Sabtu, 25 Oktober 2014 Waktu UTC: 07:02

Berita / Dunia / Eropa

Muslim Perancis Gunakan Astronomi untuk Tentukan Awal Ramadhan

Masyarakat Muslim di Perancis sepakat untuk tidak lagi menggunakan mata telanjang dalam menentukan awal bulan Ramadhan, tapi dengan astronomi modern.

Perempuan Muslim bersiap menghadiri peresmian Masjid Agung Strasbourg. (Foto: Dok)
Perempuan Muslim bersiap menghadiri peresmian Masjid Agung Strasbourg. (Foto: Dok)
Para pemimpin Muslim di Perancis telah sepakat untuk mengakhiri tradisi Islam berumur hampir 1.400 tahun dan menggunakan astronomi modern untuk menentukan awal bulan puasa Ramadhan dan hari besar Islam lainnya.

Dewan Muslim Perancis (CFCM) melakukan pemungutan suara, Kamis (10/5), untuk menentukan tanggal waktu-waktu tersebut dibandingkan bergantung pada mata telanjang untuk melihat bulan sabit baru, atau biasa disebut hilal.

Ramadan secara tradisional dimulai pagi hari setelah hilal terlihat, yang pada masa lalu telah ditunda sehari atau bahkan dua hari karena cuaca.

Presiden Dewan Mohammad Moussaoui mengatakan metode lama mengacaukan jadwal warga Muslim di Perancis untuk bekerja, bersekolah dan melakukan perayaan. Lima juta Muslim di Perancis merupakan kelompok minoritas Islam terbesar di Eropa.

“Sekarang semuanya akan lebih sederhana,” ujar Moussaoui, yang dengan segera mengumumkan bahwa bulan puasa Ramadhan akan dimulai 9 Juli tahun ini.

Turki telah menggunakan perhitungan ilmiah untuk memulai Ramadhan berpuluh tahun yang lalu. Para Muslim di Jerman, yang sebagian besar merupakan keturunan Turki, dan mereka yang di Bosnia juga menggunakan metode ini.

Kelompok minoritas Muslim lainnya di Eropa seringkali memulai Ramadhan berdasarkan permulaan di negara-negara asal mereka, atau di Arab Saudi. Hal itu dapat menyebabkan perbedaan waktu mulainya bulan puasa di antara kelompok etnis yang berbeda, bahkan di negara yang sama, seperti juga di Indonesia.

“Ini hal yang bersejarah. Sekarang semua Muslim di Perancis dapat memulai Ramadhan pada hari yang sama,” ujar pemimpin Muslim di Lyon Azzedine Gaci.

Para ilmuwan Muslim telah berdebat mengenai penggunaan astronomi untuk menggunakan kalender Islam selama bertahun-tahun, terutama karena sekarang komunikasi yang mengglobal membuat semakin aneh saat negara-negara yang berbeda memulai Ramadhan pada hari-hari yang berbeda.

Moussaoui mengatakan Muslim di Perancis tidak berencana meminta hari-hari besar mereka dimasukkan ke dalam kalender nasional.

"Lebih penting buat kami jika hari-hari itu dipertimbangkan, itu saja,” ujarnya. (Reuters/Tom Heneghan)
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: Arwin dari: Indonesia
10.05.2013 12:26
Bagus,saya sangat setuju,di negara Eropa dan Amerika Serikat peralatan astronominya sangat modern,harus di manfaatkan.

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook