Sabtu, 25 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 18:13

Berita / Dunia / Asia Pasifik

Kelompok HAM Serukan Afghanistan Hentikan Hukuman Mati

Kelompok-kelompok hak asasi internasional menyerukan agar Afghanistan menghentikan penggunaan hukuman mati, setelah pihak berwenang mengeksekusi delapan narapidana.

Pasukan Afghanistan menangkap beberapa tersangka Taliban dalam operasi di Herat (foto: dok). Kelompok Taliban mengancam pembalasan jika anggotanya dijatuhi hukuman mati.
Pasukan Afghanistan menangkap beberapa tersangka Taliban dalam operasi di Herat (foto: dok). Kelompok Taliban mengancam pembalasan jika anggotanya dijatuhi hukuman mati.
UKURAN HURUF - +
Presiden Afghanistan Hamid Karzai menyetujui eksekusi hari Selasa (20/11) terhadap narapidana yang dinyatakan bersalah melakukan pembunuhan, pemerkosaan, dan penculikan.

Menurut para pejabat Afghanistan, delapan narapidana lagi akan dieksekusi dalam beberapa hari mendatang.

Organisasi Human Rights Watch dan Amnesty International menyatakan keprihatinan mengenai kemampuan sistem peradilan Afghanistan memastikan proses yang adil. Kedua organisasi menentang hukuman mati dalam kasus apapun.

Misi Uni Eropa di Afghanistan juga menyatakan keprihatinan serius mengenai eksekusi di Afghanistan dan menyerukan agar para pejabat negara itu memberlakukan moratorium pelaksanaan hukuman mati.

Sementara itu dalam pernyataan hari Rabu (21/11), kelompok militan Taliban mengatakan, pihaknya menerima laporan bahwa beberapa anggota Taliban menghadapi hukuman mati. Taliban mengancam akan ada akibat berat bagi para legislator dan para pejabat mahkamah dan pemerintah jika hukuman mati itu dilaksanakan.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Google Glass Picu Kontroversi - VOA untuk Dunia Tekno

Tak ada yang menandingi kecanggihan kacamata Google, yang menghadirkan fungsi ponsel pintar langsung di depan mata Anda. Google Glass, nama kacamata baru Google tersebut, memang belum tersedia luas, tapi sudah menimbulkan berbagai isu seputar etika dan hak privasi. Selengkapnya berikut liputan reporter VOA Ade Astuti.
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang laki-laki Irak memakai topeng logam yang biasa digunakan sebagai perangkat penyiksaan pada masa kepemimpinan rezim terguling Saddam Hussein di monumen Shaheed di Baghdad, Irak.
  • Umat Budha membawa lilin-lilin, membentuk lautan api, mengelilingi sebuah patung Budha besar pada hari Raya Waisak, untuk memperangati kelahiran, pencerahan dan wafatnya Sang Budha di kuil di Provinsi Nakhon Pathom di pinggiran kota Bangkok.
  • Dua anak laki-laki bermain kriket di pantai Marina di kota selatan India, Chennai.
  • Sebagian runtuhan jembatan Interstate 5 di Sungai Skagit di Mount Vernon, Washington.
  • Salju menutupi sebuah bangku di Brocken, di pegunungan Harz dekat Schierke, Jerman.
  • Para tentara memberikan penghormatan saat terdengar bunyi alunan terompet mengiringi sebuah pemakaman militer di dekatnya, saat mereka menaruh bendera di makam-makam di Taman Makam Pahlawan Nasional di Arlington, Virginia, 24 Mei 2013.
  • Seorang pengemudi rickshaw, semacam becak di India, tidur di rickshawnya pada suatu siang yang terik di New Delhi, India.
  • Para murid sekolah menengah yang baru lulus melepaskan kegembiraan mereka di air mancur seraya merayakan hari terakhir sekolah di Kiev.
Lainnya