Harga BBM

Sementara harga BBM di Indonesia naik, di Amerika Serikat harga BBM justru turun ke level terendah selama hamper lima tahun terakhir. Apa saja penyebab turunnya harga BBM tersebut? Ikuti laporan reporter VOA Patsy Widakuswara dari Washington.
Video

Video Remaja Amerika Ikuti Lomba Film Anti Bullying

Perisakan atau Bullying merupakan masalah di kalangan anak dan remaja seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat. Guru dan pendidik berusaha melakukan berbagai pendekatan untuk memberantasnya. Salah satunya adalah melalui lomba film anti bullying. Selengkapnya simak laporan Patsy Widakuswara.
Video

Video Kilas VOA 26 November 2014

Demonstran pro-demokrasi Hong Kong bentrok dengan aparat. Kerusuhan bernuansa rasial melanda Ferguson, A.S. Perancis menangguhkan pengiriman kapal tempur yang dibeli Rusia. Meluncurkan daging kambing panggang ke orbit bumi.
Galeri Foto

Galeri Foto Ferguson Masih Tegang Setelah Kerusuhan

Kota Midwest AS Ferguson, Missouri, dan wilayah sekitarnya bersiap menghadapi demo setelah dewan juri memutuskan untuk tidak menuntut polisi yang menembak dan menewaskan remaja berkulit hitam yang tidak bersenjata pada bulan Agustus.
Video

Video Menhan AS Chuck Hagel Mundur dari Jabatan

Menteri Pertahanan AS, Chuck Hagel, mundur setelah dalam beberapa bulan terakhir dihujani kritik atas strateginya melawan ISIS. Tiga nama dijagokan untuk menggantikan Hagel. Siapa saja mereka? Selengkapnya simak liputan VOA berikut ini bersama Yurgen Alifia.
 Aktivitas di Facebook