Sabtu, 25 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 16:37

Berita / Dunia / Asia Pasifik

Meskipun Dikecam, Pakistan-Iran Kerjasama dalam Bidang Energi

Pakistan mendekati tetangganya Iran untuk bekerjasama dalam bidang energi dan keamanan meskipun dunia barat terus mengisolasi Iran karena program nuklirnya.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad (kiri) dan PM Pakistan Yousuf Raza Gilani (kanan), saat kunjungan Presiden Ahmadinejad ke Islamabad (16/2). Kedua negara kini sedang merundingkan kerjasama bidang energi dan keamanan.
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad (kiri) dan PM Pakistan Yousuf Raza Gilani (kanan), saat kunjungan Presiden Ahmadinejad ke Islamabad (16/2). Kedua negara kini sedang merundingkan kerjasama bidang energi dan keamanan.
UKURAN HURUF - +
Sharon Behn
Dalam beberapa hari terakhir pejabat-pejabat di Islamabad telah mengadakan perundingan dengan rekannya dari Iran mengenai pembangunan jalur pipa gas bernilai 1,5 milyar dolar dari Iran yang akan membantu meringankan kelangkaan bahan bakar parah di Pakistan.

Minggu ini, Menteri Dalam Negeri Pakistan, Rehman Malik juga menandatangani perjanjian keamanan antara kedua negara guna memperketat keamanan di sepanjang perbatasan mereka.

Perjanjian itu menunjukkan hubungan yang makin erat pada saat Amerika dan masyarakat internasional memberlakukan sanksi-sanksi ekonomi ketat terhadap Iran karena program nuklirnya.

Iran mengatakan program  nuklirnya bertujuan damai. Tapi pihak Barat khawatir Iran sedang membangun kemampuan senjata nuklirnya.

Sanksi-sanksi internasional berdampak pada perusahaan-perusahaan yang melakukan bisnis dengan Iran, kata jurubicara kedutaan Amerika Rian Harris.

“Kami menjelaskan kepada semua pihak di seluruh dunia bahwa mereka berkepentingan untuk menghindari kegiatan yang kemungkinan dilarang oleh sanksi-sanksi PBB atau dikenai sanksi hukum Amerika, kata Harris.

Harris mengatakan Amerika yakin ada alternatif  solusi energi jangka panjang bagi Pakistan, seperti rencana jalur pipa lewat Turkmenistan dan Afghanistan. Ia mengatakan bahwa Amerika mendanai proyek-proyek PLTA berskala besar di Pakistan untuk membantu memenuhi kelangkaan parah itu.

Jalur pipa gas alam  Iran-Pakistan telah dibicarakan selama satu dekade, tapi dalam beberapa minggu terakhir delegasi-delegasi dari Teheran berdatangan di Islamabad guna merampungkan  kesepakatan itu.

Media setempat melaporkan perundingan itu masih macet mengenai harga gas dan pendanaan di pihak Pakistan.

Rasul Bakhsh Rais, seorang profesor ilmu politik di Universitas Lahore mengatakan upaya-upaya Presiden Pakistan Asif Ali Zardari untuk menyelesaikan kesepakatan dengan Iran lebih terkait dengan kegiatan politik pemilu dari pada penyelesaian energi.

Pemerintah yang menghadapi pemilu dalam beberapa bulan mendatang  mendapat kecaman keras atas ketidak mampuannya mengakhiri kelangkaan parah energi di seluruh negeri.
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: Haydar Yahya dari: Jakarta, Indonesia
20.02.2013 08:23
Kerjasama yang saling memberi manfaat bagi setiap negara adalah sebuah keniscayaan di era global dewasa ini. Adalah aneh, ironi bila AS dan sekutunya mengecam kerjasama itu. Terhadap dunia Islam, sepertinya sikap AS,mirip terjangkit paranoid tanpa alasan jelas. Dunia menyaksikan politik luar negri Iran selama ribuan tahun, selalu bersikap bersahabat kepada bangsa apa saja. Berbeda dari sikap kebijakan AS, yang cendrung memaksakan kehendak kepada semua bangsa. Rasanya Politik seperti itu "primitif", tidak sesuai dengan era global dan peradaban manusia moderen. Bila diamati, kesibukan AS, selalu saja berkisar soal perang. Jual senjata, latihan perang sana sini, pangkalan militer disana sini, provokasi dan menimbulkan ketegangan di dunia. Seyogyanya AS melalukan introspeksi dalam politik luar negrinya dan bisa bergaul selayaknya manusia bagi semua bangsa umumnya dan bangsa muslim khususnya. China makin dihormati, karena sibuk bekerja dan saling memberi manfaat pada dunia dalam posisi sejajar tanpa menekan. China penuh percaya diri, berbeda dengan AS. Agaknya AS tertular penyakit "tuan"nya Israel. Paranoid parah !

 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Google Glass Picu Kontroversi - VOA untuk Dunia Tekno

Tak ada yang menandingi kecanggihan kacamata Google, yang menghadirkan fungsi ponsel pintar langsung di depan mata Anda. Google Glass, nama kacamata baru Google tersebut, memang belum tersedia luas, tapi sudah menimbulkan berbagai isu seputar etika dan hak privasi. Selengkapnya berikut liputan reporter VOA Ade Astuti.
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang laki-laki Irak memakai topeng logam yang biasa digunakan sebagai perangkat penyiksaan pada masa kepemimpinan rezim terguling Saddam Hussein di monumen Shaheed di Baghdad, Irak.
  • Umat Budha membawa lilin-lilin, membentuk lautan api, mengelilingi sebuah patung Budha besar pada hari Raya Waisak, untuk memperangati kelahiran, pencerahan dan wafatnya Sang Budha di kuil di Provinsi Nakhon Pathom di pinggiran kota Bangkok.
  • Dua anak laki-laki bermain kriket di pantai Marina di kota selatan India, Chennai.
  • Sebagian runtuhan jembatan Interstate 5 di Sungai Skagit di Mount Vernon, Washington.
  • Salju menutupi sebuah bangku di Brocken, di pegunungan Harz dekat Schierke, Jerman.
  • Para tentara memberikan penghormatan saat terdengar bunyi alunan terompet mengiringi sebuah pemakaman militer di dekatnya, saat mereka menaruh bendera di makam-makam di Taman Makam Pahlawan Nasional di Arlington, Virginia, 24 Mei 2013.
  • Seorang pengemudi rickshaw, semacam becak di India, tidur di rickshawnya pada suatu siang yang terik di New Delhi, India.
  • Para murid sekolah menengah yang baru lulus melepaskan kegembiraan mereka di air mancur seraya merayakan hari terakhir sekolah di Kiev.
Lainnya