Kamis, 18 September 2014 Waktu UTC: 09:38

Kesan Ramadhan di AS bagi Imigran Muslim Asal Nigeria

Jumai Ali, yang sudah 20 tahun hidup di AS, merasakan keterbukaan masyarakat AS yang membuat Ramadhan lebih menarik.

Buka puasa bersama dan sholat berjamaah di masjid untuk menghilangkan kerinduan suasana Ramadhan di negara asal.
Buka puasa bersama dan sholat berjamaah di masjid untuk menghilangkan kerinduan suasana Ramadhan di negara asal.

Multimedia

Audio
Rauf PrasodjoMade Yoni

Jumai Ali hijrah ke Amerika 20 tahun lalu, dari negara asalnya Nigeria, Afrika untuk bekerja di sebuah instansi pemerintah di Washington D.C. Meskipun lama bermukim di Amerika, Jumai masih merasakan suasana tanah asalnya di bulan Ramadhan, dengan berbuka puasa bersama keluarga-keluarga Nigeria dan mengikuti tarawih.

Katanya, “Setelah berbuka puasa sebagian dari kami akan pergi ke masjid dan melakukan tarawih. Dan pada saat seperti ini kami sembahyang lebih banyak dari sebelumnya, karena sebelumnya kita tidak sembahyang tarawih setelah berbuka puasa.“

Suasana ini seperti membawanya kembali ke Nigeria, katanya semua orang akan duduk bersama dan makan bersama. Terkadang Jumai pergi ke masjid dan berbuka puasa disana bersama Muslim lainnya yang membuatnya merasa berada di lingkungan sendiri. Karena demikianlah orang Nigeria di bulan Ramadan.

Berpuasa sembari bekerja di Amerika menurut Jumai ada tantangannya.

Karena sebagian harus tetap bekerja ketika tiba waktunya berbuka berpuasa karena masih berada di tempat kerja, jadi harus dilakukan dengan terburu-buru kemudian langsung bekerja kembali. Tapi begitulah yang harus dihadapi dan berupaya melakukan yang terbaik.

Tantangan berpuasa di bulan Ramadhan tidak hanya ditemui orang dewasa namun juga dialami anak-anak Nigeria yang hendak berpuasa di lingkungan yang sebagian besar bukan Muslim ini.

Kata Jumai, “Anak-anak mengatakan semua orang makan, kadang-kadang ini sulit, namun jika anak-anak sudah mencapai usia tertentu mereka bisa melakukannya sampai selesai.”

Berpuasa Ramadhan di Amerika punya tantangan tersendiri.
Berpuasa Ramadhan di Amerika punya tantangan tersendiri.

Tentu saja masalah ini tidak membebani orang dewasa, Jumai mengatakan tidak menjadi masalah berpuasa di lingkungan dimana kebanyakan orang tidak berpuasa, bahkan menjadi lebih menarik karena banyak yang tidak berpuasa dan menanyakan berbagai hal mengenai puasa, dan saya menyukainya.

Ramadhan kali ini bagi Jumai mempunyai kesan sendiri, karena untuk pertama kalinya setelah hampir dua dasawarsa ia melakukan puasa terlama. Dua puluh tahun yang silam ia pernah berpuasa hingga pukul 9.30 malam pada musim panas, dimana matahari terbenam lebih lama.

Menurut Jumai banyak orang menganggap tidak mungkin melakukan puasa dengan baik di Amerika, namun anggapan tersebut keliru, karena banyak yang tidak mengetahui bahwa kini ada banyak masjid dan Muslim di Amerika. Selain itu banyak warga non-Muslim Amerika yang mulai mengerti dan ingin mengetahui tentang Ramadhan. Kata Jumai

“Sebelumnya orang bahkan tidak tahu kita berpuasa sampai kita beritahu. Kini mereka tahu dan bahkan datang kepada kita mengatakan selamat Ramadhan, jadi semua sudah berubah.”

Setelah 20 tahun berpuasa di Amerika kini Jumai Ali merasakan keterbukaan masyarakat Amerika yang membuat Ramadhan lebih menarik. Itu pula yang membuatnya menghargai keberagaman umat serta hidup di Amerika.

Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda