Jumat, 31 Oktober 2014 Waktu UTC: 19:16

Berita / Dunia / Asia Pasifik

India Alami Lonjakan Belanja Online

India mengalami lonjakan pertumbuhan belanja daring atau online karena semakin banyak penduduk yang merasa nyaman menghabiskan uang di Internet.

Para pekerja di pusat outsourcing atau alih daya di Bangalore, India. (Foto: Dok)
Para pekerja di pusat outsourcing atau alih daya di Bangalore, India. (Foto: Dok)
Anjana Pasricha
Total pasar perdagangan di Internet, disebut juga e-commerce, melesat sekitar 400 persen dalam lima tahun terakhir. Industri ritel India pun cepat tanggap terhadap tuntutan dari populasi anak muda yang semakin makmur dan melek teknologi di negara itu.

Untuk belanja kosmetik, perhiasan, tas tangan atau jam tangan, Shweta Andrews yang berusia 30 tahun tidak lagi mengunjungi toko atau mal. Jadwal kerjanya yang padat membuatnya lebih mudah menjelajahi situs-situs belanja daring yang bermunculan pada tahun-tahun terakhir.

"Saya sangat menyukainya," ujarnya. Kapan saja, hanya perlu 15 menit, dan jika ada yang ingin dibeli, tinggal pergi ke situs-situs tertentu. Sangat hebat. Lebih baik daripada pergi [ke toko] karena saya bisa melakukannya tiap hari."

Perdagangan daring masih merupakan fraksi kecil dari pasar ritel India yang bernilai US$500 miliar. Tapi penjualan meningkat pesat karena anak-anak muda, yang menghabiskan lebih banyak waktu di Internet, menyadi nyaman dengan transaksi daring.

India saat ini memiliki sekitar 20 juta pembelanja daring yang aktif, kebanyakan mencari pakaian, aksesoris, alas kaki, barang elektronik dan produk kecantikan. Sebagian ebsar dari pelanggan-pelanggan ini tinggal di kota-kota besar.

Mereka ditarik oleh perusahaan-perusahaan seperti Snapdeal.com.

Kunal Bahl, salah satu pendiri Snapdeal.com, berdiri tiga tahun lalu setelah banyak konsumen yang mengatakan ingin membeli kupon dan kartu diskon yang ia jual lewat toko-toko di web. Saat ini, situs daring miliknya itu telah berkembang menjadi toko dengan beragam produk ritel.

"Kita langsung melihat aksi," ujarnya. "Apa yang kita pikir akan dicapai penjualan dalam tiga bulan, ternyata terjadi hanya dalam satu minggu, pada minggu pertama. Hal tersebut memberi kita keyakinan bahwa untuk wiraswasta yang masih hijau di dunia maya, sepertinya situasi kami lumayah. Jadi ini jelas bukan karena upaya kami, tapi karena ada tuntutan dalam pasar."

Bahl berharap dapat mencapai penjualan $1 miliar pada 2015.

Dapat Keuntungan

Namun, pertumbuhan penjualan tidak menyelesaikan persoalan yang dihadapi peritel daring. Meski jumlah transaksi meningkat setiap hari, perusahaan-perusahaan masih sulit mendapatkan keuntungan.

Shabori Das dari perusahaan riset pasar, Euromonitor, mengatakan bahwa sebagian besar perusahaan ritel daring menarik pelanggan dengan menawarkan diskon besar, pengantaran gratis dan pilihan untuk membayar tunai saat barang diantar. Ia mengatakan hal itu melukai marjin keuntungan mereka.

"Jika Anda bandingkan biaya rata-rata akuisisi pelanggan, itu sangat tinggi dibandingkan dengan rata-rata barang yang dijual melalui sebuah situs," ujar Das.

"Saat Anda mendapat pelanggan, Anda harus memasukkan biaya barang, biaya pengiriman, biaya pengemasan dan dalam banyak kasus ketika Anda memungkinkan pembayaran saat pengantaran, Anda pada dasarnya menyediakan produk tersebut dengan kredit. Jadi semua pengeluaran ini menumpuk."

Meski demikian, pasar barang ritel yang diperkirakan tumbuh 17 persen setiap tahun ini mendorong lebih banyak lagi pengusaha yang merambah bisnis ini. Mereka mengatakan kurangnya infrastruktur di kota-kota India akan mendorong lebih banyak orang untuk berbelanja di Internet pada tahun-tahun mendatang. Banyak kota-kota yang lebih kecil kurang memiliki supermarket atau tempat perbelanjaan. Di kota-kota yang lebih besar, kemacetan dan kesulitan mencari tempat parkir terkadang membuat orang malas keluar rumah.

Kisah Sukses

Rahul Jagtiani, yang keluarganya bergerak dalam usaha desain interior, melawan keraguan banyak pihak dengan mendirikan plushplaza.com, yang menjual barang dekorasi rumah dan hadiah.

"Pada saat itu semua merasa hal ini tidak akan berjalan, ada hubungan emosional, faktor sentuhan dan rasa yang tidak ada di toko seperti ini. Namun saya merasa jika produk-produk ditampilkan dengan baik, dan fotografinya bagus serta integritasnya baik, kita dapat menjembatani celah itu, dan sejauh ini hasilnya bagus," ujar Jagtiani.

Bisnis ini berjalan baik karena ada pelanggan seperti Shweta Andrews, yang mengatakan bahwa pembelanjaan daring merupakan cara yang bagus. 

"Di toko-toko daring, Anda selalu mendapatkan diskon. Tidak peduli musim apa, stok baru atau apapun, selalu ada diskon. Itu keuntungannya. Anda menghemat waktu dan menghemat uang," ujar Andrews.

Duapertiga dari penduduk India yang mencapai 1,2 miliar orang berusia di bawah 35 tahun. Firma-firma riset pasar mengatakan segmen itulah yang mengalami peningkatan pendapatan dan aspirasi, dan diperkirakan akan mendorong pertumbuhan pasar e-commerce secara keseluruhan dari $10 miliar saat ini menjadi $70 miliar pada 2020.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

 

 

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook