Selasa, 21 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 07:01

Berita / Politik

Filipina akan Ajukan Sengketa Laut Cina Selatan ke Pengadilan Arbitrasi PBB

Namun, Tiongkok diperkirakan akan mengabaikan keputusan Filipina mengajukan sengketa wilayah ke pengadilan internasional, dan Beijing bersitegas akan menyelesaikan sengketa maritim tanpa keterlibatan pihak ketiga.

Menlu Albert del Rosario mengatakan, pemerintah Filipina akan mengajukan isu sengketa Laut Cina Selatan ke pengadilan arbitrasi yang berada di bawah Konvensi PBB mengenai Hukum Laut (foto: dok).
Menlu Albert del Rosario mengatakan, pemerintah Filipina akan mengajukan isu sengketa Laut Cina Selatan ke pengadilan arbitrasi yang berada di bawah Konvensi PBB mengenai Hukum Laut (foto: dok).
UKURAN HURUF - +
Menteri Luar Negeri Filipina Albert del Rosario hari Selasa mengatakan, pemerintahnya akan mengajukan isu itu ke pengadilan arbitrasi yang berada di bawah Konvensi PBB mengenai Hukum Laut (UNCLOS), yang diratifikasi kedua negara.
 
Filipina menginginkan panel itu menolak klaim Tiongkok atas hampir seluruh wilayah Laut Cina Selatan. Filipina juga mempertanyakan apa yang disebutnya kegiatan illegal Tiongkok di sekitar wilayah terumbu karang dan bebatuan yang katanya merupakan bagian zona ekonomi eksklusif Filipina berdasarkan Konvensi PBB itu.
 
Kebanyakan pengamat mengatakan Tiongkok dipastikan tidak akan setuju untuk ikut dalam panel itu, mempertahankan kebijakan yang telah lama dianutnya, yaitu menyelesaikan sengketa wilayah melalui perundingan bilateral.
 
Carl Thayer dari Universitas New South Wales di Australia mengatakan kepada VOA, perkara itu mungkin bisa disidangkan tanpa keikutsertaan Tiongkok. Ia mengatakan Filipina berharap keputusan yang menguntungkan akan memberikan negara itu kemenangan moral.
 
“Kasus ini bukan hanya punya sisi hukum , tetapi juga imbauan moral yang kuat. Jika pengadilan memenangkan Filipina, keputusan itu akan membatalkan klaim Tiongkok dan memberikan kewenangan yang lebih besar dan dukungan internasional kepada Filipina.”
 
Namun, Thayer mengatakan, keputusan pengadilan itu, meski secara teknis “mengikat,” bisa dengan mudah diabaikan Tiongkok, karena tidak ada mekanisme untuk menjalankan keputusan apa pun.
 
Sam Bateman, pakar keamanan maritim, mengakui penolakan Tiongkok  ikut dalam peradilan itu “mungkin bukan publikasi yang baik.” Namun, ia mengatakan kepada VOA, itu mungkin yang memang diinginkan pemerintah Filipina.
 
“Dalam banyak hal saya melihatnya sebagai isyarat yang berani oleh Filipina, dan berharap Tiongkok akan menanggapinya secara negatif, kata Bateman, cendikiawan pada S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura, yang menggambarkan tindakan itu sebagai “usaha Filipina untuk terlihat menonjol.”
 
“Jika Tiongkok memilih untuk tidak ikut dalam pengadilan itu, keputusan ini akan memunculkan kecaman internasional, contoh lain keangkuhan Tiongkok dan kurangnya kesiapan untuk bertindak dan hal-hal terkait lainnya.”
 
Namun, Bateman mengatakan semua negara, termasuk Tiongkok, punya hak berdasarkan UNCLOS untuk tidak ikut dalam arbitrase yang melibatkan keputusan-keputusan yang mengikat mengenai isu-isu terkait perbatasan maritim dan sengketa kedaulatan wilayah (VOA/William Gallo).
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Respon AS terhadap Konflik Rohingya - Liputan Berita VOA 21 Mei 2013

Seperti di tanah air, aksi kekerasan terhadap Muslim Rohingya juga mendapat perhatian dari pemerintah maupun sebagian rakyat Amerika Serikat. Presiden Barack Obama meminta pemerintah Burma yang juga dikenal sebagai Myanmar serius merespon serangan dan relokasi paksa warga Rohingya. Amerika berharap berbagai konflik etnis di negara yang baru berdemokrasi tersebut bisa segera diatasi. Selengkapnya dilaporkan Nova Poerwadi dan tim VOA dari Washington, D.C
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang wanita mempersiapkan upacara tradisional Gwan-Rye di Seoul, Korea Selatan. Upacara ini diadakan bagi anak laki-laki dan perempuan yang menginjak usia 20 tahun, sebagai individu yang independen.
  • Sebuah balon udara jatuh ke tanah setelah bertabrakan dengan yang lain selama perjalanan di Cappadocia, Turki. Dua wisatawan Brazil tewas dan 23 orang lainnya terluka akibat tabrakan dua balon udara tersebut.
  • Perempuan dan anak-anak antri untuk mengambil air dari keran di sebuah kamp bagi para pengungsi di kota al-Mazraq, provinsi Hajja, Yaman barat laut.
  • Badai tornado (puting beliung) hampir menyentuh tanah di dekat South Haven, di negara bagian Kansas, AS.
  • Para fotografer bekerja selama sesi pemotretan untuk film "Blood Ties" di Festival Film Cannes ke-66 di Cannes, Prancis.
  • Seorang wanita mengenakan gaun dari bunga segar yang dirancang oleh desainer Zita Elze, berpose untuk difoto di sebuah taman pada pameran bunga Chelsea, di London, Inggris.
  • Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (tengah) dan isterinya Ri Sol-ju saat berkunjung ke kamp anak-anak 'Pyongyang Myohyangsan' yang terletak di kaki Gunung Myohyang di Provinsi Phyongan Utara (foto courtesy: KCNA).
  • Pekerja mendorong sebuah rakit bambu besar, sementara yang lain mencoba membongkar bagian-bagian rakit bambu itu di Sittwe, negara bagian Rakhine, Burma.
  • Para pebalap sepeda naik tanjakan dalam etape ke-15 sepanjang 146 km, lomba balap sepeda Giro d'Italia di perbatasan Italia-Perancis.
  • Para anggota kelompok Castellers "Vila de Gracia" mulai membentuk menara manusia yang disebut "castell" di lingkungan Barcelona Gracia, di Catalonia, Spanyol.
Lainnya