Minggu, 23 Nopember 2014 Waktu UTC: 04:38

Berita / AS / Pemilu AS

Partai Republik di Kongres AS Dorong Voting RUU Imigrasi

Anggota DPR AS dari Partai Republik yang masih merasakan kepedihan karena kecilnya dukungan warga Hispanik dalam pilpres lalu berencana mengadakan voting RUU Imigrasi pekan depan.

Pendatang dari Amerika Latin di sebuah kantor keimigrasian di Los Angeles, California (foto: dok).
Pendatang dari Amerika Latin di sebuah kantor keimigrasian di Los Angeles, California (foto: dok).
RUU imigrasi tersebut akan memperpanjang visa bagi mahasiswa asing jurusan sains dan teknologi dan akan membuat lebih mudah bagi pemegang green card atau izin menetap dan bekerja untuk membawa ke Amerika anggota keluarga langsung. 

Para pemimpin Partai Republik mengemukakan dengan jelas setelah pemilu bahwa partai itu siap untuk bersungguh-sungguh mengenai perombakan sistim imigrasi yang tidak begitu berfungsi di Amerika, salah satu prioritas utama bagi komunitas Hispanik. Mengadakan voting atas apa yang disebut STEM Jobs Act (undang-undang yang memberikan kesempatan kerja di Amerika bagi lulusan perguruan tinggi jurusan sains, teknologi, teknik, dan matematika) semasa sesi lame-duck, atau masa bakti yang akan segera berakhir, dapat dipandang sebagai langkah pertama ke arah itu.

DPR Amerika mengadakan pemungutan suara untuk RUU STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) bulan September, tetapi berdasarkan prosedur yang mengharuskan mayoritas dua per tiga. RUU itu tidak berhasil lolos, setelah lebih dari 80 persen anggota DPR dari Partai Demokrat menentangnya karena dianggap menaikkan jumlah visa bagi warga asing lulusan teknologi tinggi dengan melenyapkan program visa lain yang tersedia bagi warga asing yang tidak berpendidikan tinggi, banyak di antaranya dari Afrika.

Partai Republik kali ini mengubah formula itu dengan menambahkan sebuah pasal yang telah lama dikehendaki oleh sebagian aktivis imigrasi yaitu memperluas program yang memungkinkan pasangan dan anak-anak pemegang green card atau kartu hijau, untuk menunggu di Amerika sampai permohonan kartu hijau mereka sendiri dikabulkan.

Sekitar 80.000 kartu hijau berbasis keluarga ini dialokasikan setiap tahun, tetapi kini ada sekitar 322.000 suami, istri dan anak-anak yang menunggu dalam kategori ini, dan rata-rata orang harus menunggu lebih dari dua tahun untuk bisa berkumpul dengan keluarga mereka. Di masa lalu masa tunggu itu bisa sampai enam tahun.

Usulan DPR itu akan memungkinkan anggota keluarga datang di Amerika setahun setelah mereka mengajukan permohonan bagi kartu hijau mereka, tetapi mereka tidak boleh bekerja sampai benar-benar memperoleh kartu tersebut. Hal ini berlaku bagi semua keluarga pemegang kartu hijau yang menikah setelah mendapat izin tinggal mereka.

Bruce Morrison, seorang mantan anggota Kongres dari Partai Demokrat mewakili Connecticut yang memimpin subkomisi imigrasi di DPR dan merancang sebuah undang-undang imigrasi tahun 1990, mengatakan RUU itu tidak akan meningkatkan jumlah kartu hijau dan juga tidak akan memberi orang kartu hijau lebih cepat. Tetapi orang akan “memperoleh manfaat terpenting karena dapat tinggal secara legal di Amerika bersama suami atau isteri mereka."

Demo pro-imigrasi di kota New York (foto: dok).Demo pro-imigrasi di kota New York (foto: dok).
x
Demo pro-imigrasi di kota New York (foto: dok).
Demo pro-imigrasi di kota New York (foto: dok).
Morrison, seorang pelobi kebijakan imigrasi yang berjuang bagi kelompok-kelompok seperti American Families United, menyebut RUU itu sebuah batu loncatan menuju reformasi imigrasi yang lebih komprehensif. Bahwa para anggota Kongres dari Partai Republik yang memulainya, "bagi saya hal itu adalah isyarat positif bahwa mereka serius membahas hal ini," katanya.

Megan Whittemore, juru bicara Pemimpin Mayoritas DPR Eric Cantor dari Partai Republik mewakili negara bagian Virginia, seorang pendukung utama Undang-Undang STEM, mengatakan RUU itu "ramah keluarga, membantu pasangan dan anak-anak di bawah umur yang terpisah dari keluarga mereka sampai waktu yang lama sekali."

RUU itu kali ini akan dibahas sesuai prosedur normal yang hanya membutuhkan suara mayoritas, dan hampir pasti lolos di DPR pimpinan Partai Republik masih harus ditunggu apakah RUU itu akan mendapat cukup dukungan dari Partai Demokrat untuk memberinya momentum sewaktu dibawa ke Senat yang dikuasai oleh Partai Demokrat.

RUU itu nantinya akan memberi 55.000 kartu hijau per tahun kepada lulusan doktor dan master dalam bidang STEM tersebut. RUU yang didukung kuat oleh perusahaan-perusahaan teknologi tinggi Amerika akan mempermudah orang yang belajar di Amerika menggunakan keterampilan mereka untuk bekerja bagi perusahaan-perusahaan Amerika.

Tapi rancangan undang-undang itu masih akan melenyapkan Diversity Visa Lottery Program (program lotere visa imigran) yang memberi 55.000 kartu hijau per tahun bagi mereka yang berasal dari negara-negara, termasuk banyak yang di Afrika, yang secara tradisional rendah tingkat imigrasinya ke Amerika. Hal itu segera ditentang oleh Kaukus Hispanik DPR dan Kaukus Keturunan Afrika serta Kaukus keturunan Asia Pasifik di Kongres Amerika bulan September lalu.

Ketiga kaukus itu mengatakan Partai Republik berusaha meningkatkan imigrasi legal bagi orang yang mereka inginkan dengan mengakhiri imigrasi bagi orang-orang yang tidak mereka inginkan.

Crystal Williams, direktur eksekutif Perhimpunan Pengacara Imigrasi Amerika, mengatakan RUU itu merupakan pesan dari Partai Republik bahwa "mereka siap berbicara tentang reformasi imigrasi."

Tetapi ia menyatakan ia ragu RUU itu akan lolos di Senat semasa sesi pendek lame-duck ini. Orang "sekarang mulai berpikir tentang reformasi lebih luas," katanya, dengan menambahkan bahwa RUU terbatas yang tidak meningkatkan jumlah pemberian visa tidak akan mendapat banyak dukungan.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

Video & Foto Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
i
|| 0:00:00
...  
🔇
X
  • Sejumlah mahasiswa mengenakan topeng Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dengan hidung panjang sebagai protes terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di luar istana Presiden Jakarta. Jokowi mengumumkan peningkatan tajam BBM pada hari Senin, dengan mengatakan subsidi pemerintah yang besar akan lebih baik digunakan untuk infrastruktur dan pembangunan.

     
  • Truk-truk pengangkut salju menunggu untuk membongkar salju yang dikumpulkan dari beberapa wilayah setelah terjadi badai salju berat, di Terminal Pusat di Buffalo, New York. Salju tebal yang juga menutup jalanan itu akhirnya berhenti pada hari Jumat.

     
  • Orang-orang ambil bagian dalam unjuk rasa di pusat Kyiv, Ukraina. Warga Ukraina menandai ulang tahun pertama unjuk rasa massal pro Uni Eropa yang menyebabkan perubahan dalam kepemimpinan negara itu dan membawa Ukraina lebih dekat ke Uni Eropa.

     
  • Para biarawati dan imam Katholik Myanmar memegang lilin saat berkumpul merayakan 500 tahun Jubile keberadaan Gereja Katolik di Myanmar, di Yangon.

     
  • Para pendukung Tim Piala Davis Perancis membentangkan bendera raksasa sementara mereka meneriakkan yel-yel dukungan kepada pemain Perancis Gael Monfils dalam pertandingan tenis  final SinglePiala Davis melawan Petenis Swiss Roger Federer di Stadion Pierre-Mauroy di Villeneuve d'Ascq, dekat Lille.

     
  • Orang-orang mengambil foto roket Rusia Soyuz-FG dengan kapsul ruang angkasa Soyuz TMA - 15M yang akan membawa kru baru ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), pada landasan luncur di Kosmodrom Baykonur yang disewa Rusia, di Kazakhstan. Dijadualkan Misi Soyuz baru itu dimulai pada hari Senin.

     
  • Pendukung calon Presiden Tunisia, Beji Caid Essebsi (seperti terlihat di potret), meneriakkan slogan-slogan dan melambaikan bendera-bendera di Bourguiba Avenue di ibukota Tunis, dalam sebuah kampanye pemilihan presiden mengawali pemilu yang diadakan pada 23 November.

     
  • Orang-orang berjalan di bawah tiang lampu yang berubah menjadi payung kuning di dekat wilayah utama lokasi protes di distrik pemerintahan di Hong Kong. Para pengunjuk rasa pro-demokrasi berada di persimpangan dengan berkurangnya dukungan publik setelah hampir dua bulan terjadi kerusuhan di jalan.

     
  • Lentera-lentera minyak yang dipersembahkan oleh warga tampak menerangi Sungai Bagmati dan mengalir melalui Kuil Pashupatinath, dalam festival Bala Caturdasi, di Kathmandu, Nepal. Festival ini dirayakan dengan menyalakan lentera dan menaburkan tujuh jenis biji-bijian yang dikenal sebagai 'sat biu' sebagai penghormatan terhadap para leluhur.

     
  • Orang-orang bersepeda sepanjang jalan dalam tur bersepeda untuk mempromosikan sepeda sebagai sarana transportasi yang ramah lingkungan, di Damaskus, Suriah.
  • Seorang pengunjung terlihat melalui dekorasi Natal saat ia mengambil foto menggunakan telepon genggamnya di sebuah pusat perbelanjaan di Kuala Lumpur, Malaysia. Semangat Natal sangat terasa di Malaysia, negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, di mana pusat perbelanjaan memasang dekorasi untuk membantu meningkatkan penjualan akhir tahun.

     
  • Kabut tebal menggantung di atas pelabuhan Husum, Jerman Utara. Perkiraan cuaca meramalkan turunnya hujan di hari-hari mendatang.

     
  • Nelayan Estelito Marijuan, 58 tahun, mengatur ikan-ikan kering di Teluk Manila, Filipina. Hari Perikanan Sedunia dirayakan setiap tanggal 21 November dan diperingati untuk memberikan perhatian pada penangkapan ikan secara berlebihan, perusakan habitat dan  ancaman serius lainnya terhadap kelestarian sumber daya laut dan air tawar.

     
  • Dekorasi-dekorasi  Natal diabadikan di depan menara televisi di Berlin, Jerman.

     
  • Foto dari udara pemandangan pantai Vermelha, di Rio de Janeiro, Brasil.

     
Galeri Foto

Galeri Foto 21 November 2014

Video

Video Tantangan Pertahankan Nasionalisme di Tanah Rantau

Kesempatan merantau membuat sebagian warga asal Indonesia tidak ingin lagi kembali ke tanah air. Tapi apakah menetap di luar negeri identik dengan tergerusnya rasa nasionalisme dan cinta tanah air? itulah yang dibahas dalam sebuah diskusi masyarakat Indonesia di Washington DC akhir pekan lalu.
Video

Video Impian Bermain Papan Selancar Terbang Menjadi Kenyataan

Film ‘Back to the Future’ buatan akhir 1980-an banyak menampilkan teknologi masa depan yang ternyata menjadi kenyataan, seperti TV layar datar dan video call. Tetapi satu yang masih ditunggu-tunggu keberadaannya adalah papan seluncur terbang atau hoverboard yang baru-baru ini menjadi kenyataan.
Video

Video Inkubator Tiup Berbiaya Rendah Bisa Selamatkan Banyak Bayi Prematur

Sekitar satu juta bayi di seluruh dunia meninggal setiap tahun karena komplikasi akibat kelahiran prematur. Meski banyak yang bisa diselamatkan dengan inkubator, namun harganya mahal dan kadang tak tersedia di negara berkembang. Seorang mahasiswa Inggris merancang inkubator tiup berbiaya rendah.
 Aktivitas di Facebook