Kamis, 18 September 2014 Waktu UTC: 01:36

Berita / Dunia / Eropa

NATO Tegaskan Komitmen Saling Bela sesama Anggota

Para Menlu NATO menegaskan kembali komitmen untuk saling membela sesama negara anggota setelah aneksasi Rusia terhadap semenanjung Krimea di Ukraina.

Pertemuan Menlu NATO di Brussels, Belgia menegaskan kembali "pertahanan kolektif" sesama anggota NATO (1/4).
Pertemuan Menlu NATO di Brussels, Belgia menegaskan kembali "pertahanan kolektif" sesama anggota NATO (1/4).
Sekretaris Jendral NATO Andres Fogh Rasmussen memakai kata-kata keras untuk menggambarkan intervensi militer Rusia ke Ukraina dan pencaplokan Krimea. Ia mengatakan, “Agresi Rusia terhadap Ukraina adalah ancaman paling serius terhadap keamanan Eropa dalam generasi ini.”

Pendapat serupa juga diungkapkan Charles Kupchan, pakar NATO pada Universitas Georgetown di Amerika.
 
“Ada sejumlah insiden lain dengan level ancaman serupa, termasuk invasi Rusia terhadap Georgia tahun 2008. Tetapi saya pikir aneksasi Krimea adalah perkembangan paling serius dimana Presiden Vladimir Putin telah melanggar banyak aturan. Ia bertindak lewat cara-cara yang mengancam sistem internasional berdasarkan aturan,” urainya.

Kupchan mengatakan, untuk pertama kali sejak runtuhnya Tembok Berlin tahun 1989, NATO mempertimbangkan meningkatkan kekuatannya demi mempertahankan kedaulatan teritorial para negara anggotanya.
 
Kupchan menambahkan, “Kita telah melihat pesawat-pesawat jet F-15, F-16 dan pesawat-pesawat pemantau AWACS dikerahkan ke Eropa tengah. Kita menyaksikan potensi kembalinya persaingan militer antara Rusia dan dunia Barat. Kita belum sampai kesana, tetapi jika Putin tidak menahan diri kita akan bergerak ke arah itu.”
 
Ke-28 negara anggota NATO berkomitmen terhadap “pertahanan kolektif” – artinya serangan terhadap satu negara anggota adalah serangan terhadap semua anggota.
 
Sejak ambruknya Uni Soviet tahun 1991, 12 negara dari Eropa timur dan tengah telah menjadi anggota NATO. Charles Kupchan mengatakan mantan presiden Amerika George W. Bush dulu mendukung keanggotaan bagi dua negara lainnya.
 
“Tahun 2008, ada diskusi tentang kemungkinan membawa Ukraina masuk menjadi anggota bersama Georgia. Amerika mendesakkan agenda itu, tetapi ada tentangan cukup kuat dari Eropa. Saya pikir untuk saat ini bisa dipastikan prospek Ukraina bergabung dengan NATO tertunda, bahkan mungkin untuk selamanya,” kata Kupchan.
 
Sean Kay, pakar NATO pada Universitas Ohio Wesleyan mengatakan sejumlah jajak pendapat di Ukraina tahun 2008 menunjukkan hanya 30 persen populasi penduduknya memilih keanggotaan dengan NATO. Ia mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin konsisten menentang keanggotaan NATO bagi Ukraina.
 
Para analis mengatakan aneksasi Krimea oleh Rusia adalah “sebuah hal yang berat.” Mereka membayangkan apakah Putin “punya gagasan-gagasan berat lainnya.”

(Andre de Nesnera/VOA).
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook