Sabtu, 04 Juli 2015 Waktu: 13:59

Berita / AS / Pemilu AS

Partai Republik di Kongres AS Dorong Voting RUU Imigrasi

Anggota DPR AS dari Partai Republik yang masih merasakan kepedihan karena kecilnya dukungan warga Hispanik dalam pilpres lalu berencana mengadakan voting RUU Imigrasi pekan depan.

Pendatang dari Amerika Latin di sebuah kantor keimigrasian di Los Angeles, California (foto: dok).
Pendatang dari Amerika Latin di sebuah kantor keimigrasian di Los Angeles, California (foto: dok).
RUU imigrasi tersebut akan memperpanjang visa bagi mahasiswa asing jurusan sains dan teknologi dan akan membuat lebih mudah bagi pemegang green card atau izin menetap dan bekerja untuk membawa ke Amerika anggota keluarga langsung. 

Para pemimpin Partai Republik mengemukakan dengan jelas setelah pemilu bahwa partai itu siap untuk bersungguh-sungguh mengenai perombakan sistim imigrasi yang tidak begitu berfungsi di Amerika, salah satu prioritas utama bagi komunitas Hispanik. Mengadakan voting atas apa yang disebut STEM Jobs Act (undang-undang yang memberikan kesempatan kerja di Amerika bagi lulusan perguruan tinggi jurusan sains, teknologi, teknik, dan matematika) semasa sesi lame-duck, atau masa bakti yang akan segera berakhir, dapat dipandang sebagai langkah pertama ke arah itu.

DPR Amerika mengadakan pemungutan suara untuk RUU STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) bulan September, tetapi berdasarkan prosedur yang mengharuskan mayoritas dua per tiga. RUU itu tidak berhasil lolos, setelah lebih dari 80 persen anggota DPR dari Partai Demokrat menentangnya karena dianggap menaikkan jumlah visa bagi warga asing lulusan teknologi tinggi dengan melenyapkan program visa lain yang tersedia bagi warga asing yang tidak berpendidikan tinggi, banyak di antaranya dari Afrika.

Partai Republik kali ini mengubah formula itu dengan menambahkan sebuah pasal yang telah lama dikehendaki oleh sebagian aktivis imigrasi yaitu memperluas program yang memungkinkan pasangan dan anak-anak pemegang green card atau kartu hijau, untuk menunggu di Amerika sampai permohonan kartu hijau mereka sendiri dikabulkan.

Sekitar 80.000 kartu hijau berbasis keluarga ini dialokasikan setiap tahun, tetapi kini ada sekitar 322.000 suami, istri dan anak-anak yang menunggu dalam kategori ini, dan rata-rata orang harus menunggu lebih dari dua tahun untuk bisa berkumpul dengan keluarga mereka. Di masa lalu masa tunggu itu bisa sampai enam tahun.

Usulan DPR itu akan memungkinkan anggota keluarga datang di Amerika setahun setelah mereka mengajukan permohonan bagi kartu hijau mereka, tetapi mereka tidak boleh bekerja sampai benar-benar memperoleh kartu tersebut. Hal ini berlaku bagi semua keluarga pemegang kartu hijau yang menikah setelah mendapat izin tinggal mereka.

Bruce Morrison, seorang mantan anggota Kongres dari Partai Demokrat mewakili Connecticut yang memimpin subkomisi imigrasi di DPR dan merancang sebuah undang-undang imigrasi tahun 1990, mengatakan RUU itu tidak akan meningkatkan jumlah kartu hijau dan juga tidak akan memberi orang kartu hijau lebih cepat. Tetapi orang akan “memperoleh manfaat terpenting karena dapat tinggal secara legal di Amerika bersama suami atau isteri mereka."

Demo pro-imigrasi di kota New York (foto: dok).Demo pro-imigrasi di kota New York (foto: dok).
x
Demo pro-imigrasi di kota New York (foto: dok).
Demo pro-imigrasi di kota New York (foto: dok).
Morrison, seorang pelobi kebijakan imigrasi yang berjuang bagi kelompok-kelompok seperti American Families United, menyebut RUU itu sebuah batu loncatan menuju reformasi imigrasi yang lebih komprehensif. Bahwa para anggota Kongres dari Partai Republik yang memulainya, "bagi saya hal itu adalah isyarat positif bahwa mereka serius membahas hal ini," katanya.

Megan Whittemore, juru bicara Pemimpin Mayoritas DPR Eric Cantor dari Partai Republik mewakili negara bagian Virginia, seorang pendukung utama Undang-Undang STEM, mengatakan RUU itu "ramah keluarga, membantu pasangan dan anak-anak di bawah umur yang terpisah dari keluarga mereka sampai waktu yang lama sekali."

RUU itu kali ini akan dibahas sesuai prosedur normal yang hanya membutuhkan suara mayoritas, dan hampir pasti lolos di DPR pimpinan Partai Republik masih harus ditunggu apakah RUU itu akan mendapat cukup dukungan dari Partai Demokrat untuk memberinya momentum sewaktu dibawa ke Senat yang dikuasai oleh Partai Demokrat.

RUU itu nantinya akan memberi 55.000 kartu hijau per tahun kepada lulusan doktor dan master dalam bidang STEM tersebut. RUU yang didukung kuat oleh perusahaan-perusahaan teknologi tinggi Amerika akan mempermudah orang yang belajar di Amerika menggunakan keterampilan mereka untuk bekerja bagi perusahaan-perusahaan Amerika.

Tapi rancangan undang-undang itu masih akan melenyapkan Diversity Visa Lottery Program (program lotere visa imigran) yang memberi 55.000 kartu hijau per tahun bagi mereka yang berasal dari negara-negara, termasuk banyak yang di Afrika, yang secara tradisional rendah tingkat imigrasinya ke Amerika. Hal itu segera ditentang oleh Kaukus Hispanik DPR dan Kaukus Keturunan Afrika serta Kaukus keturunan Asia Pasifik di Kongres Amerika bulan September lalu.

Ketiga kaukus itu mengatakan Partai Republik berusaha meningkatkan imigrasi legal bagi orang yang mereka inginkan dengan mengakhiri imigrasi bagi orang-orang yang tidak mereka inginkan.

Crystal Williams, direktur eksekutif Perhimpunan Pengacara Imigrasi Amerika, mengatakan RUU itu merupakan pesan dari Partai Republik bahwa "mereka siap berbicara tentang reformasi imigrasi."

Tetapi ia menyatakan ia ragu RUU itu akan lolos di Senat semasa sesi pendek lame-duck ini. Orang "sekarang mulai berpikir tentang reformasi lebih luas," katanya, dengan menambahkan bahwa RUU terbatas yang tidak meningkatkan jumlah pemberian visa tidak akan mendapat banyak dukungan.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

Video & Foto Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
i
|| 0:00:00
...  
🔇
X
  • Yozhik, seekor beruang Himalaya, duduk santai sementara pegawai kebun binatang berusaha mendinginkannya dengan aliran air di kebun binatang Royev Ruchey di pinggiran kota Krasnoyarsk, di Siberia, Rusia.
  • Kaum Muslim India melakukan sholat Maghrib setelah berbuka puasa di Masjid Jamai di Hyderabad.
  • Seorang pria berusia lanjut yang menangis, dibantu oleh seorang pegawai bank dan polisi di luar sebuah cabang bank nasional saat para pensiunan mengantri untuk mendapatkan pensiun mereka dengan batasan 120 euro (Rp 1,8 juta), di Thessaloniki, Yunani.
  • Bayangan orang-orang yang berdemonstrasi pro-Uni Eropa di Iraklio, di pulau Crete, Yunani (2/7).
  • Hujan mengguyur lapangan pada ronde kedua turnamen golf Greenbrier Classic di Old White TPC, White Sulphur Springs, West Virginia, AS.
  • Seorang anak bermain di air mancur di Endenich, pinggiran kota Bonn, Jerman.
  • Seorang penjaja keliling mengajarkan seorang anak bagaimana meniup gelembung dari air sabun, di ​Piazza del Popolo, sebuah lapangan yang populer bagi turis, di Roma, Italia, saat matahari terbenam.
  • Duchess of Cornwall, Camilla, bercakap-cakap dengan Imogen Davis, pemilik Rufus si rajawali, saat di tengah-tengah turnamen tenis Wimbledon di London.
  • Sebuah gambar dari situs media Welayat Halab disebut memperlihatkan seorang tentara ISIS menghancurkan artefak-artefak kuno yang diselundupkan dari kota Palmyra, di Suriah, sebuah kota kuno berusia 2.000 tahun yang juga adalah situs Warisan Dunia UNESCO.
  • Para pesepeda berlatih di Utrecht, Belanda, sehari sebelum dimulainya kompetisi Tour de France yang akan berlangsung selama tiga pekan.
Video

Video Buka Puasa Diaspora Indonesia di Alaska

Meski tinggal di daerah yang mengalami siang sangat panjang pada musim panas, warga Muslim asal Indonesia di Alaska tetap menjalankan ibadah puasa. Kebanyakan tidak berpuasa mengikuti waktu lokal yang rentang waktu siangnya bisa mencapai sekitar 20 jam. Ikuti laporan Tim VOA dari Alaska berikut ini.
Video

Video Hari Raya Islam pada Kalender Sekolah Negeri di AS

Amerika Serikat kini merupakan salah satu negara di dunia dengan tingkat kemajemukan umat beragama terbesar di dunia. Ikuti upaya warga Muslim di negara bagian Maryland untuk menjadikan Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari libur sekolah, dalam liputan tim VOA dari kota Silver Spring.
Video

Video Berpuasa Saat Musim Panas di Alaska, AS

Warga asal Indonesia yang tinggal di negara bagian Alaska, AS tetap menjalankan ibadah puasa meski wilayah ini mengalami siang yang sangat panjang di musim panas. Namun kebanyakan tidak berpuasa mengikuti waktu lokal karena rentang waktu siang saat musim panas di Alaska bisa mencapai 20 jam lebih.
 Aktivitas di Facebook