Kamis, 17 April 2014 Waktu UTC: 21:23

Berita / Indonesia

Investasi Langsung Asing Mengalir ke Indonesia

Di tengah prospek ekonomi global yang buram dan kekhawatiran mengenai korupsi, Indonesia mencatat rekor investasi langsung asing (FDI).

Pembuatan jalan di Jakarta. Para analis mengatakan bahwa meski investasi asing mengalir ke Indonesia, hal itu tidak akan bertahan tanpa pembangunan infrastruktur. (Foto: Dok)
Pembuatan jalan di Jakarta. Para analis mengatakan bahwa meski investasi asing mengalir ke Indonesia, hal itu tidak akan bertahan tanpa pembangunan infrastruktur. (Foto: Dok)
UKURAN HURUF - +
Indonesia mencatat rekor investasi langsung asing (FDI) sebesar US$5,9 miliar pada kuartal ketiga tahun ini, menandakan negara ini masih menjadi tempat favorit di tengah prospek ekonomi global yang buram dan kekhawatiran masalah korupsi dan tata pemerintahan.

Dalam rupiah, jumlah total FDI pada Juli sampai September naik 22 persen selama setahun menjadi Rp 56,6 triliun, setelah pertumbuhan tahunan 30,2 persen pada kuartal kedua. Angka pada kuartal ketiga ini merupakan rekor untuk kuartal manapun.

Meski peningkatan tersebut kurang dramatis jika dilihat dari sisi dolar, dan jauh dibandingkan FDI Tiongkok yang mencapai $24,34 miliar pada periode yang sama, hal ini menandai naik turunnya reputasi Indonesia dalam melindungi investor luar negeri dan kekhawatiran-kekhawatiran dianggap sebagai risiko yang dapat diterima.

India, dengan ekonomi dua kali lipat Indonesia, hanya menarik investasi langsung asing sebesar $4,42 miliar pada kuartal kedua.

“Tidak ada satu faktor yang mendorong investasi [di Indonesia] melainkan kombinasi dari diversifikasi ekonomi dan basis konsumen dengan optimisme yang tinggi,” ujar Arian Ardie, COO dari Terrasys Energy, perusahaan konsultasi dan investasi energi terbarukan.

Awal bulan ini, investor Inggris Nat Rothschild mundur dari dewan direktur Bumi Plc, salah satu dari eksportir batu bara terbesar di dunia yang didirikan dengan pemegang saham Indonesia dua tahun lalu dalam kesepakatan senilai $3 miliar. Ia mendesak diadakan penyelidikan terhadap dugaan penyimpangan keuangan pada anak-anak perusahaan Bumi.

Bumi dikuasai oleh keluarga Bakrie, dan mitranya, Samin Tan.

Kekayaan mineral yang melimpah di Indonesia dan pertumbuhan pasar domestik sepertinya lebih penting dibandingkan kekhawatiran yang timbul karena masalah Bumi.
Menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), industri bahan kimia, pertambangan dan transportasi serta telekomunikasi merupakan penerima investasi pada kuartal ketiga.

“Kasus Bumi tidak akan berdampak pada investasi di Indonesia,” ujar Menteri Perdagangan Gita Wirjawan pada wartawan minggu lalu.

"Itu karena para investor melihat Indonesia sebagai tempat investasi jangka panjang, sementara Bumi hanya merupakan isu korporat yang tidak berhubungan dengan iklim investasi kita.”

Infrastruktur

Indonesia mencatat FDI sebanyak Rp 175,3 triliun pada 2011,  naik 18 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah FDI mencapai Rp 107,6 triliun setengah tahun ini.
Namun beberapa analis mengingatkan bahwa investasi asing dapat berangsur-angsur turun jika pemerintah tidak memperbaiki infrastruktur dasar.

“Investasi di Indonesia masih relatif kecil dan FDI masih memiliki ruang untuk tumbuh jika pemerintah menanamkan lebih banyak uang untuk infrastruktur dasar,” ujar ekonom Enrico Tanuwidjaja dari Royal Bank of Scotland di Singapura.

"Kepadatan jalan tidak tumbuh banyak. Demikian juga dengan jalan kereta api, pelabuhan dan infrastruktur lain.”

Indonesia terus mendapat nilai buruk dalam indeks korupsi lembaga Transparansi Internasional. Konflik buruh juga merupakan masalah.

Namun peningkatan kemakmuran penduduk Indonesia menjadikannya pasar domestik yang besar, sementara usia rata-rata penduduk yang masih relatif muda membuat negara ini memiliki potensi besar dalam hal pasokan tenaga kerja.

“Meski ada pemogokan buruh dan isu perundangan buruh yang harus diselesaikan, standar upah di Indonesia masih cenderung lebih rendah dibandingkan dengan Tiongkok, misalnya,” ujar Aninda Mitra, kepala ekonom untuk Asia Tenggara pada ANZ Bank di Singapura.

"Selain itu, banyak dari investasi akan melayani permintaan lokal. Indonesia dilihat sebagai ekonomi yang cukup besar dengan kelas menengah yang tumbuh dan ada potensi besar dalam sektor manufaktur untuk memenuhi tuntutan ini.”

Investasi besar yang baru-baru ini diumumkan termasuk rencana pabrik baja POSCO dari Korea Selatan untuk menaikkan investasinya di Indonesia dalam lima tahun ke depan menjadi hampir dua kali lipat, dari $6 miliar saat ini menjadi $11 miliar.

Foxconn Technology Group, pemasok utama Apple Inc , akan berinvestasi sebesar $10 miliar di Indonesia dalam lima sampai 10 tahun ke depan, menurut pemerintah.
Lebih dari 50 persen produk domestik bruto di Indonesia adalah untuk konsumsi domestik, didukung oleh pertumbuhan kelas menengah dan suku bunga rendah.

Ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 6,1-6,5 persen pada 2012, salah satu yang tercepat di Asia setelah Tiongkok dan India. (Reuters/Adriana Nina Kusuma dan Rieka Rahadiana)
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook