Senin, 30 Mei 2016 Waktu: 02:11

    Berita / Indonesia

    Indonesia Luncurkan Laboratorium Uji Doping Pertama

    Indonesia meluncurkan laboratorium pengujian doping pertama yang berada di Institut Teknologi Bandung (ITB).

    Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Roy Suryo memberikan sambutan pada peresmian laboratorium uji doping di Institut Teknologi Bandung (ITB). (VOA/R. Teja Wulan)
    Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Roy Suryo memberikan sambutan pada peresmian laboratorium uji doping di Institut Teknologi Bandung (ITB). (VOA/R. Teja Wulan)
    R. Teja Wulan
    Institut Teknologi Bandung (ITB) meluncurkan laboratorium uji doping yang pertama di Indonesia dan akan segera mengajukan sertifikasi internasional, untuk masuk ke dalam jajaran laboratorium berstandar internasional untuk pengujian penggunaan doping di dunia yang saat ini berjumlah 34.

    Dalam peresmian laboratorium tersebut baru-baru ini, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Roy Suryo mengatakan laboratorium tersebut diharapkan bisa menguji lebih dari 3.000 sampel.

    “Doping itu memang harus diiringi dengan kemajuan teknologi, karena yang namanya sports science, yang namanya pengetahuan dalam bidang olahraga itu berkembang. Ada zat yang bisa dikategorikan doping, tapi dulu tidak,” ujarnya.

    Sementara itu, Rektor ITB Akhmaloka mengatakan ITB akan mengajukan permohonan rekomendasi ke World Anti-Doping Agency (WADA) di Jepang pertengahan tahun ini, untuk mendapatkan akreditasi internasional

    Tanpa akreditasi dari WADA, laboratorium tersebut tidak bisa menjadi labotarorium doping, melainkan hanya menjadi laboratorium kimia atau farmasi biasa, ujarnya. Akhmaloka menambahkan, sumber daya manusia yang nantinya akan mengelola laboratorium uji doping di ITB cukup banyak. Mereka terdiri dari para guru besar dan para doktor dari jurusan farmasi, kimia, teknik kimia, fisika, teknik lingkungan, dan para ahli lainnya yang terkait dalam bidang uji doping, ujarnya.

    “SDM-nya tidak masalah, kalau SDM-nya itu karena banyak guru besar, doktor-doktor yang memang ahli untuk bidang-bidang seperti itu (pengujian doping),” ujar Akhmaloka.

    Laboratorium uji doping di ITB dibangun dengan target dapat digunakan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat.

    Peralatan yang dimiliki laboratorium ini diakui belum lengkap, karena peralatan khusus untuk menguji sampel doping tersebut tergolong mahal. Total rencana anggaran biaya termasuk biaya operasional laboratorium dan pelatihan mencapai Rp 136 miliar. Seluruh kebutuhan biaya itu akan dicairkan bertahap hingga 2016 mendatang.

    Sebelumnya, Indonesia mengandalkan laboratorium di Malaysia atau Jepang untuk tes doping. Pengujian di kedua negara tersebut biayanya rata-rata sekitar Rp 2,9 juta Rupiah per sampel, dengan waktu pengujian selama satu minggu.

    Lihat Juga

    Keluarga Sopir Taksi Pakistan yang Tewas Gugat Pejabat AS

    Keluarga seorang sopir taksi, yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak Amerika pekan lalu terhadap pemimpin Taliban Afghanistan, telah dengan resmi mengadukan para pejabat Amerika yang tidak disebut namanya kepada kepolisian. Selengkapnya

    Pasukan Keamanan Irak Kepung Fallujah

    Fallujah, satu basis Sunni, telah dikuasai ISIS lebih lama daripada kota lain di Irak, dan laskarnya diyakini telah sangat bercokol kuat di kota tersebut. Selengkapnya

    WHO: Afrika Barat Lebih Mampu Tanggulangi Wabah Masa Depan

    Ebola telah membunuh lebih dari 11 ribu orang dalam 3 negara Afrika Barat yang paling berat dilanda wabah itu sebelum waktunya WHO menyatakan penularan virus Ebola sudah berakhir menjelang akhir tahun lalu. Selengkapnya

    Forum ini telah ditutup.
    Komentar-komentar
         
    Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

    Ikuti Kami