Sabtu, 25 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 20:20

Berita / Gaya Hidup / Kesehatan

Lebih dari 350 Juta Penduduk Dunia Menderita Depresi

Tanggal 10 Oktober adalah Hari Kesehatan Mental Sedunia. WHO menggunakan kesempatan itu untuk menyerukan diakhirinya stigma terhadap mereka yang menderita depresi atau gangguan jiwa.

Studi WHO baru-baru ini melaporkan bahwa sekitar 5 persen warga berbagai komunitas tertentu di dunia  mengalami depresi selama satu tahun terakhir.
Studi WHO baru-baru ini melaporkan bahwa sekitar 5 persen warga berbagai komunitas tertentu di dunia mengalami depresi selama satu tahun terakhir.
UKURAN HURUF - +
Joe de Capua
Dr. Saxena, direktur Departemen Kesehatan Mental  dan Penyalahgunaan Obat Terlarang di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan lebih dari 350 juta orang di seluruh dunia menderita depresi.
 
“Ketika kita berbicara mengenai depresi, kita membicarakan tentang gangguan jiwa, yang sangat khusus diluar  perasaan sedih yang sesekali  biasa kita rasakan,” papar Saxena.
 
Selanjutnya, ia mengatakan, “Gangguan depresi ditandai dengan kesedihan berkelanjutan selama dua minggu atau lebih dan juga gangguan pada saat kerja kita sehari-hari atau kegiatan yang kita lakukan sehari-hari. Jadi itu sebenarnya  penyakit, bukan hanya sekedar keadaan emosional.”
 
Ada banyak penyebab gangguan ini, seperti diungkapkan dr. Saxena.
 
"Ada beberapa penyebab biologis - perubahan dalam neurotransmitter di otak - tetapi juga faktor kepribadian dan lingkungan, yang semuanya menimbulkan apa yang kemudian kita lihat sebagai sindrom depresi," kata dr. Saxena.
 
Dr. Saxena mengatakan para praktisi kesehatan yang  terlatih harus dapat mendiagnosis depresi tidak hanya dengan pemeriksaan fisik, tetapi juga dengan mengajukan pertanyaan yang tepat. Pertanyaan-pertanyaan itu berpusat  pada keadaan emosi seseorang. Apakah orang itu bersedih dan menangis dalam jangka waktu yang lama? Apakah orang tersebut merasa rendah diri, merasa bahwa kehidupan ini  tidak ada artinya  atau punya keinginan bunuh diri?
 
WHO memperkirakan satu juta orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya karena ”sebagian besar mengalami depresi”. Juga dikatakan satu dari setiap lima ibu  yang baru melahirkan menderita depresi pasca melahirkan.
 
Sebuah studi yang didukung WHO baru-baru ini melaporkan bahwa sekitar 5 persen warga berbagai komunitas tertentu mengalami depresi selama satu tahun terakhir.
 
"Depresi adalah masalah global. Di seluruh wilayah di dunia memiliki angka depresi yang hampir sama. Pada kenyataannya, ada mitos yang mengatakan depresi sangat umum dijumpai di negara-negara maju, dan mungkin tidak terlihat di negara-negara berkembang. Ini benar-benar persepsi salah. Negara-negara miskin dan masyarakat miskin, termasuk di Afrika, sebenarnya sangat rentan terhadap depresi karena tingkat stres yang sangat tinggi, serta kondisi fisik lainnya, seperti HIV/ AIDS, penyakit kronis dan faktor-faktor sosial dan ekonomi lainnya,” papar dr. Saxena.
 
Meskipun banyak penyebabnya, Saxena mengatakan banyak juga cara pengobatannya, termasuk obat-obatan dengan harga murah. Juga terapi dan intervensi psikologis dan sosial lainnya.
 
WHO memperingatkan stigma adalah masalah besar yang mencegah banyak orang mencari bantuan.
 
Dr. Saxena mengatakan bahwa sangat penting setiap orang melihat depresi sebagai suatu kondisi dan mengawasi dirinya sendiri dan orang-orang terdekat mereka. Mendukung mereka untuk mencari pengobatan dan mengungkapkan bahwa seseorang dapat menderita masalah ini. Stigma dapat dihilangkan dengan pengetahuan dan sikap yang tepat.
 
Program Aksi Kesehatan Mental WHO melatih para petugas kesehatan di negara-negara berpendapatan rendah untuk mengenali gangguan mental dan memberikan pengobatan.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Google Glass Picu Kontroversi - VOA untuk Dunia Tekno

Tak ada yang menandingi kecanggihan kacamata Google, yang menghadirkan fungsi ponsel pintar langsung di depan mata Anda. Google Glass, nama kacamata baru Google tersebut, memang belum tersedia luas, tapi sudah menimbulkan berbagai isu seputar etika dan hak privasi. Selengkapnya berikut liputan reporter VOA Ade Astuti.
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang laki-laki Irak memakai topeng logam yang biasa digunakan sebagai perangkat penyiksaan pada masa kepemimpinan rezim terguling Saddam Hussein di monumen Shaheed di Baghdad, Irak.
  • Umat Budha membawa lilin-lilin, membentuk lautan api, mengelilingi sebuah patung Budha besar pada hari Raya Waisak, untuk memperangati kelahiran, pencerahan dan wafatnya Sang Budha di kuil di Provinsi Nakhon Pathom di pinggiran kota Bangkok.
  • Dua anak laki-laki bermain kriket di pantai Marina di kota selatan India, Chennai.
  • Sebagian runtuhan jembatan Interstate 5 di Sungai Skagit di Mount Vernon, Washington.
  • Salju menutupi sebuah bangku di Brocken, di pegunungan Harz dekat Schierke, Jerman.
  • Para tentara memberikan penghormatan saat terdengar bunyi alunan terompet mengiringi sebuah pemakaman militer di dekatnya, saat mereka menaruh bendera di makam-makam di Taman Makam Pahlawan Nasional di Arlington, Virginia, 24 Mei 2013.
  • Seorang pengemudi rickshaw, semacam becak di India, tidur di rickshawnya pada suatu siang yang terik di New Delhi, India.
  • Para murid sekolah menengah yang baru lulus melepaskan kegembiraan mereka di air mancur seraya merayakan hari terakhir sekolah di Kiev.
Lainnya