Minggu, 19 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 02:57

Berita / Indonesia

Komnas HAM Desak Pemerintah Segera Selesaikan Kekerasan di Papua

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah kekerasan di Papua secara komprehensif.

Ketua Komnas HAM , Ifdal Kasim (Foto: dok).
Ketua Komnas HAM , Ifdal Kasim (Foto: dok).
UKURAN HURUF - +
Fatiyah Wardah
Peristiwa kekerasan terus terjadi di tanah Papua. Kamis siang, polisi menembak Wakil Ketua Komite Nasional Papua Barat Mako Tabuni. Pihak kepolisian menyatakan Mako Tabuni ditembak karena melawan ketika hendak ditangkap.

Ketua Komnas HAM Ifdal Kasim kepada wartawan di kantornya mengutuk peristiwa penembakan terhadap Wakil Ketua Komite Nasional Papua Barat itu. Menurut Ifdal kejadian itu dapat memicu kekerasan di tanah Papua.

Ifdhal mengatakan penembakan tersebut menjadi catatan panjang kekerasan di Papua. Berdasarkan data Komnas HAM, dari Januari hingga awal Juni  2012 terdapat sekitar 11 korban meninggal dunia dan sebanyak 12 korban mengalami luka-luka.

Oleh karena itu, Ifdhal meminta agar Polri menjelaskan kronologis peristiwa kekerasan dan penembakan tersebut. Menurut Ifdal, proses hukum harus dilakukan kepada aparat yang melakukan pelanggaran.

Pemerintah menurut Ifdal harus segera mengambil kebijakan dan segera membangun dialog yang bermartabat dengan semua elemen masyarakat di Papua guna mencari solusi damai terhadap berbagai permasalah di Papua.

Perwakilan Dewan Adat Daerah Paniai, Papua (kanan) mendatangi kantor Komnas HAM di Jakarta untuk mengadukan dugaan pelanggaran aparat keamanan (7/12).Perwakilan Dewan Adat Daerah Paniai, Papua (kanan) mendatangi kantor Komnas HAM di Jakarta untuk mengadukan dugaan pelanggaran aparat keamanan (7/12).
x
Perwakilan Dewan Adat Daerah Paniai, Papua (kanan) mendatangi kantor Komnas HAM di Jakarta untuk mengadukan dugaan pelanggaran aparat keamanan (7/12).
Perwakilan Dewan Adat Daerah Paniai, Papua (kanan) mendatangi kantor Komnas HAM di Jakarta untuk mengadukan dugaan pelanggaran aparat keamanan (7/12).
"Hanya mereka (orang Papua) saja yang diminta pertanggungjawaban kalau mereka mengibarkan bintang kejora atau (kalau) mereka meneriakan kata Merdeka, mereka ditangkap. Tetapi ketika aparat keamanan melakukan penembakan diluar prosedur hukum, tidak ada pertanggungjawabannya. Nah itu kan menimbulkan kemarahan mereka," kata Ifdal Kasim.

"Menurut saya, (pemerintah) harus merubah paradigma dalam melihat isu Papua ini. Kalau terus menerus meniupkan isu separatis saya kira itu akan menyulitkan karena kalau sudah isu separatis berarti harus ada pendekatan keamanan yang lebih intensif. Nah ini kan akan terus mengeskalasi kekerasan," lanjutnya.

Juru Bicara Kepolisian Wilayah Papua Yohanes Nugroho menjelaskan Mako Tabuni ditembak karena melawan ketika hendak ditangkap. Tabuni ditangkap karena diduga terlibat sejumlah aksi kekerasan di Jayapura diantaranya kasus penembakan terhadap warga negara Jerman beberapa waktu lalu.

"Kita mau menangkap, tetapi ketika mau menangkap ada perkelahian antara yang menangkap dan pelaku berinisial MT (Mako Tabuni)  dan ketika senjata yang dibawa MT mengarah ke aparat, dia dilumpuhkan oleh aparat yang lain, sehingga MT mengalami luka tembak," jelas Yohanes Nugroho.

Mako Tabuni terkena tembakan dan meninggal dunia dalam perawatan. Pendukung Tabuni melampiaskan kemarahan mereka dengan melakukan perusakan. Mereka membakar ruko, 27 motor dan tiga mobil.

Peneliti Human Rights Watch Andreas Harsono menyatakan terus terjadi kekerasan di Papua disebabkan adanya impunitas kepada aparat yang melakukan kekerasan terhadap masyarakat Papua.

"Pelakunya itu mengalami kebal hukum, hanya dihukum sederhana. Masyarakat luas cenderung menerima bahwa orang-orang Papua inilah yang bersalah. Batalyon 753 yang menyiksa para petani di Papua hanya divonis tidak mentaati perintah atasan dan dihukum tujuh bulan penjara. Atau bekas Kapolresta Jayapura, Imam Setiawan yang menyebabkan tiga orang mati dan 90 orang luka-luka Oktober lalu hanya dihukum peringatan tertulis," papar Anread Harsono.

Andreas Harsono meminta pemerintah Indonesia untuk segera mengizinkan media dan kelompok masyarakat sipil internasional masuk ke Papua.

Juru Bicara Forum Kerja Gereja Papua pendeta Benny Giay mendesak adanya intervensi lembaga kemanusiaan internasional untuk menyelamatkan rakyat Papua. Hal ini diungkapkan menyusul banyaknya aksi penembakan dan teror di tanah Papua.

Permasalahan di Papua memang menjadi perhatian serius dunia internasional. Dalam Forum Univesal  Periodic Review (UPR)  di sidang Dewan Ham PBB di Jenewa, Swiss beberapa waktu lalu, 14 negara mempertanyakan persoalan Papua.

Hal yang dipertanyakan diantaranya soal pelanggaran HAM di Papua oleh TNI dan Polri, akses di Papua yang tertutup untuk organisasi internasional maupun jurnalis dan soal penerapan pasal-pasal makar kepada para terpidana yang dijatuhi hukuman akibat menyuarakan pemikirannya.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Backstreet Boys dan Dakota Fanning - VOA Pop News

Backstreet Boys mendapat anugerah Hall of Fame di Hollywood. Debbie Sumual-Patlis menghantarkan liputannya untuk Anda di VOA Pop News kali ini. Simak juga kabar tentang Dakota Fannig dalam masa transisinya dari artis cilik menjadi artis dewasa. Siapa artis yang akan dibahas di Hollywood Highlights kali ini? Klik video ini untuk temukan jawabannya.
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Kapal layar-kapal layar balap Pen Duick berlayar di pantai Saint-Quay-Portrieux, Perancis Barat dalam perjalanan dari Roscoff ke Saint-Quay-Portrieux.
  • Delegasi dari Movement for Democratic Change (MDC) termasuk Wakil Presiden Thokosani Khupe (kanan) menari saat upacara pembukaan resmi konfrensi MDC yang akan berkangsung tiga hari di Harare.
  • Dua warga Bangladesh melalui tanda bendera merah peringatan datangnya badai tropis Mahasen di pantai Teluk Benggala di Chittagong, Bangladesh,16 Mei 2013.
  • Pengunjung terlihat melalui instalasi "Resin" dalam pameran  "Kapoor di Berlin" di museum Martin Gropius Bau di Berlin pada tanggal 17 Mei 2013.
  • Para peziarah menunggang kuda-kuda mereka melintasi Sungai Quema dalam perjalanan mereka menuju El Rocio di pedesaan Almonte Provinsi Huelva, Spanyol,16 Mei 2013.
  • Seorang laki-laki Afghanistan mengarahkan anak-anaknya menjauh dari lokasi dimana seseorang telah melakukan serangan bom mobil bunuh diri atas konvoi NATO di Kabul, Afghanistan, 16 Mei 2013.
  • Para peraga busana menampilkan kreasi karya perancang busana Indonesia, Dian Pelangi, dalam acara Festival Busana dan Makanan Jakarta, di Jakarta, Indonesia.
  • Seorang anak mengamati ubur-ubur berenang di dalam sebuah tangki besar di Aquarium Vancouver, British Columbia,16 Mei 2013.
  • Seorang perempuan Korea menuangkan air suci ke sebuah patung Budha kecil untuk memperingati hari kelahiran Budha di Kuil Jogye di Seoul Korea.
  • Gabungan gambar sebuah galaksi memperlihatkan bagaimana tingkat gaya tarik yang terus menerus dari sebuah lubang hitam yang sangat besar bisa dikendalikan untuk menghasilkan daya yang sangat besar (foto: NASA).
  • Seorang pemuda Pakistan tampak mengejar kudanya seiring dengan terbenamnya matahari di pinggiran kota Islamabad, Pakistan.
  • Pemain bisbol dari klub New York Mets, Jordany Valdespin, meluncurkan tubuhnya menyentuh home plate untuk membuat skor dalam  RBI ganda oleh Daniel Murphy selama inning ketiga permainan bisbol melawan St Louis Cardinals di St Louis, 16 Mei 2013.
Lainnya