Sabtu, 18 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 16:46

Berita / Politik

Film '40 Years of Silence', Sisi Lain Tragedi PKI

Menjelang dikeluarkannya laporan pelanggaran HAM tahun 1965 oleh KOMNAS HAM di Jakarta, sebuah film dokumenter yang mengisahkan tragedi pembunuhan ratusan ribu orang yang disangka terkait gerakan PKI, diputar di Washington.

Poster film '40 Years in Silence: An Indonesian Tragedy', sebuah film dokumenter yang mengisahkan tragedi pembunuhan massal pada massa G30S PKI tahun 1965.
Poster film '40 Years in Silence: An Indonesian Tragedy', sebuah film dokumenter yang mengisahkan tragedi pembunuhan massal pada massa G30S PKI tahun 1965.
UKURAN HURUF - +
Eva Mazrieva
Puluhan orang memadati bioskop West End Cinema di Washington DC Senin malam, menyimak pemutaran film dokumenter “40 Years of Silence : An Indonesian Tragedy”. 

Berbeda dengan film dokumenter resmi “Pengkhianatan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia” atau disingkat “Pengkhianatan G-30S-PKI” yang semasa Presiden Soeharto berkuasa selalu diputar setiap tanggal 30 September oleh seluruh stasiun televisi nasional, film “40 Years of Silence: An Indonesian Tragedy”  mengangkat tragedi pembantaian itu dari empat sudut berbeda.  

Keempatnya berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda,  yaitu keluarga pengusaha Tionghoa,  keluarga petani beragama Katholik dan Islam,  anak pemimpin partai pro PKI di Bali dan seorang anak yang lahir pada era tahun 1990an tapi ikut menjadi korban.
 
Robert Lemelson – antropolog lulusan Universitas California menggarap film “40 Years of Silence: An Indonesian Tragedy” ini sejak tahun 2002.  Ia telah mewawancarai ribuan orang yang terkena stigmatisasi, intimidasi dan perlakuan sewenang-wenang karena dinilai terlibat gerakan komunisme atau pro-kiri.  Banyak di antara korban ini bahkan anak-anak berusia 15-20 tahun yang sama sekali belum dilahirkan ketika tragedi itu terjadi, tetapi harus memikul dampaknya.
 
Empat puluh tujuh tahun setelah tragedi itu terjadi, berbagai pelanggaran HAM terhadap keluarga dan kerabat dari mereka-mereka yang dianggap terlibat gerakan komunisme atau pro-gerakan kiri masih terus terjadi.  Seperti keterbatasan untuk bersekolah dan bekerja karena stigmatisasi yang dilekatkan pada mereka, pemberian tanda tertentu pada kartu tanda penduduk atau keharusan mengisi formulir tertentu untuk memastikan mereka “bersih lingkungan” – satu istilah yang digunakan untuk menunjukkan ada tidaknya hubungan dengan komunisme atau Partai Komunis Indonesia.
 
Karena itu menurut Dr. Gadis Arivia – aktivis dan pendiri Yayasan Jurnal Perempuan – yang ikut menghadiri pemutaran film dan diskusi mengatakan di sinilah letak pentingnya film-film seperti ini. Tidak saja mengingatkan masyarakat Indonesia akan masa kelam dalam sejarah pergolakan politik negara, tetapi juga versi lain suatu peristiwa.
 
“Saya kira penting agar orang tidak lupa akan apa yang terjadi pada masa itu.  Apalagi selama ini kita melihat film dari versi pemerintah,  atau kalau pun ada versi lain – tidak selengkap film ini,  yang mengangkat kisah empat keluarga dengan latar belakang yang sama sekali berbeda: Tionghoa, Kristen-Islam, Hindu-Bali dan anak muda yang tidak tahu menahu tapi tetap jadi korban karena ayahnya eks-tahanan politik.  Saya menghargai Robert Lemelson yang melakukan riset dan mendokumentasikan semua kesaksian-kesaksian itu,” papar Gadis Arivia.
 
Ditemui seusai pemutaran film tersebut, Robert Lemelson menyatakan bahwa ia hanya ingin mengajak penonton melihat sisi lain tragedi 1965 itu.  Terlebih karena saat ini muncul desakan dari masyarakat Indonesia agar KOMNAS HAM menyelidiki berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada tahun 1965 yang menewaskan antara 500 ribu hingga satu juta orang, maupun stigmatisasi pada seseorang atau sekelompok orang karena afiliasi, kepentingan politik atau pengaruh kelompok yang berbau SARA hingga saat ini.
 
KOMNAS HAM pada tanggal 4-5 Juni 2012  menyelenggarakan rapat paripurna untuk membahas hasil penyelidikan tersebut, namun menurut rencana baru akan dikeluarkan pada bulan Juli 2012.
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: egy dari: malang
04.07.2012 23:39
harus diusut tuntas karena banyak nyawa dikorbankan dengan alasan yang tidak jelas,,agar generasi mudah tahu sejarah yang sebenarnya,,jangan suka membuat sejarah yang palsu


oleh: Jojo dari: Jakarta
14.06.2012 07:46
Ditunggu film tentang pembantaian Vietnam, Afganisthan, Iraq dan suku Indian..

 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Backstreet Boys dan Dakota Fanning - VOA Pop News

Backstreet Boys mendapat anugerah Hall of Fame di Hollywood. Debbie Sumual-Patlis menghantarkan liputannya untuk Anda di VOA Pop News kali ini. Simak juga kabar tentang Dakota Fannig dalam masa transisinya dari artis cilik menjadi artis dewasa. Siapa artis yang akan dibahas di Hollywood Highlights kali ini? Klik video ini untuk temukan jawabannya.
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Kapal layar-kapal layar balap Pen Duick berlayar di pantai Saint-Quay-Portrieux, Perancis Barat dalam perjalanan dari Roscoff ke Saint-Quay-Portrieux.
  • Delegasi dari Movement for Democratic Change (MDC) termasuk Wakil Presiden Thokosani Khupe (kanan) menari saat upacara pembukaan resmi konfrensi MDC yang akan berkangsung tiga hari di Harare.
  • Dua warga Bangladesh melalui tanda bendera merah peringatan datangnya badai tropis Mahasen di pantai Teluk Benggala di Chittagong, Bangladesh,16 Mei 2013.
  • Pengunjung terlihat melalui instalasi "Resin" dalam pameran  "Kapoor di Berlin" di museum Martin Gropius Bau di Berlin pada tanggal 17 Mei 2013.
  • Para peziarah menunggang kuda-kuda mereka melintasi Sungai Quema dalam perjalanan mereka menuju El Rocio di pedesaan Almonte Provinsi Huelva, Spanyol,16 Mei 2013.
  • Seorang laki-laki Afghanistan mengarahkan anak-anaknya menjauh dari lokasi dimana seseorang telah melakukan serangan bom mobil bunuh diri atas konvoi NATO di Kabul, Afghanistan, 16 Mei 2013.
  • Para peraga busana menampilkan kreasi karya perancang busana Indonesia, Dian Pelangi, dalam acara Festival Busana dan Makanan Jakarta, di Jakarta, Indonesia.
  • Seorang anak mengamati ubur-ubur berenang di dalam sebuah tangki besar di Aquarium Vancouver, British Columbia,16 Mei 2013.
  • Seorang perempuan Korea menuangkan air suci ke sebuah patung Budha kecil untuk memperingati hari kelahiran Budha di Kuil Jogye di Seoul Korea.
  • Gabungan gambar sebuah galaksi memperlihatkan bagaimana tingkat gaya tarik yang terus menerus dari sebuah lubang hitam yang sangat besar bisa dikendalikan untuk menghasilkan daya yang sangat besar (foto: NASA).
  • Seorang pemuda Pakistan tampak mengejar kudanya seiring dengan terbenamnya matahari di pinggiran kota Islamabad, Pakistan.
  • Pemain bisbol dari klub New York Mets, Jordany Valdespin, meluncurkan tubuhnya menyentuh home plate untuk membuat skor dalam  RBI ganda oleh Daniel Murphy selama inning ketiga permainan bisbol melawan St Louis Cardinals di St Louis, 16 Mei 2013.
Lainnya