Rabu, 03 September 2014 Waktu UTC: 07:06

Berita / Dunia / Asia Pasifik

Kekurangan Tenaga Kerja, Tiongkok Rekrut Murid Sekolah

Kurangnya jumlah tenaga kerja serta kenaikan upah minimum membuat sejumlah perusahaan di Tiongkok mempekerjakan murid sekolah kejuruan.

Mahasiswa di Tiongkok bekerja di pabrik garmen di Jiaxing, provinsi Zheijang. (Foto: Dok)
Mahasiswa di Tiongkok bekerja di pabrik garmen di Jiaxing, provinsi Zheijang. (Foto: Dok)
September lalu, pabrik terbesar di kota Yantai, Tiongkok bagian timur laut, meminta pemerintah lokal mengatasi masalah kekurangan 19.000 tenaga kerja padahal tenggat waktu pemesanan besar sudah membayang.

Pemerintah lokal kemudian meminta sekolah menengah kejuruan setempat mengirim murid-muridnya ke pabrik yang dioperasikan oleh Foxconn Technology Group dari Taiwan yang memproduksi telepon pintar, komputer dan peralatan bermain.

Di saat perusahaan-perusahaan seperti Foxconn memindahkan pabrik-pabrik mereka dari daerah-daerah berbiaya tinggi di delta Sungai Pearl di provinsi Guangdong, mereka menemukan bahwa persediaan tenaga kerja di lokasi-lokasi baru di Tiongkok ternyata tidak melimpah seperti yang diharapkan.

Hal tersebut mendorong perusahaan-perusahaan multinasional dan para penyalur mereka mempekerjakan jutaan remaja siswa sekolah menengah kejuruan di bagian perakitan. Sekolah-sekolah tersebut mengajarkan beragam keahlian dan mewajibkan pengalaman bekerja, yang dalam praktiknya berarti murid harus menerima penugasan kerja supaya bisa lulus.

Data dari Departemen Pendidikan menunjukkan bahwa setiap tahun, paling tidak delapan juta murid sekolah menengah kejuruan di Tiongkok bekerja di pabrik dan bengkel, atau satu dari delapan murid usia 16 sampai 18 tahun. Pada 2010, departemen tersebut memerintahkan sekolah kejuruan untuk mengisi kekurangan tenaga kerja. Usia legal minimum untuk bekerja adalah 16 tahun.

Foxconn, nama dagang untuk Hon Hai Precision Industry yang merupakan kontraktor Apple, mempekerjakan 1,2 juta orang di seluruh negeri, hampir 3 persen diantaranya murid sekolah yang magang.
Pemerintah daerah yang giat menyenangkan hati investor baru bergantung pada sekolah-sekolah untuk mengisi kekurangan tenaga kerja.

Anak-anak sekolah ini juga memberi keuntungan lebih karena bisa dibayar lebih murah daripada pegawai biasa. Beberapa perusahaan memindahkan pabriknya ke luar negeri karena naiknya upah pegawai. Jika upah minimum di Yantai adalah 1.100 yuan (US$180) sebulan, maka murid sekolah yang magang dapat dibayar lebih rendah, meski beberapa perusahaan, termasuk Foxconn, membayar dengan gaji yang sama.

Jumlah murid juga berlimpah, dengan kenaikan 26 persen lulusan sekolah kejuruan pada lima tahun terakhir menjadi 6,6 juta murid di Yantai pada 2011.

Sekitar 2,7  persen pekerja Foxconn di Tiongkok adalah murid sekolah kejuruan, dengan jumlah mencapai 32.400 remaja.

Oktober lalu, media pemerintah Tiongkok melaporkan ada 56 pekerja di bawah umur di antara para murid yang dikirim bekerja di Foxconn di Yantai. Perusahaan tersebut kemudian mengeluarkan mereka.

Undang-undang di Tiongkok membatasi jam kerja siswa delapan jam sehari, dan tidak diperkenankan mengambil giliran bekerja malam. Namun para murid di Yantai mengatakan mereka bekerja sampai 12 jam per hari dan secara rutin bekerja malam hari di pabrik-pabrik milik pengusaha lokal maupun internasional. (Reuters/Lucy Hornby)
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook