Rabu, 16 April 2014 Waktu UTC: 10:11

Berita / Indonesia

Shabu-shabu Ancaman Terbesar Narkoba di Indonesia

Penggunaan obat metamfetamin kristal atau shabu-shabu semakin meningkat di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir dan Indonesia kini menjadi laboratorium dan pemasok utama.

Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan narkoba hasil sitaan (VOA/Andylala Waluyo).
Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan narkoba hasil sitaan (VOA/Andylala Waluyo).
UKURAN HURUF - +
Kate Lamb
— Pekan ini, laporan gabungan dari Badan Narkotika Nasional dan Kantor PBB urusan Obat-obatan Terlarang dan Kejahatan menunjukkan bahwa meth kristal kini merupakan ancaman obat-obatan terlarang terbesar yang dihadapi Indonesia.
Dikenal di Indonesia dengan istilah "shabu shabu," penggunaan metamfetamin kristal kian berkembang pesat.

Pada tahun 2011, Indonesia mengonsumsi sekitar 12,5 metrik ton narkotika yang kuat dan sangat adiktif itu. Menurut laporan PBB, penyitaan meth kristal naik 79 persen pada tahun yang sama.

Ade Auliaerwin, seorang petugas Kantor PBB urusan Obat-obatan Terlarang dan Kejahatan di Jakarta mengatakan penggunaan meth kristal naik karena dua alasan sederhana - yaitu murah dan mudah diproduksi.

"Untuk membuat metamfetamin, yang umumnya dikenal dengan istilah shabu di Indonesia, sangat mudah. Kita bisa mendapatkan informasinya di internet dan tidak memerlukan peralatan khusus untuk memproduksinya, karena itulah ada banyak produksi yang dilakukan di rumah,” kata Ade.

Dari seluruh pengguna narkoba di Indonesia pada tahun 2011, satu dari tiga, atau sekitar 1,2 juta orang, menggunakan shabu.

Indonesia biasanya merupakan negara tujuan perdagangan narkoba seperti meth kristal, heroin dan ekstasi. Tapi kini Indonesia menjadi pusat laboratorium meth kristal dan pemasok utama ekstasi ke negara-negara Asia Tenggara.

Tidak hanya di pusat-pusat perkotaan, laporan tersebut juga mendapati bahwa shabu shabu juga digunakan secara luas di seluruh nusantara dan paling banyak di pulau Kalimantan dan Sumatera.

Laporan ini memperingatkan bahwa – dengan besarnya keuntungan dan pasar meth yang semakin luas - Indonesia akan terus menarik perhatian sindikat narkoba internasional.

Ade Auliaerwin mengatakan itu adalah realitas yang mungkin belum siap dihadapi oleh pemerintah Indonesia.

Para pengguna zat-zat sejenis amfetamine, atau ATS, katanya, belum ditargetkan secara khusus oleh pemerintah.

"Dalam hal penyediaan terapi obat-obatan yang membuat ketergantungan, saya pikir perhatian pemerintah Indonesia adalah pada penyediaan pengobatan bagi pengguna heroin dan bukannya pengguna ATS. Sebagian besar cara pengobatan dan kapasitas staf disiapkan untuk memberikan pengobatan bagi para pecandu heroin, bukan ATS,” ungkap Ade.

Ganja tetap merupakan obat-obatan terlarang yang paling banyak digunakan di Indonesia, namun penggunaan meth kini semakin banyak. Estimasi nilai meth kristal yang digunakan oleh pengguna narkoba di pasar Indonesia diperkirakan mencapai 1 miliar dolar per tahun.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook