Jumat, 31 Oktober 2014 Waktu UTC: 09:51

Berita / AS / Inaugurasi 2013

Obama Hadapi Tantangan Perpecahan Politik yang Meningkat di AS

Memasuki masa jabatan kedua Presiden Obama, kegembiraan publik Amerika telah diusik oleh kenyataan politik dengan makin sulitnya mewujudkan sebuah kompromi di seluruh Amerika.

Presiden AS Barack Obama saat menandatangani perintah eksekutif mengenai aturan yang lebih ketat atas kepemilikan senjata api (foto: dok). Isu kepemilikan senjata api menjadi isu sensitif di antara warga AS.
Presiden AS Barack Obama saat menandatangani perintah eksekutif mengenai aturan yang lebih ketat atas kepemilikan senjata api (foto: dok). Isu kepemilikan senjata api menjadi isu sensitif di antara warga AS.
Jim Malone
Presiden Barack Obama akan dilantik di depan umum untuk masa jabatan kedua pada hari Senin – 21 Januari, di hadapan ratusan ribu warga yang berkumpul di dekat gedung Capitol Hill – Washington DC.

Suasana pelantikan kali ini berbeda dengan suasana ketika Presiden Obama pertama kali dilantik empat tahun lalu.

Empat tahun lalu kegembiraan luar biasa tampak jelas ketika hampir dua juta warga Amerika berkumpul di Washington untuk menyaksikan pelantikan presiden Amerika keturunan Afrika pertama – Barack Obama.

Empat tahun kemudian, kegembiraan publik telah diusik oleh kenyataan politik dan kerinduan akan adanya kompromi di seluruh Amerika.

Mark Monaco dari Times Square di New York City mengatakan, “Saya kira kita perlu menunjukkan (rasa) persatuan dan berupaya menyatukan setiap orang”.

Sementara Courtney di Houston mengatakan, “Saya ingin agar partai-partai bisa bekerjasama dan mengambil keputusan, daripada berdebat soal partai siapa yang terbaik”.

Di Los Angeles – California, Debra Singleton berpendapat senada, “Mereka berharap Presiden Obama bisa memperbaiki kekurangan enam presiden sebelumnya. Ia hanya satu orang jadi yang bisa dilakukannya juga terbatas”.

Presiden Barack Obama memenangkan kembali pemilu bulan November lalu, tetapi pertarungan hebat politik selama empat tahun dengan Kongres ikut menelan korban, demikian ujar sejarawan kepresidenan Richard Norton Smith.

Smith mengatakan, “Kegembiraan dan gelombang dukungan menyebabkan dia memenangkan jabatan presiden empat tahun kemudian. Kebanyakan presiden sadar bahwa tidak mudah melakukan perubahan fundamental. Pasti ada orang-orang yang kecewa, orang yang kemudian menentang anda. Empat tahun saja anda bisa kena begitu banyak masalah, apalagi delapan tahun”.

Menurut analis John Fortier, Presiden Barack Obama tidak dapat mencalonkan diri kembali dan kurun waktu untuk mencapai hal-hal besar pada masa jabatan kedua relatif singkat .

“Sepertinya Presiden (Obama) berada pada kedudukan kuat karena memiliki momentum dan mandat, tetapi hal-hal ini akan cepat sirna segera setelah dihadapkan pada kenyataan. Bahwa presiden tidak lama lagi akan berakhir masa jabatannya, bahwa ada pemilihan sela yang biasanya dimenangkan pihak oposisi,” ujar Fortier.

Sepanjang sejarah Amerika, pelantikan presiden menunjukkan peralihan kekuasaan secara damai di Amerika, atau jika ini merupakan pelantikan presiden yang terpilih kembali, maka hal tersebut merupakan kelanjutan kekuasaan.

Pidato pelantikan juga memberi kesempatan kepada presiden untuk menyatukan negara dan menandai kehadiran mereka dalam sejarah, demikian ujar analis Partai Republik Scot Faulkner.

“Obama kini mengusahakan warisan kinerja yang baik. Ia tidak lagi mengupayakan agar terpilih kembali dan ia berkesempatan dalam Pidato Tahunan di mana ia bisa membahas agenda legislatif yang lebih terinci. Jadi asumsi saya, pidato pelantikannya akan sangat berkesan,” papar Faulkner.

Dibanding pelantikan empat tahun lalu, kali ini diperkirakan lebih sedikit orang yang akan menyaksikan langsung pelantikan Presiden Barack Obama.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda