Rabu, 23 April 2014 Waktu UTC: 22:09

Berita / Indonesia

Greenpeace: Beberapa Merek Pakaian Ternama Gunakan Bahan Kimia Berbahaya

Laporan terbaru Organisasi Lingkungan Greenpeace menyatakan sejumlah merek pakaian ternama menjual produk yang terkontaminasi dengan bahan kimia berbahaya.

Salah satu gerai Marks & Spencer di pusat perbelanjaan mewah di Jakarta (Foto: dok). Laporan terbaru organisasi lingkungan 'Greenpeace' mengungkap temuan adanya produk yang terkontaminasi bahan kimia berbahaya dalam sejumlah merek pakaian ternama, termasuk Marks and Spencer.
Salah satu gerai Marks & Spencer di pusat perbelanjaan mewah di Jakarta (Foto: dok). Laporan terbaru organisasi lingkungan 'Greenpeace' mengungkap temuan adanya produk yang terkontaminasi bahan kimia berbahaya dalam sejumlah merek pakaian ternama, termasuk Marks and Spencer.
UKURAN HURUF - +
Fatiyah Wardah
— Investigasi Greenpeace menemukan adanya bahan kimia berbahaya dalam 20 merek pakaian terkemuka diantaranya Zara, Materbonwe, Levi’s, Manggo, Calvin Klein, Jack and Jones , Esprit, Gap , Armani dan Marks and Spencer. 

Organisasi Lingkungan Greenpeace telah melakukan tes terhadap 141 buah pakaian merek-merek tersebut yang dibeli di toko-toko resmi di bulan April 2012 di 27 negara di seluruh dunia termasuk Indonesia. Bahan kimia yang ditemukan dalam pakaian tersebut adalah NPEs (Nonylphenol Ethoxylates), toksik phtaler dan amina.

Menurut label yang tertera pada produk,  pakaian-pakaian tersebut diproduksi sedikitnya di 18 negara yang berbeda, kebanyakan di wilayah Asia. Namun sebanyak 25 item tidak dapat diidentifikasi asal negara pembuatnya.

Juru Kampanye Air Bebas Racun Greenpeace Indonesia, Ahmad Ashov di kantornya mengatakan ada lima sampel pakaian merek ternama itu yang dibeli di Indonesia, empat sampel diantaranya atau sebanyak 80 persen teridentifikasi mengandung NPEs.

Merek-merek yang dijual di Indonesia yang teridentifikasi mengandung NPES yaitu Calvin Klein, Esprit, GAP, Levi’s serta Mark and Spencer.

Ashov menambahkan dari delapan sampel yang pembuatannya berasal dari Indonesia, enam sampel diantaranya teridentifikasi bahan kimia yang sama. Merek yang diproduksi di Indonesia dan teridentifikasi mengandung NPEs yaitu Armani, Esprit, GAP, Manggo, Mark and Spencer.

"Kandungan bahan kimian dalam pakaian tidak berarti berbahaya bagi si pemakai tetapi dia memberikan bahaya tidak langsung. Pada saat itu dicuci, bahan kimia itu terlepas ke badan-badan air. Misalnya NPEs terdegradasi menjadi Nonylphenol, racun yang lebih berbahaya. Toksik phtaler dan amina juga sama seperti itu, apabila terlepas dia bisa menyebabkan akumulasi dan bisa sampai kepada rantai makanan," ungkap Ahmad Ashov

Menurut Ashov, temuan kandungan bahan kimia dalam pakaian tersebut merupakan suatu indikator kuat bahwa bahan itu digunakan dalam proses produksi. Yang artinya sangat besar kemungkinan kandungan kimia itu dilepaskan ke perairan di sejumlah negara termasuk Indonesia.

Pada tahun 2011, Indonesia menempati peringkat ke-9 dunia dalam industri garmen dan menempati peringkat ke 11 dunia dalam industri tekstil. Lokasi Industri Tekstil dan produk tekstil terkonsentrasi di Jawa Barat (57 persen), Jawa Tengah (14persen) dan Jakarta (17 persen). Sisanya tersebar di Jawa Timur, Bali, Sumatera dan Yogjakarta.

Greenpeace meminta kepada pengusaha pakaian merek terkenal itu untuk berkomitmen tehadap Nol Pembuangan bahan-bahan kimia beracun dan berbahaya.

Organisasi Lingkungan itu juga menyerukan kepada pemerintah untuk mengadopsi komitmen politik untuk Nol Pembuangan semua bahan-bahan kimia  berbahaya berdasarkan prinsip kehati-hatian dan juga mencakup pendekatan pencegahan. Juru Kampanye Air Bebas Racun Greenpeace Indonesia, Ahmad Ashov

"Di daerah hulu sungai Citarum dari mulai Majalaya hingga Bendungan Saguling itu 80 persennya tekstil. Masyarakat menggunakan air yang terkontaminasi oleh industri karena mereka tidak ada pilihan lain. Jadi yang terjadi mereka menggunakan itu untuk mandi, mencuci dan masak," kata Ahmad Ashov:

Sementara itu Kepala Biro Humas Kementerian Perindustrian Hartono mengatakan selama ini pengawasan dari sisi produksi sudah sangat ketat.

"Harus diuji lab karena pengawasan kita dari sisi produksi, produksi itu kan telah aman dari segala itu karena tidak mungkin zona-zona pasar apalagi yang begitu pesat persaingannya ga mungkin gegabah. Temuan itu percisnya harus diuji ulang," kata Hartono.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook